Tag

, , , , ,

Bandung Mawardi

Siapa kolektor buku pendidikan lawas terlengkap di Indonesia? Aku pastikan di pelbagai perpustakaan universitas, daerah, sekolah, lembaga tak memiliki koleksi lengkap buku pendidikan berbahasa “Melajoe” dan Indonesia, dari awal abad XX sampai sekarang. Sejak dulu, aku berambisi menjadi pembaca dan kolektor buku-buku pendidikan. Aku ingin menjadikan ratusan buku sebagai referensi mengerti kesejarahan pendidikan di Indonesia. Aku tak ingin mengerti pendidikan dari keterangan-keterangan sang menteri, sang presiden, pengamat pendidikan, profesor jika berbekal fakta-fakta mutakhir.

Aku malah berharapan bisa mendirikan Perpustakaan Pendidikan Indonesia demi mengawetkan jejak-jejak pendidikan dan menentukan masa depan Indonesia. Wah, ungkapan masa depan Indonesia mirip dengan misi pemerintah! Perpustakaan dengan ribuan koleksi buku, majalah, dokumen bakal menjadi sumber pengetahuan tentang pelbagai hal berkonteks pendidikan. Aku masih ingat, koleksi buku pendidikan jarang aku dapatkan saat bersekolah di SMP dan SMA. Di perpustakaan universitas dan daerah, buku-buku pendidikan berjumlah sedikit. Buku pendidikan tak penting. Oh! Aku pun jemu jika berkunjung ke toko buku. Deretan buku-buku pendidikan terbaru tak memikat mata dan merangsang untuk dibaca. Aneh!

Pendidikan 1

Aku memilih membaca buku berjudul Pengantar Didalam Praktik Pengadjaran dan Pendidikan 5 (Pradnjaparamita, 1964) susunan Crijn dan Rekosiswojo. Koleksiku tercantum keterangan cetakan ke-3. Tebal buku: 116 halaman. Aku haru melengkapi seri 1, 2, 3, 4. Seri 1 berisi soal-soal umum mengenai sekolah, guru, pelajaran. Seri 2 berisi metodik beberapa mata pelajaran. Seri 3 berisi ilmu jiwa umum. Seri 4 berisi soal-soal pokok tentang wujud dan tujuan pendidikan, pembentukan kemauan dan budi pekerti sehubungan dengan Pancasila. Kapan 5 seri berkumpul di rumahku?

Crijn dan Reksosiswojo menerangkan bahwa seri 5 berisi pendidikan kesusilaan dan budi pekerti bersandarkan Pancasila. Di halaman kata pengantar ada pesan: “Setiap tjalon guru perlu mengetahui soal-soal mendidik kepada kebenaran, memerangi tabi’at dengki, keras kepala, malas, dan sebagainja.” Buku Pengantar Didalam Praktik Pengadjaran dan Pendidikan diharapkan menjadi bakal pengajaran dan pendidikan susila-Pancasila. Selama sekolah dan kuliah, aku tak memiliki greget belajar Pancasila. Sejak 2008, aku justru gandrung mempelajari Pancasila tapi berkonteks situasi Indonesia masa 1940-an sampai 1980-an. Aku pun ingin mengadakan Pameran Buku Pancasila di Bilik Literasi. Kapan? Oh, aku belum menentukan jadwal.

Pendidikan 2

Propaganda pendidikan bersendikan Pancasila: “Nah, untuk djaman kita sekarang dan untuk negara baru, Indonesia Merdeka jang berdaulat, maka tjita-tjita pendidikan itu berurat dan berakar pada Pantjasila. Beralaskan kelima sendi Pantjasla itulah tjita-tjita pendidikan kita harus dilaksanakan. Dalam pada itu satu hal jang harus kita ingat: Pantjasila itu hanja pondamen, hanja sendi belaka; suatu rangka umum. Didalam rangka itu pendidikan dapat bergerak leluasa, sehingga mungkin ada perbedaan-perbedaan ketjil dalam pendidikan.”

Eh, aku jadi ingin menganjurkan ke para capres agar menjadikan pendidikan susila dan Pancasila sebagai program unggulan untuk membujuk publik mau urun suara. Aku cenderung memberi anggukan kepala meski tak ingin ada penafsiran “birokratis” untuk susila dan Pancasila. Seingatku, di Republika dan Kompas, Yudi Latif sering menulis esai-esai tentang pendidikan dan Pancasila. Aku sering membaca tapi tak selalu memuji. Aku berharap bakal bisa bertemu Yudi Latif. Buku-buku lawas tentang pendidikan dan Pancasila ingin aku pinjamkan agar tulisan-tulisan Yudi Latif semakin apik. Publik sudah telanjur mengenal Yudi Latif adalah “sang penafsir” untuk Pancasila. Yudi Latif perlu membaca buku Pengantar Didalam Praktik Pengadjaran dan Pendidikan.

Pendidikan 3

Crijn dan Reksosiswojo berpetuah: “Akan tetapi ada satu tjara mengadjar jang besar sekali artinja bagi pendidikan budi pekerti, ialah bertjeritera. Patut diulang berkali-kali lagi disini, bahwa disekolah kita pada umumnja kurang sekali diambil waktu untuk bertjeritera. Sebagian guru membatasinja dikelas-kelas rendah sadja. Disitupun bertjeritera itu masih diberikan sekedar memenuhi daftar peladjaran belaka. Dikelas-kelas atasan peladjaran bertjeritera itu tidak ada lagi dan boleh dikatakan tidak diberikan lagi: tidak pada peladjaran ilmu bumi, tidak pada sedjarah, tidak pada ilmu alam dan tidak pula pada peladjaran kemasjarakatan.”

Aku pun tak perlu kaget jika guru-guru mulai tak bisa bercerita, sejak masa Orde Baru. Guru adalah pengajar-pendidik tanpa cerita. Tugas guru adalah berceramah materi pelajaran. Guru tak berpredikat juru cerita. Seingatku, aku bodoh dan mbengkaleng juga dipengaruhi katiadaan guru-guru sebagai juru cerita, sejak SD sampai kuliah. Eh, aku tak boleh menuduh dan mengejek guru. Kuwalat!

Buku lawas mengandung khasiat. Di bab X ada pembahasan materi penting berjudul “pemberantasan dusta dan pendidikan kearah mentjintai kebenaran”. Wah! Aku lekas tergoda untuk menggarap esai, menggunakan judul wagu. Ajakan untuk pemberantasan dusta perlu dalam agenda mengurusi pendidikan. Eh, aku juga perlu menggunakan untuk garapan esai-esai politik. Para capres harus bersusila dan mengamalkan Pancasila. Mereka tak boleh berlaku dengki, iri, bohong, jahat… Aku bakal menghajar mereka dengan esai-esai bermisi pemberantasan dusta. Begitu.

Iklan