Tag

, , , , , , , ,

Bandung Mawardi

Pujangga tak abadi. Puisi bisa bergerak melampaui usia pujangga. Sapardi Djoko Damono pun menua, meniti waktu menuju senja bermatahari merah lembut. Usia terpampang di matahari. Ingat usia, ingat Sapardi Djoko Damono saat masih muda. Aku mengenali melalui puisi-puisi elok di buku DukaMu Abadi, Perahu Kertas, Mata Pisau… Pujangga ampuh, berperan sebagai bocah dan nabi. Aku pun menjadi pembaca tekun, menaruh puisi-puisi Sapardi Djoko Damono dalam biografiku.

23 Mei 2014, di Bilik Literasi, sang pengarang buku cerita berjudul Surga Sungsang (2014) dolan: bercap dan mencari buku di tumpukan tak keruan dan kardus-kardus berdebu. Tangan terus bersentuhan buku. Mata tak lelah mencari judul dan gambar. Situasi memanggil dan membuktikan ingatan-ingatan atas buku. Aku cuma melihat, turut bercakap tentang sekian buku. Buku-buku idaman belum ditemukan. Aku memberi doa dan petunjuk meski tetap belum ketemu. Aku malah menemukan majalah Basis edisi Juli 1963. Aku lekas mengingat tentang keampuhan Sapardi Djoko Damono dalam menggubah balada. Puisi itu aku sampaikan pada sang pengarang asal Semarang.

Basis 1

Dulu, ada lomba “Mendjalin Tjerita Rakjat dalam Bentuk Ballada”. Sapardi ikut mengirim puisi. Menang! Dewan juri adalah Dick Hartoko, A. Brotowiratmo, Andre Hardjana. Mereka menerangkan tentang arti balada: “(1) Kewiraan tindak, jang diperkuat dengan adanja pertjakapan timbal balik… (2) Kekuatan rima jang harus mengajun setiap gerak dan tindak dalam tjeritera jang tiada djarang dihias dengan pengulangan bait ataupun sadjak; (3) Kesederhanaan bahasa sesuai dengan isi tjeritera jang disampaikan pada para pendengarnja, karena didalamnja terkandung unsur kerakjatan.” Dewan juri memutuskan para pemenang: (1) Sapardi Djoko Damono – Ballada Matinja Sang Pemberonak (2) Sjarif Suwondo –  Ballada Kek Lesap (3) C.M. Tri Soedarsi Widagdo – Ballada Roro Djonggrang. Sapardi Djoko Damono berhak mendapat uang 750 rupiah. Hore!

siapakah dia jang bermuka buruk dan terbatabata suaranja
bertolakpinggang dengan gada wesi kuning ditangannja
siapakah dia jang memuntahkan dendam dan bentji
dengan nafsu dan semangat jang mendjelma api

Menakdjingga!
telah dinjalakannja langit dengan kilat selaksa
saling berbenturan halilintar diseluruh angkasa
telah dipilinnja angin
dan mendjelma topan serta prahara
pangeran jang menjimpan asmara busuk tersia
adipati jang mengibarkan maksud-maksud dena
Menakdjingga!

Aku tak pernah menduga bahwa Sapardi Djoko Damono bisa menggubah balada. Aku terlalu mengenali dengan puisi-puisi bersahaja, berimajinasi lugu. Dulu, para pujangga pernah moncer dengan puisi-puisi balada. Aku ingat ada Rendra dan Ajip Rosidi. Orang-orang tentu paling ingat dengan balada-balada Rendra. Pengenalan menguat melalui buku puisi berjudul Balada Orang-Orang Tertjinta. Sapardi Djoko Damono saat muda bisa mempersembahkan balada, bersaing dengan Rendra. Sangar! Kesanggupan menggubah balada perlahan tak menguat dalam puisi-puisi Sapardi Djoko Damono. Aku belum mencari sebab.

Basis 2
Aku sajikan kutipan lagi bagian pertemuan antara Menakjingga dan Damarwulan. Sapardi Djoko Damono bisa merangsang imajinasi pembaca, mengacu ke pengenalan sejarah dan resepsi publik atas garapan lakon Menakjingga-Damarwulan dalam pelbagai sastra lisan dan seni pertunjukan.

berteduh satu bendera
Menakjingga jang pongah bertolak pinggang
digilakan oleh banggadiri dan nafsu jang angkuh
telah memilin angin
dan menjulut kilat diangkasa

…..

Damarwulan, duh anakmuda jang tjongkak
pulanglah dan pesanku pada Sri Ratu
kalau memang memilih pahlawan
djangan anak-ajam diutus membunuh aku!

Wah, pengecean! Terlalu! Damarwulan dianggap “anak-ajam”. Kasihan. Aku belum pernah bertemu Menakjingga dan Damarwulan. Aku sulit menggambarkan Damarwulan dan Menakjingga: tubuh, wajah, pakaian…. Siapa gagah, berwibawa, ganteng? Sapardi Djoko Damono telah memberiku sangu tentang Menakjingga dan Damrwulan, sehari sebelum aku bergerak ke Blambangan, 24 – 27 Mei 2014.

Basis 3

Di majalah Basis, aku tak cuma membaca balada gubahan Sapardi Djoko Damono. Ada sekian esai dan iklan. Dick Hartoko dalam esai berjudul Latar Belakang Prasangka Parsial menerangkan: “Rupanja dalam tahun-tahun sesudah Perang Dunia II prasangka rasial disapubersih dari permukaan bumi, bersama-sama dengan rezim Hitler dan kawan-kwannja. Dunia merasa terkedjut dan mual setelah mempersaksikan kamp-kamp konsentrasi, tempat siksaan dan kebinasaan berdjuta-djuta orang Jahudi. Sampai kesanalah kebuasan manusia dapat bergelora bila ia diburu-buru oleh prasangka rasial!” Kalimat Dick Hartoko berlebihan. Aku masih mendapat berita-berita dari pelbagai peristiwa konflik mengacu ke prasangka rasial di abad XXI. Dick Hartoko keliru saat menggunakan ungkapan “disapubersih”. Di Indonesia, prasangka rasial masih ada, bermunculan saat jelang piplres, 9 Juli 2014.

Majalah Basis mengingatkanku dengan Sapardi Djoko Damono dan Dick Hartoko. Majalah tipis, berfaedah dan acuan kenangan. Begitu.

Iklan