Tag

, , ,

Bandung Mawardi

Juni, bulan Soekarno. Juni pun miliki Joko Widodo dan Prabowo Subianto, bertarung untuk menjadi presiden. Aku memilih mengurusi Soekarno saja, berkaitan marhaenisme. Sekian hari lalu, cerpenis di Solo mengirim pesan pendek, berisi kabar bahwa Marjin Kiri bakal menerbitkan buku mengenai marhaenisme. Aku tentu berharap lekas memiliki. Berharap juga sang cerpenis membelikan dulu di Jogja, ngutangi diriku. Weh! Aku merasa perlu sinau marhaenisme, dari masa ke masa.

Kemauan sinau semakin menguat saat aku mendapat buku berjudul Kamus Marhaen (Poestaka Rakjat, Kediri, 1948) susunan D. Arnowo. Koleksiku tercantum keterangan: cetakan ketiga. Kamus Marhaen cetak pertama tahun 1933, terbit di masa pergerakan politik kebangsaan mendapat represi politik-hukum kolonial. Masa 1930-an, masa Soekarno tampil sebagai penggerak bangsa dengan seruan-seruan marhaenisme. Sangar!

Marhaen 1
Penjelasan dalam edisi pertama, 1933: “Mengingat akan hebatnja pergerakan ditanah air kita ini, maka dengan sendirinja naiklah deradjat pembatjaan kita, sehingga ta’ dapat tidak, dipakailah beberapa perkataan asing jang ta’ mudah di Indonesiakannja. Oleh karena itu, untuk menolong rakjat djelata, perlu benar kita menerbitkan kamus jang serupa ini adanja.” Aku kaget jika mengenang masa 1930-an telah terbit kamus berisi hal-hal ideologis dan politis. Kamus turut dalam pembesaran arus nasionalisme dan mewujudkan ide-imajinasi Indonesia. Pengetahuan tentang istilah-istilah asing ke dalam bahasa Indonesia adalah ikhtiar revolusioner!

Kamus Marhaen cetak ulang kedua, 1946. Kamus ada di habitat revolusi, usai proklamasi. Eh, publik tetap memerlukan kamus untuk berpolitik dan berindonesia. Cetakan kedua mengalami pelbagai perubahan dan penambahan dengan bantuan dari Roeslan Abdoelgani cs. Aku kutipkan kata pengantar cetakan kedua: “Pergerakan Indonesia tambah lama, tambah pesat djalannja. Kemauan kaum Marhaen Indonesia, untuk madju dalama perdjoangan, ta’ dapat dihalangi.” Sejarah kebangsaan Indonesia dipengaruhi kamus. Aku pun tertunduk, merenungi makna kamus agar tak bercuriga bahwa kamus cuma milik murid dan mahasiswa.

Marhaen 2
Cetakan ketiga memuat penjelasan: “Bagi Marhaen Indonesia sangat perlu memiliki kamus ini, karena sebenarnja buku ini ditjiptakan dan dikarang kala D. Arnowo mendjadi salah seorang pemimpin pergerakan kebangsaan jang berkobar-kobar, sehingga buku ini keluar dengan tebusan pendjara. Istilah jang dipakai istilah sederhana jang mudah dimengerti oleh segenap rakjat Indonesia.” Tuhan, aku merasa bodoh saat membaca Kamus Marhaen, terlambat mengerti bahwa kamus diperlukan untuk propaganda demi membentuk Indonesia. Aduh! Ikhtiar mengajar dengan kamus pun ditebus dengan penjara selama 15 bulan. Heroik!

Sekarang, aku mesti menempatkan kamus-kamus koleksiku berlatar arus sejarah politik dan pengetahuan di Indonesia. Kamus Marhaen mendapat posisi penting jika ingin mengerti Soekarno, PNI, Partindo….. Aku bakal menulis tentang kamus, setor ke Jawa Pos atau Koran Tempo. Kamus adalah tema sangar, tak bisa disepelekan.

Aku buktikan kamus penting sebagai bekal berpolitik, dari masa lalu sampai sekarang. Di halaman 7, “agitatie”: “Tjara pidato dengan berkobar-kobar, supaja publik dapat turut padanja. Propaganda dari partai-partai dalam menghadapi rapat raksasa harus pandai menggunakan agitatie untuk menggelorakan semangat.” Aku suka istilah “agitatie”, mengesankan istilah keras selama masa kolonialisme.

Marhaen 3
Di halaman 30, “dictator”: “Seorang jang diberi kekuasaan untuk memerintah negeri; dalam mendjalankan kekuasaan, dictator tidak bermusjawarat dan bermufakat melainkan mendicte sadja.” Aku jadi ingat omongan dan tulisan Joss Wibisono: mengulas diktator mengacu ke pemikiran-tindakan dari Ki Hadjar Dewantara dan Soekarno. Istilah diktator moncer di Indonesia, ditempelkan ke sekian tokoh besar. Pemuatan istilah diktator memberi bekal pengetahuan politik bagi publik agar bisa memberi penilaian pada penguasa. Eh, diktator pun terlalu sering digunakan saat Indonesia dan dunia berubah melalui pelbagai suksesi atau konflik.

Aku perlu mengutip penjelasan “massa-actie”, tercantum di halaman 53: “Aksinja orang banjak jang setudjuan, sefaham dan sekemauan; biasanja massa mudah digerakkan dengan agitasi, mudah disuggestie, dipengaruhi dengan kata-kata besar. hal ini disebabkan oleh karena djiwanja massa berbeda dengan djiwanja seorang. Tiap-tiap orang kalau sudah tergabung ditengah-tengah massa, seakan-akan berdjiwa lain. Memimpin massa memerlukan pengetahuan dalam tentang hal massa-psychologie.” Aku langsung ingat buku dan pemikiran-pemikiran Tan Malaka. Wah, aku mesti juga menulis “massa-actie” berkonteks Indonesia mutakhir.

Eh, aku tidak boleh lupa mengutip pengertian “marhaen”. Pengertian ada di halaman 51: “Kamu jang melarat, dalam kalangan kaum buruh dan kaum tani. Perkataan ini dimasukkan dalam politik pada tahun 1928 oleh Ir. Soekarno.” Marhaenisme berarti “Faham untuk memperbaiki keadaan kaum jang melarat, supaja dapat mengadakan pergaulan hidup jang sempurna setjara kemanusiaan.” Dua pengertian bisa menjadi bekal untuk menulis resensi buku tentang marhaenisme terbitan Marjin Kiri. Oh, aku tak sabar membaca buku baru agar bisa melihat situasi politik silam dan mutakhir. Kamus Marhaen memiliki ketebalan 100 halaman, bukti pendidikan politik sejak masa 1930-an. Aku masih bisa menggunakan untuk membaca politik Indonesia saat ribut mencari presiden baru. Begitu.

Iklan