Tag

, , , , , ,

Bandung Mawardi

13 orang naik sepur, bergerak dari Solo ke Banyuwangi, 24 Mei 2014. Kami adalah penulis-penulis Pawon, berniat ingin mengajak para santri, mahasiswa, guru, dosen sinau sastra. Selama perjalanan, aku melihat pemandangan indah. Wah, kalimat bocah SD saat tugas mengarang: “pemandangan indah”. Aku tak bohong! Di kereta, teman-teman bercakap dan makan. Aku senang memenuhi misi literasi, bergerak jauh dari rumah menuju Pondok Pesantren Darusasalam dan Genteng. Perjalanan dengan sepur, 12 jam. Kami bakal menginap dan hidup di rumah Pak Nur Saewan, 24-27 Mei 2014. Rumah besar, bisa memuat kami dan para santri. Di rumah mentereng, kami melakukan serial sinau, dari pagi sampai malam.

Ada ruang paling menggoda di rumah Pak Nur Saewan. Ruang berisi meja dan kursi untuk peristiwa makan. Kubu perempuan ada di lantai 2, gampang melihat ke bawah: tepat melihat hidangan-hidangan di meja. Ruang itu memberi gairah bagi “geng weteng luwe”: Indah Darmastuti, Puitri Hati Ningsih, Sanie B. Kuncoro, Rio Johan, Yudhi Herwibowo, Fauzi Sukri… Di meja, segala doa dan hasrat diekspresikan secara lugas. Konon, Yudhi Herwibowo menghitung jumlah pujian dari Sanie B. Kuncoro mengenai suguhan makanan masakan dari Bu Nur Saewan: “Enak”. Pujian Sanie B. Kuncoro bersaing dengan dali-dalil Indah Darmastuti alias “gali cething” tentang kausalitas perut dan makanan. Sejak dari Solo, “gali cething” selalu lapar dan berdoa mendapat makanan-makanan lezat.

Rumah 1
Oh, ingat rumah dan “geng weteng luwe” ingat buku tipis berjudul Senang dan Sehat (Ganaco, 1951) susunan Oejoeng S. Gana dan Kadar. Buku bersampul gambar rumah di desa. Rumah kecil, apik, elok. Rumah idaman. Rumah di atas sawah. Wah! Aku pun mau mencoba membangun rumah di ketinggian, di atas persawahan.

Aku sajikan cerita di permulaan: “Rumah siapakah jang ketjil dan agak tinggi letaknja itu? Berbeda benar dengan rumah jang lain! Tentu enak tinggal dirumah sematjam itu! Biarpun ketjil, tetapi rapi dan menarik hati. Lebih-lebih pula pekarangannja teratur, tidak penuh oleh tanam-tanaman.” Rumah realis atau imajiner? Aku melihat sebagai rumah imajiner, sesuai gambar dan keterangan.

Rumah 2
Rumah memang penting. Aku juga tak ingkar. Dulu, aku tak lekas berkeinginan membangun rumah, mempertimbangkan hidupku masih menanggung utang dan kabar tentang harga tanah semakin mahal. Sulit! Mimpi memiliki rumah adalah mimpi sangar ketimbang mimpi bertemu Raisya. Lho! Situasi berubah saat acara-acara sinau literasi mesti memiliki tempat atau rumah. Aku tak bisa terus berpindah rumah kontrakan. Keputusan mesti diwujudkan dengan membangun rumah, berhutang ratusan juta. Aku beruntung mendapat infak dari keluarga dan orang-orang berhati baik. Jadilah rumah berjudul Bilik Literasi, rumah bergelimang utang. Rumah untuk sinau dan hidup. Bilik Literasi berbeda dengan rumah dalam buku Senang dan Sehat.

Ah, aku mesti kembali menengok halaman-halaman bercerita rumah apik dan elok. Di halaman 7 dan 8, ada percakapan tentang pembangunan rumah antara tamu dan pemilik rumah: “Berapakah tjukup uang untuk pembuat rumah sebagus itu?” “Hampir sebanjak untuk membuat rumah biasa. Bedanja hanja sedikit-sedikit, seperti harga genting, kapur dan tjat. Lihatlah, kajupun hanja kaju albasiah. Tiangnja dari kaju gunung, tidak bertjampur dengan kaju djati.” Si tuan rumah pun menjelaskan bahwa rumah dipentingkan agar memenuhi tujuan “kesenangan dan kesehatan badan”.

Rumahku berisi buku-buku. Aku berdoa semoga bisa turut memenuhi tujuan “kesenangan dan kesehatan jiwa-raga”. Amin. Eh, aku ingat lagi saat teman-teman hidup di rumah Pak Nur Saewan. Teman-teman menggosip tentang kemungkinan ada dosen, kiai, guru, seniman di Solo memiliki rumah besar dan terbuka untuk sinau bersama. Di rumah Pak Nur Saewan, para santri diajak sinau dan mengaji. Peristiwa sinau tentu memerlukan makanan dan minuman.

Rumah 3
Aku beralih ke halaman dengan gambar meja dan kursi. Lihat, ada pisang di atas meja. Aku langsung ingat meja berisi makanan di rumah Pak Nur Saewan: pecel, nasi, sambel terong, bakwan, tahu, kerupuk, telur, ikan… Gambar idaman bagi “geng weteng luwe.” Aku perlu mengutip penjelasan berkaitan gambar di buku: “Aai, didalam rumahnja beres pula. Tak ada pakaian jang terampai atau alat perkakas jang tak tentu letaknja. Semua teratur rapi. Lemari, bangku, medja, kursi, kelihatan beres…”

Rumahku tak serapi di buku Sehat dan Senang. Rumahku sering berantakan. Buku, koran, majalah sering berserakan. Ah, malu menceritakan rumah tak rapi. Di Bilik Literasi memang tak kerapian. Aku dan teman-teman justru kerasan sinau akibat ideologi “tak rapi berpikir” dan “tak rapi berimajinasi”. Waduh! Aku sering ingat jika membaca ulang tulisan-tulisanku: berantakan.

Gambaran rumah dalam buku bisa menggeretku kembali ke esai-esaiku tentang rumah, sejak tahun 2007. Dulu, aku bergairah menulis tema rumah. Aku memang tak pernah mencari kaitan esai dan pembuktian membangun rumah. Eh, tahun demi tahun berlalu. Aku pun memiliki rumah. Aku kadang membuat konklusi: rumah adalah esai. Sekarang, esai-esai bergerak untuk melunasi hutang.

Buku-buku berkisah rumah penting dipelajari dan dikoleksi. Aku pun berniat untuk menerbitkan buku berisi esai-esai tentang rumah dengan pelbagai perspektif: sastra, agama, antropologi, sejarah, politik, ekonomi…. Hari demi hari, aku mesti tekun berikhtiar mengerti rumah dan menjalankan ibadah menulis di rumah. Begitu.

Iklan