Tag

, , , , , , , ,

Bandung Mawardi

Aku berambisi mengumpulkan dan mempelajari ribuan buku tentang pendidikan di Indonesia, dari awal abad XX sampai sekarang. Buku-buku bisa mengabarkan pembentukan dan perkembangan pendidikan (modern) di Indonesia dengan pelbagai corak dan kiblat. Ambisi mesti dituruti dengan belanja buku, membaca dan menggunakan sebagai referensi dalam esai-esai. Eh, ambisi semakin membesar saat aku dan teman-teman berkeputusan mengadakan Pameran Buku Pendidikan dan 3 Hari Sinau Pendidikan, 16-18 Mei 2014. Ratusan buku kita pilih, disajikan dengan cara bergantungan di Bilik Literasi. Orang-orang pun berdatangan dari pelbagai kampus dan kota: melihat, bercakap, sinau. Di Bilik Literasi, pameran buku dan sinau membuatku meninggikan derajat kehendak menulis buku-buku tentang pendidikan. Alhamdulillah…

Ada orang menggosip: “Acara pendidikan di rumah?” Aku tak usah menjawab panjang. Bagiku, pendidikan bermula atau berbasis di rumah ketimbang menganut paham bahwa pendidikan sah berlangsung di sekolah dan universitas. Lho! Bocah-bocah sejak dini diajak minggat dari rumah, berpamitan pada bapak-ibu: “Belajar di sekolah.” Kaum mahasiswa pun sombong. Mereka berdandan parlente, mengendarai motor bagus, minta uang saku. Berpamitan pada orangtua: “Aku mau ke kampus untuk kuliah.” Aku sering sangsi dengan keputusan-keputusan massif: pendidikan diadakan di ruang-ruang “modern” dan terpisah dari rumah. Wah, sangsiku tentu tak bermutu.

Sekolah 1
Aku memilih memberi jawab dengan buku berjudul Dirumah dan Disekolah (Chailan Sjamsoe, Jakarta-Armsterdam, 1954) susunan penulis berjulukan Si Guru. Di bawah judul buku ada keterangan: “Buku batjaan jang perlu sekali dipeladjari untuk anak-anak.” Si Guru pasti pintar dan bijak. Eh, Si Guru tegas menganggap buku penting untuk dipeladjari. Apakah tak ada lanjutan keterangan bahwa buku penting dipelajari oleh orangtua, pak lurah, bupati, menteri, dosen, presiden, sastrawan? Lihat, judul sudah mengesankan perbedaan peran-fungsi dan situasi antara rumah dan sekolah berdalih pendidikan.

Aku mau membedakan dua agenda di rumah dan di sekolah. Di halaman 14, ada gambar bapak berpakaian rapi menenami Jusuf belajar di rumah. Terlalu! Di rumah, si bapak mengenakan jas, dasi, peci!  Si Jusuf cuma bercelana pendek dan kaos. Di bawah gambar, ada percakapan pendek berjudul Jusuf dan Bapak.

“Apa pekerdjaan engkau hari ini?”
“Kami menggambar Bapak.”
“Sesudah itu kami berdjalan-djalan.”
“Radjin-radjinlah beladjar”

Si bapak berpesan dengan mantra klise. Aku sering minder dan sulit mengartikan ungkapan “rajin belajar”. Sejak SD, aku merasa tak pernah rajin belajar meski bisa menapaki sekolah demi sekolah. Aku jadi ingat pernah mengoleksi 15 angka merah dalam setahun saat di SMA Negeri 2 Solo. Aduh! Aku terlalu bodoh dan malas. Di halaman buku tak keramat, angka-angka merah mengesahkan diriku sebagai murid tak rajin belajar. Bapak dulu juga berpesan agar aku “tenanan” sekolah. Eh, aku tak bisa mewujudkan dengan tanggung jawab.

Sekolah 2
Adegan di kelas-sekolah berbeda dengan di rumah. Jusuf adalah murid. Ingat, Jusuf adalah anak jika ada di rumah. Lihatlah, Jusuf duduk serius di bangku deretan depan sedang menulis. Di depan murid-murid, ada papan tulis. Di bawah gambar ada keterangan pendek berjudul Beladjar.

Jusuf sedang beladjar.
Ia menulis.
Tulisan harus djelas dan baik.
Amat radjin Jusuf ini.
Ia ingin mendjadi pandai.

Waduh, aku menemui istilah sangar: pandai. Dulu, simbok sulit memberi nasihat agar aku bersekolah untuk pandai. Simbok cuma menginginkan aku mau bersekolah meski saat besar aku mendapat tambahan nasihat: “Jadilah guru”. Apakah harus pandai? Aku merasa jarang pandai. Aku justru sering bodoh, goblok, pekok jika mengingat masa-masa bersekolah dan kuliah. Aku tak berurusan dengan nilai-nilai tapi faedah ilmu dalam hidupku. Wuih!

Sekolah 3
Aku paling senang menikmati gambar dan keterangan di halaman 31, berjudul  Berdjalan-djalan. Lelaki cakep, mengenakan celana dan baju berwarna putih, dasi berwarna hitam, peci berwarna hitam. Perempuan cantik mengenakan pakaian santun, berdandan elok. Lelaki dan perempuan berjulukan bapak dan ibu tampil dengan adegan berjalan-jalan. Romantis!

Kadang-kadang Ibu dan Bapak pergi.
Bapak ingin berdjalan-djalan.
Anak-anak tinggal di rumah.
Jusuf menghafal.
Lela membatja.
Ami bermain-main dengan si Belang.

Oh, tega! Mereka tega meninggalkan tiga anak di rumah. Dua anak belajar dan satu anak bermain dengan kucing. Bapak dan ibu merenda ulang memori-memori saat remaja. Tega! Di rumah, anak-anak tetap belajar agar pandai. Di luar, bapak dan ibu berjalan-jalan. Aku mesti mencari argumentasi-argumentasi matang agar tak menuduh bapak-ibu bersikap keterlaluan dan tega.

Buku setebal 40 halaman, berisi cerita dan gambar. Aku memang berkepentingan membaca dan mempelajari buku Dirumah dan Disekolah agar mengerti situasi pendidikan masa 1950-an: di rumah dan di sekolah. Aku berharap bisa menggunakan dalam tulisan dan ocehan mengenai pendidikan. Begitu.

Sekolah 4

Iklan