Tag

, , , ,

Bandung Mawardi

5 dan 6 Juni 2014, aku membaca tiga berit kecil tentang madrasah di Kompas. Aku tak pernah belajar di madrasah tapi merasa ada panggilan untuk mengerti madrasah. Pengetahuanku terbatas, berasal dari cerita, buku, koran, televisi. Istilah madrasah pernah berarti tempat belajar bercap agama. Dulu, aku menerima pengertian tanpa ada penasaran mengusut sejarah dan perkembangan madrasah di Indonesia. Sekarang, aku merasa pantas mempelajari madarash, berbekal informasi-informasi dari buku, koran, majalah.

Aku pernah tergugah mempelajari madarasah melalui buku garapan Azra, sejarawan dan pemikir pendidikan. Buku kecil tentang madrasah, membujuk diriku terus bergerak mengumpulkan bacaan-bacaan agar tak melulu memikirkan sekolah-sekolah umum. Oh!

Madrasah 1

Sekarang, aku ingin mempelajari madrasah melalui Almanak Djawatan Pendidikan Agama 1959 (Penerbit Sinta, Jakarta), redaksi oleh D.P. Sati Alimin. Buku berisi pelbagai informasi penting. Ada kumpulan kutipan undang-undang, artikel, foto, laporan resmi… H. Ahmad Badwi dalam kata pendahuluan menjelaskan: “Abad ke-20 dikatakan orang abad kebangunan. Dunia Islam kembali, termasuk dunia pendidikan agama Islam di Indonesia. Pengadjian, pondok dan pesantren mengalami perubahan. Lahirlah sekolah-sekolah agama dengan sistem kelas-kelas, mempergunakan papan tulis, medja dan bangku. Ilmu jang diadjarkan tidak lagi terbatas kepada ilmu hukum-hukum agama semata-mata, tapi djuga telah meliputi ilmu-ilmu lain dan bahasa asing. Batas antara sekolah dan madrasah mulai hilang. Demikianlah berdjalan sampai kepada permulaan masa revolusi dan sampai saat sekarang ini.”

Batas diperlukan untuk membedakan, tak bermaksud merendahkan atau meninggikan. Eh, selama ini aku malah masih membawa memori: madrasah sering direndahkan ketimbang sekolah umum. Ingatanku mengacu masa Orde Baru, terbatas di daerah Colomadu. Aku tak tahu makna dan pengaruh madrasah di daerah berbeda, sesuai latar agama dan sosial-kultural. Madrasah sebagai sekolah dengan muatan ilmu umum dan agama mengandung pengertian ganda. Aku biasa mendengar maksud orang belajar di madrasah: berilmu dan beriman-bertakwa.

Madrasah

Peraturan Menteri Agama No. 7 Tahun 1952 memuat penjelasan-penjelasan resmi. Madrasah rendah: “tempat pendidikan jang telah diatur sebagai sekolah dan membuat pendidikan dan ilmu pengetahuan agama Islam tingkat rendah mendjadi pokok pengadjarannja selama 6 tahun…. Penjelasan berlanjut untuk madrasah lanjutan pertama dan madrasah lanjutan atas. Pasal 10 berisi tuntutan: “Pengurus madrasah harus berusaha agar mutu pendidikan madrasahnja bertambah tinggi, harus bersedia menerima Inspeksi Pendidikan Agama jang bertugas memeriksa madrasah-madrasah serta memperbaiki keadaan madrasahnja menurut petundjuk-petundjuk dari inspeksi terebut.” Madrasah selalu memerlukan bantuan demi peningkatan kualitas. 3 berita di Kompas membuatku sedih: madrasah masih diragukan akreditasi, madrasah belum bermutu, ada korupsi dalam realisasi bantuan untuk madrasah. Aduh!

H.A.M. Arifin T dalam artikel berjudul Pembaharuan Perguruan untuk Rakjat di Indonesia berseru: “Dunia madrasah, pondok, pesantren dan pengadjian itulah jang oleh Kementerian Agama hendak dimodernisasikan, sesuai dengan dasar-dasar pendidikan dan pengadjaran jang mendjadi tjita-tjita negara kita. Madrasah harus mendapat pembaharuan setjara revolusioner tapi sehat….” Seruan dari masa 1950-an tentu berbeda arti dengan madrasah di abad XXI. Ah, madrasah masih menanggung pelbagai masalah untuk “revolusioner”.

Aku perlu mengetahui situasi pendidikan masa 1950-an melalui artikel Prof. Dr. R. Slamet Iman Santoso berjudul Sifat Sekolah Rakjat. Penjelasan tentang sekolah rakjat bisa menjadi acuan mengerti madrasah dalam kebijakan pendidikan nasional. Slamet Iman Santoso menerangkan: “Sekolah rakjat merupakan sekolah jang mendjadi dasar seluruh masjarakat dalam tiap-tiap negara. Oleh karena itu, maka sebenarnja sekolah rakjat sekolah jang terpenting dalam negara. Sekolah ini mendjadi dasar untuk sekolah landjutan dari beraneka djenis….”

Masdrasah 3

Pembahasan SR tak melibatkan madrasah. Situasi pendidikan masa 1950-an memang sedang mencari bentuk dan identitas. Anggapan sekolah-sekolah di Indonesia masih “berbau” kolonial memang terbukti dari pelbagai aspek. Warisan pendidikan kolonial belum bisa dihilangkan semua. Sebagian dianggap masih berguna. Sebagaian dianggap tak menunjang pendidikan revolusioner dan kepribadian Indonesia. Pembaharuan mesti dilakukan meski pendidikan cenderung bercorak Barat tapi mengaku sesuai realitas Indonesia. Madrasah tentu juga menjadi bagian masalah dari pembaharuan pendidikan meski aku menganggap ada orientasi ke negeri-negeri asing berdalih agama. Keterbukaan dalam penentuan sistem pendidikan memang lazim tanpa harus ada klaim-klaim “murni” Indonesia. Pendidikan berkiblat ke Barat dan  Timur bakal memajukan Indonesia. Wah, penjelasanku mirip kalimat-kalimat dalam rapat kaum birokrat.

Almanak Djawatan Pendidikan Agama 1959, dokumentasi penting bagi para peminat masalah-masalah pendidikan di Indonesia. Siapa mau turut membaca dan mempelajari? Aku bersedia meminjamkan agar buku bisa berfaedah bersama. Buku dengan tebal 246 halaman, acuan mengerti perkembangan madrasah di Indonesia. Begitu.

Iklan