Tag

, , , , ,

Bandung Mawardi

Aku tidak memiliki memori berlimpah tentang tempat-tempat wisata. Aku juga tak berkeinginan mengoleksi foto-foto dengan dekorasi pantai, candi, gunung, hutan, patung… Sejak bocah, aku tak diperkenalkan mengalami pelancongan. Diri berpredikat pelancong sulit diwujudkan akibat kemiskinan dan “kemalasan” menghibur diri.

Dulu, aku sering bingung jika mengikuti acara para sastrawan di pelbagai kota. Perbincangan mereka bakal memusat ke agenda melancong berdalih “mumpung” dan hasrat membuat koleksi foto. Di Ternate, Bali, Makassar… acara sastra biasa berganti acara melancong dan bepergian. Aku paling sedih saat melihat para sastrawan berbekal kamera, bergantian untuk ibadah pemotretan. Aduh! Aku memilih duduk dan melamun, tak melihat ibadah pemotretan. Ajakan melancong pun sering tidak aku turuti. Melancong digenapi kebingungan membeli makanan atau barang. Ah, melancong memang penting! Aku pun menanggung aib: lelaki tanpa referensi pelancongan dan pendokumentasian diri berpredikat pelancong. Kasihan…

Melancong 1

Aku memilih menikmati kumpulan tulisan tentang melancong, mengingat pelancongan di Indonesia melalui kata dan foto. Poerbo NGR mengumpulkan pelbagai tulisan, ditampilkan dalam buku berjudul Melantjong di Indonesia, terbitan P.T. Rio, 1957. Tebal 184 halaman. Harga 25 rupiah. Buku dimaksudkan menjadi panduan sesuai saran pengumpul: “Kumpulan tjatatan beberapa penulis tentang Indonesia jang perlu diketahui terutama bagi para pelantjong dalam dan luar negeri.” Aku menduga industri pariwisata pada masa 1950-an sudah bergeliat, membuat Indonesia panen uang dan pamer diri sebagai negeri indah. Wah!

Penerbitan buku mendapat sambutan dari pejabat pemerintah bernama R.M. Hartojo: “Tak ada seorangpun didunia ini jang tidak mentjintai tanah airnja. Terutama bagi bangsa jang baru sadja berhasil merebut kemerdekaan tanah airnja dari tjengkeraman kekuasaan pendjadjah asing seperti halnja dengan bangsa Indonesia. Guna mempertebal rasa tjinta tanah air perlu kita mengetahui hal-ihwal jang serba bagus, serba indah dan serba baik dari tanah air kita. Pemandangan jang indah permai ditepi laut, dipegunungan dan dilembah ngarai.” Tugas pejabat memang memberi saran dan mengumbar hal-hal besar. Konon, saran selalu demi Indonesia. Aku pun memutuskan tak mau jadi pejabat. Aku malu jika menggunakan bahasa-bahasa berisi saran-saran penting.

Melancong 2

Aku mulai membuka ingatan-ingatan Indonesia melalui pelbagai tulisan dalam buku. R.O. Simatupang dalam artikel berjudul Adat Istiadat Bangsa Indonesia memberi uraian panjang kaitan adat dengan misi pelancongan. Adat di pelbagai daerah berkemungkinan dijadikan undangan pelancongan agar orang-orang mengerti dan bisa mendokumentasikan diri dengan berpotret. Konon, pengetahuan adat istiadat diperlukan demi mempertebal keindonesiaan. Orang-orang diajak untuk mengunjungi pelbagai tempat, tak lupa memberi sanjungan dan menghasilkan foto-foto. R.O. Simatupang mememberi konklusi kritis agar adat istiadat tak cuma dimengerti dalam nalar pelancongan: “Adat-adat jang merintangi kemadjuan rakjat lambat laun sudah dibebaskan. Soal adat itu tidak boleh dan tidak dapat dilepaskan dari soal mempertinggi deradjat masjarakat Indonesia. Oleh sebab itu soal adat, jaitu soal jang mengenai soal kebangsaan, dan jang diperhatikan oleh pergerakan nasional. Pergerakan kebangsaan telah menginsjafkan rakjat Indonesia tentang adat istiadat jang menentang kepentingan rakjat.”

Pengetahuan tentang sejarah Indonesia juga diperlukan bagi para pelancong jika mengunjungi candi atau situs-situs purba. Oh, pelancongan bisa bermisi belajar sejarah. Sip! Aku bakal mempertimbangan agenda melancong untuk sinau sejarah, mengunjungi tempat-tempat pelancongan berbekal ilmu dan imajinasi. Ah, aku tentu tak perlu membuat koleksi foto untuk dipamerkan ke orang-orang melalui album foto atau media sosial.

Melancong 3

Nj. S. Sulaiman dalam artikel berjudul Puing Peninggalan Kedjajaan Kebudajaan Purba di Indonesia memberi penjelasan-penjelasan singkat mengenai pelbagai tempat bersejarah. Di Jawa, candi-candi merupakan tinggalan dari masa Hindu-Buddha. Candi Prambanan, Borobudur, Kalasan, Panataran… mengandung ingatan-ingatan sejarah berkaitan politik, agama, seni-arsitektur, tatanan sosial-kultural. Aku belum memiliki kebiasan mengunjungi candi-candi. Dulu, aku pernah berkeinginan menulis tentang candi-candi akibat mempelajari buku-buku Soekmono. Sekian esai tentang candi sudah tersaji di koran dan majalah. Aku mesti semakin menguatkan ambisi menulis dengan mengunjungi candi-candi tanpa berlagak menjadi pelancong.

Urusan melancong memerlukan kumpulan informasi rumah makan dan penginapan. Di buku Melantjong di Indonesia disediakan halaman informasi rumah makan dan penginapan di Sumatra, Jawa, Sulawesi, Maluku… Rumah penginapan atau hotel dianggap penting dalam kesuksesan pelancongan di Indonesia. Oh, aku mulai mengerti hotel-hotel ada di pelbgai tempat wisata, bermaksud “memanjakan” pelancong. Hotel pun menjadi bukti kemampuan memenuhi aturan-aturan pelancongan internasional.

Aku pernah menginap dan hidup di pelbagai hotel tanpa merasa sebagai pelancong. Ah, di hotel sering membuatku jadi manusia asing. Aku selalu bingung dengan tubuhku saat mendekam di kamar. Hotel adalah tema pelik. Aku pernh menulis esai-esai tentang hotel tapi tak memiliki kegandrungan hidup di hotel. Aku tak ingin menjalani hidup seperti Iwan Simatupang, “manusia hotel”. Begitu.

Iklan