Tag

, , , ,

Bandung Mawardi

18 Juni 2014, pukul 6 malam, teman-teman berkumpul untuk santap bebek goreng. Penghiburan kecil bagi kaum esais untuk terus mendoakan Mutim agar rajin menulis. Agenda santap goreng bermula dari kemenangan Mutim dalam lomba penulisan esai. Sebagian rezeki untuk bebek goreng, sebagian rezeki untuk belanja buku. Tubuhku masih lungkrah, berharap bebek goreng bisa mengubah rasa tubuhku agar semangat. Wah! Bebek goreng memang bukan obat atau jamu. Aku bersukacita bisa menikmati bebek goreng, sebelum bergerak ke GOR Manahan-Solo untuk menonton konser Payung Teduh.

Eh, hujan deras. Detik demi detik berlalu. Hujan terus deras meski sudah sejam. Aku terus berharap bisa nekat ke GOR Manahan bersama Budiawan, Pri, Gawang dan sang pacar. Hujan tak juga reda. Agenda menonton konser Payung Teduh malah hujan deras. Aneh! Kami pun nekat bergerak meski hujan tak reda. Di GOR Manahan, pukul 8 sampai 11 malam, aku merasa menjadi remaja bersama ratusan penonton. Dulu, aku sering ke GOR Manahan untuk menonton konser Dewa 19, semasa aku masih SMP dan SMA. Pulang, aku membawa nuansa asmara dalam lagu-lagu Payung Teduh. Aku perlahan mengingat masa remaja, masa menjadi lelaki cengeng dan picisan. Oh!

Aku tak ingin larut dengan lagu-lagu asmara berlagak puitis. Aku harus bisa mengelak dari perasaan-perasaan sendu. Wah! Keputusan untuk bercerai sejenak dengan asmaranisme terwujud saat aku membaca buku berjudul Serba Ragam: Kitab Njanjian untuk Sekolah Rakjat (Noordhoff-Kolf, 1949) susunan A.E. Wairata. Tebal 126 halaman, tak berisi lagu-lagu asmara picisan dan ratapan cengeng. Di buku, aku temukan lagu-lagu tentang hewan, tanaman, sekolah, desa, matahari… Hore! Aku bisa terbebas dari lagu sendu meski sejenak.

Lagu 1

A.E. Wairata menulis: “Apa artinja menjanji? Menjanji, jaitu melagukan sesuatu peristiwa, maupun sesuatu perasaan hati, dengan manis tutur bitjara dan dengan sopan peri. Menjanji, haruslah diserati kesukaan dan kesenangan hati. Wadjib pula kita mengerti benar, apa jang kita njanjikan.” Aku malah ingat, lagu-lagu sering aku lantunkan dengan suara tak merdu dan ekspresi wajah mirip lelaki lembek, tak revolusioner. Lho! Apa urusan lelaki revolusioner dengan lagu? Ah, aku tak tahu.

Aku kaget saat menemukan lagu politis, hadir bersamaan lagu-lagu bertema lugu. Di halaman 10, ada lagu berjudul Indonesia dan Belanda, lagu mengisahkan zaman: Indonesia dan Belanda/ negri timur dan barat/ tinggal dalam kerdja sama/ dalam hubungan erat/ Indonesia dan Belanda/ saling berikan bantuan/ tinggal dalam kerdja sama/ di pelbagai lapangan/ hiduplah, hiduplah/ persekutuan mulia/ itulah, itulah/ untuk damai dan bahagia. Aku menduga Soekarno tak membaca buku Serba Ragam. Soekarno tentu bakal marah dan mengamuk jika ada penggubah lagu mengajak murid-murid memuliakan Belanda. Lagu tak revolusioner saat Indonesia masih berperang demi kedaulatan. Aduh, lagu Indonesia dan Belanda membuatku ingin melacak lagu-lagu lain berkaitan propaganda bernuansa kolonialisme-imperialisme.

Lagu 2

Lagu sederhana aku temukan di halaman 25, berjudul Kambingku. Lagu tanpa propaganda politik tapi mengajak bocah mengerti satwa: Kambingku, kawanku/ makanlah kenjang/ kulihat djanggutmu/ hatiku girang tak kurang makan/ dan tempatmu njaman… Kambingku, kawanku/ mari ikutlah/ ditepi kandangmu kita baringlah…. Aku jadi ingat saat SD, berpredikat penggembala kambing. Peristiwa menggembala kambing ke “kulon ndeso” membuatku resmi menjadi bocah desa dan bocah dari keluarga miskin. Sekarang, aku tak lagi bercita-cita menjadi penggembala kambing. Aku memilih menjadi penggembala kata.

Aku tertarik dengan lagu bersahaja, Njanjian Orang Pesawah. Judul sudah puitis! Simaklah: Mematjul tanah tjuram/ membadjak ta’ mudah/ mukaku tidak muram/ badan tinggal betah// Aku menanam padi/ badanku berpeluh/ sawah kelak mendjadi lumbung/ kelak penuh// Kurasa pekerdjaan mematjul/ membadjak membawa kesukaan/ bagi jang bekerdja…. Aku senang memandangi sawah. Aku pernah berimajinasi memiliki rumah dikelilingi sawah meski takut sering mengidap masuk angin. Di desaku, sawah-sawah telah musnah. Sawah berganti rumah.

Lagu 3

Aku telah memiliki sekian buku-buku berisi lagu-lagu bocah. Aku mesti segera membuat buku mungil, berisi pemaknaan lagu berlatar politik, ekonomi, pendidikan, sosial, kultural di masa silam. Aku tak ingin berlagak melakukan penelitian atau riset. Aku cuma menginginkan lagu-lagu bocah tak dilupakan dan disingkirkan oleh kesombongan orang-orang menggandrungi lagu-lagu baru di abad XXI. Buku lagu bisa menjadi panduan menengok masa lalu, mengerti imajinasi bocah dan Indonesia.

A.E. Wairata berpesan bahwa “kitab njanjian” memiliki 3 maksud: (1) Akan menjenangkan hati murid-murid dengan lagu-lagu jang serba baru; (2) Akan mendjadi nasihat dan petuah bagi murid terhadap dirinja, terhadap kaum keluarga dan gurunja, terhadap tempat tumpah darahnja. Terhadap keindahan alam; (3)  Akan mendjadi bahan-bahan karangan murid-murid pangkat jang tertinggi.” Aku tak bakal membantah maksud suguhan untuk bocah. Aku setuju tanpa teriak dan tepuk tangan. Begitu.

Iklan