Tag

, , , , , , ,

Bandung Mawardi

Orang bernama Mawar sering celaka dalam berita. Oh! Sekian hari lalu, aku masih menemukan wartawan menulis berita pemerkosaan menggunakan nama Mawar. Dulu, pernah ada peringatan agar tak lagi menggantikan nama korban dengan nama Mawar atau Melati. Eh, wartawan koran… masih menulis: “… sebut saja perempuan bernama Mawar..” Penggantian nama korban dengan Mawar membuatku sedih dan malu. Sejak kecil, panggilanku adalah Mawar. Di Blulukan dan Gedongan, ribuan orang mengenalku sebagai lelaki bernama Mawar. Nama lengkap Bandung Mawardi. Nama panggilan adalah Mawar. Aku tak mau mengingat diri sebagai korban pemerkosaan. Aku tak mau diperkosa! Ingat, aku lelaki ganteng, berambut panjang, brengosan, jenggoten. Siapa tega memperkosa diriku? Tuhan, lindungi aku dari para pemerkosa.

Mawar 1

Ingat Mawar, ingat buku pelajaran membaca berjudul Tiga Sekawan (J.B. Wolters-Groningen, 1951) karangan Abdoelgani Asjik dan Bermawi Gl. Soetan Radja Emas, dibantu oleh Chr. F.W. Slijper. Gambar-gambar dalam buku digarap oleh Sjoe’aib Sastrawirja. Buku koleksiku tercantum keterangan: cetakan ketujuh. Buku Tiga Sekawan tentu laris, membuat bocah-bocah di Indonesia bisa membaca. Hebat! Lihatlah, di halaman 8 ada gambar bunga dan kata: ma-war. Kata itu berbeda dengan maksud wartawan memberitakan kasus pemerkosaan!

Mawar 2

Pelajaran membaca dalam buku Tiga Sekawan tampak aneh, tak beraturan atau berurutan. Di halaman 16 dan 17, sekian kalimat disusun tanpa maksud saling berhubungan. Kalimat-kalimat ada untuk dibaca!

Surat cha bar itu bernama Suara Merdeka.

Si Kadir telah cha tam Kuran.

Djangan chi anat kepada teman!

Siapa jang membatja chot bah di mesdjid?

Bocah diajak belajar membaca kata mengandung unsur “ch”. Sekarang, kata-kata itu berubah, sesuai dengan ejaan baru dan tata bahasa baku. Kata-kata memiliki sejarah, diurusi para ahli untuk dipergunakan dan dicarikan hukum dalam penulisan. Ah, aku pun ingat sekian materi perkuliahan saat di UMS. Aku sulit mengikuti perkuliahan-perkuliahan linguistik.

Bagiku, kalimat-kalimat dalam buku Tiga Sekawan bisa mendewasakan bocah untuk mengerti pelbagai hal. Mereka tak melulu diajari dengan contoh klise: “i ni bu di”. Pengenalan dan penggunaan kata-kata bakal memberi rangsangan bagi bocah menjelaskan diri, alam, keluarga, sekolah…. Dulu, aku pernah belajar membaca saat SD tapi tak “sedewasa” di buku Tiga Sekawan. Aku memang bisa membaca. Pengertian membaca menjadi berbeda saat aku mulai mewujudkan diri sebagai “saudagar buku”. Membaca tak cuma….

Mawar 3

Pemberian contoh-contoh aneh berlanjut dengan penggunaan kata-kata mengandung unsur “sj”. Aku menduga para penulis adalah intelektual “keterlaluan”. Mereka sengaja mengajak bocah-bocah menjadi pintar saat belajar membaca. Mereka memperkenalkan tokoh, benda, peristiwa….

Sjech Jusuf baru kembali dari Mekah.

Sjak hamba ia mentjuri wang itu.

Saudagar Idris masjhur kajanja.

Sjarif, tolong aku sebentar.

Sjukurlah kamu lekas sembuh.

Aku tentu memiliki menggunakan “sj” untuk menulis sekian kata jika diperbolehkan oleh ejaan baru dan tata bahasa baku. Aku biasa menghindari …. agar aku bisa menggantikan dengan “sj”. Penggunaan “sj” selalu mengingatkanku dengan sejarah bahasa, sejarah mulut, sejarah mata, sejarah telinga. Wah. Semua berubah akibat “petunjuk sang bapak”, 1972. “Sj” hilang. Tolong, katakan padaku di mana kuburan “sj”. Eh, jadi ingat lagu dangdut.

Mawar 4

Di buku dengan tebal 40 halaman, aku menemukan bacaan apik di halaman 38. Bacaan mengingatkan pengalamanku saat bocah menjalani ibadah puasa dan bakdan. Ah, contoh-contoh dalam buku sengaja representasi kehidupan bocah meski ada sekian contoh “sulit”.

Si Djamalu’ ddin dan si Djamin berdiri dihalaman.

Tahukan kamu apa kerdjanja?

Anak-anak itu membakar mertjun.

Sebab Hari Raja Puasa.

Riang benar hatinja.

Waktu bapanja keluar, ia berkata:

“Hati-hati, djangan kena matamu.

Nanti kamu buta.”

Dulu, bapak turut merestui bocah membakar mercon. Sekarang, pemerintah, mubaligh, polisi sering memberi larangan dengan pelbagai alasan. Dulu, aku takut membakar mercon. Temanku malah pernah memasukkan mercon ke kantong celanaku. Meledak! Pupuku sakit dan celana rusak. Aku tak marah, tak menangis. Aku sedang berpuasa berarti harus menahan nafsu marah. Aku mesti bersabar. Teman-teman menertawaiku, mengusulkan aku agar berkelahi. Aku tentu tak berani. Lelaki bernama Mawar adalah lelaki lembut, sabar, baik, pemaaf. Begitu.

Iklan