Tag

, , , , , , , , ,

Bandung Mawardi

Orang mengimpikan buku berarti “waras”. Aku mengartikan “waras” berkaitan jiwa-raga. Aku sering mengimpikan buku. Mimpi memang berarti “waras” tapi tak segera mewujud akibat “ilmu duit” belum bisa diselesaikan. Buku tentu tak melulu duit. Aku cuma sering mendapat pengakuan kemeranaan teman-teman saat mendapat informasi buku-buku baru dan ajakan menggandakan buku lawas. Mereka tampak tak memiliki “ilmu duit.” Mereka terus mengimpikan buku sampai ribuan jilid. Mimpi mereka pesat tapi “ilmu duit” tetap belum lulus. Aduh!

Aku sengaja menggunakan istilah pesat agar mengerti situasi masa silam saat revolusi atau pembangunan dikehendaki pesat. Di Jogjakarta, ada terbitan majalah bernama Pesat. Semula, berslogan “suara rakjat merdeka”, mengurusi “politik populer”. Sejak 1954, Pesat mengumumkan diri sebagai majalah mengurusi “politik, ekonomi, budaja.” Majalah tipis tapi berisi hal-hal penting jika aku ingin mengenang Indonesia masa 1950-an.

Pesat 1

Aku tak cuma ingin mengenang Indonesia. Aku pun memerlukan mengenang Solo, kota dengan puluhan julukan. Sekarang, Solo mau “dipaksakan” menjadi “kota kreatif”, minta pengakuan ke UNESCO. Menteri dan para pejabat mempromosikan Solo adalah kota dengan keunggulan-keunggulan kreatif. Keunggulan utama adalah desain. Sang menteri mengatakan ke publik dengan contoh desai batik. Omongan di Pasar Klewer menjadi pemberitaan di Kompas, Koran Tempo, Solopos…. Aku pasti tidak mengerti maksud pemerintah. Aku tak perlu repot turut mencipta kesuksesan Solo sebagai “kota kreatif”. Bagiku, Solo adalah “kota patung”. Eh, aku salah sebut! Kota patung bakal sah jika pemerintah memang membangun patung Soekarno di Manahan, 2015. Temanku pun berkata bahwa Solo adalah “kota film pendek”. Di Solo, pelbagai komunitas dan instiusi sering membuat acara festival film pendek. Teman-teman di Pawon tentu ingin menjuluki Solo sebagai “kota sastra”. Ah, puluhan julukan bisa membuatku lupa Solo. Lho!

Majalah Pesat edisi 18 September 1954 memuat materi-materi berkaitan acara Kongres Kebudajaan Indonesia di Solo. Redaksi menjelaskan: “… maka adalah mendjadi harapan kita jang sangat bahwa kongres jang ke-IV ini tidak akan mendjadi panggung preadvis dan perdebatan belaka, melainkan benar-benar segala sesuatu jang dibitjarakan dan diputuskan itu mendjadi suatu realitet ditengah-tengah masjarakat kita, dan mereka bisa mengenjam dan merasakan hasil jang sebanjak-banjaknja dari para ahli kebudajaan Indonesia jang berkumpul di Surakarta nanti.” Eh, harapan telah ada sejak dulu. Oh, harapan….

Pesat 2

S. Bradjanegara dalam artikel berjudul Menjambut Kongres Kebudajaan di Surakarta menulis tentang hal-hal penting dalam “pendidikan kebudajaan di sekolah, untuk masjarakat kota dan untuk masjarakat buruh dan tani.” Masa 1950-an, para pemikir mengutamakan “kebudajaan”, tak menjadi “soko guru” terpenting tapi perlu dimengerti agar publik tak selalu bergantung politik atau revolusi. Keterangan-keterangan S. Bradjanegara tampak bereferensi Taman Siswa. Kutipan-kutipan dan contoh sering mengacu ke Taman Siswa. Dulu, aku menduga orang-orang pintar adalah orang-orang berbumi-berlangit Taman Siswa. Wah! Konon, gagasan-gagasan tentang “kebudajaan” dan “kesenian” pernah diperkarakan oleh Taman Siswa dalam acara konferensi pendidikan keindahan, 1954.

Rivai Apin dalam Kongres Kebudajaan Indonesia di Solo mengajukan tulisan berjudul Pendidikan Kebudajaan untuk Masjarakat Kota. Rivai Apin memberi anggapan-tuduhan: “Didalam masjarakat kita oleh susunan keadaan seperti ini tidak terdapat golongan jang produktip dan aktip  bagi kehidupan masjarakat kota Indonesia dan tidak akan mungkin daripadanja berhubung kebudajaan burgerlijk dimana kehidupan masjarakat kita bisa berdasar meskipun terdapat djuga golongan pertengahan bangsa Indonesia dan kaum terpeladjarnja tetapi golongan ini sangat ketjil  kalau dibandingkan dengan keadaan jang dibutuhkan, biarpun kelihatannja mereka mempunjai kehidupan sendiri.” Aduh! Rivai Apin menulis satu kalimat: panjang dan rumit. Apakah Rivai Apin sulit membuat esai? Aku tahu Rivai Apin adalah pujangga, suguhkan puisi bersama Chairil Anwar dan Asrul Sani.

Pesat 3

Tulisan mengesankan justru aku dapatkan di halaman 12 – 13. A.S. Dharta menulis esai berjudul Pendidikan Kebudajaan bagi Kaum Buruh dan Tani. Aku pun tahu bahwa A.S. Dharta adalah pujangga dan esais. Dulu, pujangga memiliki otoritas ngoceh “kebudajaan.” Sangar! Sekarang, urusan “kebudajaan” sering diurusi oleh pejabat-birokrat dan dosen bergelar mentereng. Mereka berpidato dan pamer tampang. Aku kadang mengikuti acara-acara bercap “kebudajaan”. Penghadiran pejabat dan dosen bergelar mentereng sebagai pembicara sering membuatku lungkrah.

A.S. Dharta menulis: “Membitjarakan masalah pendidikan bagi kaum buruh dan tani tidak bisa terpisah dari keadaan hidupnja untuk mendapatkan bahan jang realistis bagi suatu tjara pendidikan jang sesuai dengan kesanggupan jang ada, maka suatu pendidikan jang mempersatukan teori dan praktek….” Apakah gagasan-gagasan dalam Kongres Kebudajaan Indonesia di Solo turut mempengaruhi A.S. Dharta sebagai penjelas kaum kiri? Di buku-buku sejarah sastra, A.S. Dharta dicatat ada di kubu kiri.

Majalah Pesat membuatku ingin menata ulang catatan-catatan mengenai ide-ide kesenian, pendidikan, “kebudajaan” di Indonesia. Aku memberanikan diri membeli 40 majalah Pesat dengan uang hutangan agar aku tak menanggung sesal saat ingin menulis dan mengoceh tentang Indonesia masa 1950-an. Begitu.

Iklan