Tag

, , , , , ,

Bandung Mawardi

30 Juni 2014, hari mengandung berkah. Aku masih lungkrah, bergerak belanja buku. Cuaca tak beres. Tubuh berpuasa. Aku sengaja belanja buku agar rezeki tulisan memiliki memori. 29 Juni 2014, resensiku untuk Surga Sungsang dimuat di Jawa Pos. 30 Juni 2014, esaiku untuk Mata Gelap tampil di majalah Tempo dan esaiku tentag fitnah tampil di Solopos. Aku berbahagia, setelah sekian hari menanggung sakit dan tak berduit. Rezeki dibelanjakan buku-buku lawas.

Detik-detik mau pulang, pedagang memberi kabar tentang tumpukan buku lawas di bawah meja: “Lihatlah!” Aku jongkok sambil bernafas pelan-pelan. Ada buku tipis bersampul kertas coklat. “Buku apa?” Aku mengintip…. Ah, buku berjudul Tiga Menguak Takdir, berisi puisi-puisi Chairil Anwar, Rivai Apin, Asrul Sani, terbitan Balai Pustaka (1950). Aku bersukacita tapi tak teriak. Pertimbanganku adalah urusan harga. Teriak dan wajah semringah bisa menjadikan harga naik dengan dugaan pedagang tahu situasi hatiku. Oh!

Takdir 1

Aku duduk di bawah pohon rindang, menghampiri pedagang. Setumpuk buku aku ajukan: “Berapa?” Pedagang memberi harga “mengejutkan”. Aku sulit merenung lama. Aku serahkan uang, bergerak menuju kios berbeda. Setumpuk buku sudah terbeli. Aku memutuskan belanja lagi meski harus berhutang. Belanja dengan omongan, uang diberikan belakangan. Tuhan, mataku menatap sejarah dan tanganku telah bersentuhan dengan sejarah. Puluhan tahun, aku membaca dan mengoleksi buku-buku lawas. Sekarang, aku berjumpa buku idaman. Hore!

Tiga pujangga memberi keterangan: “Tiga Menguak Takdir adalah tjita-tjita kami bertiga, Chairil Anwar, Rivai Apin, Asrul, jang satu setengah tahun jang lalu kami rantjangkan. Rantjangan ini tumbuh pada kami, ketika kami bersama hendak menegakkan Gelanggang. Pada waktu itu kami beranggapan mendjadikan Gelanggang sebagai suatu kumpulan kesenian…” Aku lekas ingat kehebohan Surat Kepertjajaan Gelanggang, 1950: “Kami adalah waris jang sah dari kebudajaan dunia dan kebudajaan ini kami teruskan dengan cara kami sendiri. Kami lahir dari kalangan orang banjak dan pengertian rakjat bagi kami adalah kumpulan tjampur-baur dari mana dunia-dunia baru jang sehat dan dilahirkan.”

Takdir 2

Aku tak mengutip puisi-puisi Chairil Anwar. Di pelbagai buku pelajaran dan buku sastra sudah sering ditampilkan. Aku mau mengutip puisi Rivai Apin. Puisi berjudul Melalui Siang Menembus Malam.

Musim kemarau telah bangkitkan

dan hembuskan dan sebarkan

napas kering maut

Kebenaran kegembiraan dalam ledakan pertama

Dari balik tembok-tembok sepandjang gang-gang

maut mengintai tak kundjung putus

Manusia hanjalah anak dari beberapa djam

Aku cuma mengutip dua bait. Aku terpukau dengan kalimat Rivai Apin untuk mengisahkan ketakabadian manusia, kalimat sederhana mengandung pengertian waktu. Aku mesti menggunakan untuk garapan esai: “Manusia hanjalah anak dari beberapa djam.” Puisi tak ingin filosofis tapi menjelaskan padaku tentang renungan pujangga masa 1950-an.

Takdir 3

Aku beralih membaca puisi-puisi Asrul Sani. Aku cenderung menggandrungi esai-esai Asrul. Dulu, Asrul Sani adalah pujangga, cerpenis, esais, penerjemah. Puisi berjudul Sebagai Kenangan Kepada Amir Hamzah, Penjair Jang Terbunuh tampak sederhana tapi mengingatkanku dengan biografi sang pujangga. Aku membaca puisi-puisi Amir Hamzah, sulit mengerti. Aku membaca biografi Amir Hamzah melalui buku Nh Dini dan ulasan melalui HB Jassin, perlahan mengerti. Eh, Amir Hamzah pernah bersekolah di Solo. Aku pantas mengenang bersama Asrul Sani.

Kami akan selamanja tjintakan engkau,

engkau penjair!

Lagu jang dulu kau dendangkan atas kertas gersang

Nanti kami rendam dilaut terkembang

Hati kita akan sama selalu,

dari waktu sampai waktu

Aku pernah mengamati foto Amir Hamzah: lugu dan cakep. Sang pujangga tapi turut dalam pergerakan kebangsaan saat berbiak di Solo. Warisan-warisan puisi Amir Hamzah masih dihormati meski orang-orang semakin sulit mengerti. Aku masih penasaran dengan cerita asmara Amir Hamzah. Penggalan-penggalan kisah sudah diajukan Nh Dini. Aku ingin cerita utuh, berlanjut ke misteri kematian akibat revolusi sosial.

Buku dengan tebal 56 halaman, menggeretku ke permulaan saat mencumbui puisi-puisi dari para pujangga, masa 1920-an sampai 1950-an. Dulu, aku berlagak menjadi pujangga saat SMA. Di perpustakaan, aku membiasakan membaca buku-buku puisi. Aku mulai belanja dan mengoleksi buku-buku puisi. Aku pun menulis puisi. Sekarang, aku tak mendapat predikat pujangga akibat puisi-puisi jelek dan tak keruan. Ah, aku tak minder. Pertemuan dengan Tiga Menguak Takdir bisa mengubah takdirku untuk tekun menulis puisi, esai, resensi. Aku belum ingin mencampur menjadi puisi-esai. Oh, aku masih malu. Begitu.

Iklan