Tag

, , , , , ,

Bandung Mawardi

Tuduhan terlibat PKI bisa membuat orang kehilangan masa depan. Rezim Orde Baru selalu memunculkan sebutan PKI untuk menghancurkan orang atau institusi. PKI adalah tiga huruf memicu petaka jika tak ada keberanian melawan penguasa. Sejak 1965, Indonesia menjadi negeri bergelimang darah. Keruntuhan rezim Orde Lama, kemunculan Soeharto sebagai penguasa menebar teror. Orang atau institusi bakal dituduh PKI jika tak sepaham dengan Orde Baru. Eh, tuduhan PKI masih berlaku sampai sekarang, jelang pilpres 9 Juli 2014.

Aku tak ingin sibuk berurusan fitnah-fitnah dalam agenda perebuatan jabatan presiden. Dua esai sudah aku sajikan di Solopos dan Koran Tempo. Fitnah menggunakan tiga huruf telah membuat orang-orang marah. Aku mengerti ada situasi tak beres dalam politik Indonesia. Politik dengan huruf telah mengacaukan adab, menghinakan manusia. Aduh!

Bandaharo 1

Tubuhku dalam kondisi lapar menemukan buku puisi berjudul Dari Daerah Kehadiran, Lapar dan Kasih (Jajasan Pembaruan, 1958), kumpulan puisi H.R. Bandaharo. Para kolektor, pembelajar sejarah, peminat sastra tentu gampang memberi penjelasan tentang penerbit Jajasan Pembaruan. Buku-buku terbitan Jajasan Pembaruan adalah buku-buku “merah”, siasat literasi untuk turut membarakan revolusi di Indonesia. buku-buku terjemahan dan karangan tokoh-tokoh kiri sering diterbitkan oleh Jajasan Pembaruan.

Pamusuk Eneste (1990) menginformasikan: “H.R. Bandaharo atau Banda Harahap lahir 1 Mei 1917 di Medan. Pernah menjadi redaktur Harian Rakjat dan harian Pendorong, serta pernah aktif dalam Lekra. Kumpulan sajaknya, Dari Daerah Kehadiran, Lapar dan Kasih (1958), mendapat Hadiah Sastra Nasional BMKN 1957/1958. Karyanya yang lain: Sarinah dan Aku (1941) dan Dari Bumi Merah (1963).” Pujangga bernama H.R. Bandaharo berarti memberi kontribusi untuk perkembangan sastra dan revolusi di Indonesia.

Bandaharo 2

Aku membaca puisi-puisi H.R. Bandaharo dengan keluguan, mengenang masa 1950-an saat para sastrawan berseteru tentang sastra, ideologi, partai politik, revolusi. Aku tak terlalu ingin menggunakan tatapan pelik untuk membaca puisi. Bagiku, puisi bisa mengantar kenangan-kenangan tak terduga. Wah! Aku kutipkan puisi berjudul Tak Seorang Berniat Pulang.

Barisan menjongsong hari datang

kuwakili kini ini;

derita dan duka dari zamanku

kudukung dipunggung

Tak seorang berniat pulang

walau mati menanti

Penggunaan kata “pulang” dalam puisi-puisi Indonesia sering membuatku sedih dan merinding. Para pujangga tenar sering menggunakan kata “pulang”, mengisahkan derita, kematian, kehilangan, kekalahan….. Di jagat prosa, penggunaan kata “pulang” juga dramatis. Aku tentu mengingat novel berjudul Pulang garapan Toha Mochtar dan novel berjudul Pulang garapan Leila S. Chudori. Penggunaan kata “pulang” semakin menular di lirik-lirik lagu.

Di halaman 8, ada puisi berjudul Tekad Baru, puisi untuk Tam dan Banum. Puisi membuka lembaran-lembaran kenangan angan demokrasi dan revolusi di Indonesia. Puisi pun bertugas untuk berkisah.

Kita dilatih dengan tumit laras fasisme

dan bertemu dalam njala api revolusi

Kita bukan pelarian dari malam 3 abad

tapi kita meninggalkan kelam dengan kesadaran

menundju terang sinar tjemerlang

Mari kita tanjai diri sendiri

Aku mau apa?

Aku lekas mengingat puisi sebagai ajakan mengenang sejarah kolonialisme. Puisi sanggup membuka mataku melihat sejarah ketimbang tumpukan buku pelajaran sejarah di sekolah. H.R. Bandaharo tampak heroik: “Kita bukan pelarian dari malam 3 abad.” Sangar! Kalimat sangar dari pujangga untuk menjelaskan durasi kolonialisme. Aku mulai mengartikan “malam 3 abad” adalah kemiskinan, kebodohan, derita, luka, ketakbebasan, airmata…. Sejarah pun bermunculan dalam satu kalimat.

Bandaharo 3

H.R. Bandaharo di halaman terakhir sajikan puisi berjudul Stalingrad. Para pembaca puisi masa 1950-an tentu gampang menuduh bahwa pujangga berhaluan kiri akibat mengisahkan kota dan tokoh di Uni Sovjet. Eh, sekian puisi ada penghadiran tokoh bernama Lenin dan Stalin.

Di Stalingrad

pahlawan tak mati-mati

Mulai dari Bukit Mamaev

sampai kearus Wolga

kepahlawanan mendjiwai kehidupan

Mulai djenderal Tjuikov

sampai sersan Pavlov

dan berpuluh ribu – jang tak dikenal –

partisan-partisan

mendukung Stalingrad melalui abad

Setiap tapak tanah

bersiram darah

di Stalingrad

Dan pahlawan tak mati-mati

Aku menduga puisi ditulis saat pujangga berkunjung ke Stalingrad. Puisi menjadi laporan berisi pujian dan kebanggaan. Barangkali puisi bisa jadi referensi bagi revolusi di Indonesia. Begitu.

Iklan