Tag

, , , , ,

Bandung Mawardi

Orang-orang tentu hidup bergelimang masalah. Aku ingat pertandingan sepak bola antara Belanda dan Meksiko. Lihatlah, wajah dan cara berbusana si kiper Meksiko. Tiga detik melihat, aku langsung ingat dangdut. Lho. Di kiper mirip artis dangdut “kampungan”. Aku tak bermaksud mengejek dangdut. Hari demi hari, aku sering menjalani hidup dengan masalah tapi diiringi lagu-lagu dangdut, diputar oleh para tetangga: samping rumahku, depan rumahku, belakang rumahku. Dangdut tak bisa mengusir masalah. Eh, aku mesti mengurusi si kiper Meksiko, lelaki  berwajah-berbusana dangdut. Apakah di Meksiko ada dangdut?

Penampilan sebagai kiper memang hebat. Cara bergerak dan ekspresi wajah selalu mengingatkanku dengan artis dangdut. Kenapa? Ah, aku tak bisa menjelaskan. Di desaku, orang-orang bermasalah sering rajin mendengarkan dangdut. Aku pun turut mendengarkan meski di komputerku ada selingan lagu-lagu Sore, Dialog Dini Hari, Gita Gutawa, Frau, Indra Lesmana,  Manthous….

Ah, lupakan si kiper-artis dangdut. Aku mengurusi masalah-masalah saja. Indonesia bergelimang masalah. Tugas orang pintar adalah membuat statistik masalah. Siapa menjadi juara sebagai peternak masalah? Obat paling manjur untuk mematikan masalah? Masalah juga bermunculan di acara debat capres-cawapres. Aku pun mulai mencatat masalah-masalah para moderator: tukang perintah bertepuk tangan dan pemberi nasihat agar penonton menikmati pesan-pesan alias iklan-iklan. Aduh! Aku jadi sinis dengan moderator. Bagiku, moderator bisa menambahi masalah demokrasi.

Soal 1

Aku tak mau sibuk mengurusi masalah-masalah sekarang. Dulu, Hamka pernah mempublikasikan buku berjudul 1001 Soal-soal Hidup  (Bulan Bintang, 1960), cetakan ke tujuh. Terbit awal, 1940. Soal akrab dengan masalah. Aku memutuskan masalah harus bertemu dengan soal melalui buku lawas. Semula, tulisan-tulisan di buku pernah terbit dalam rubrik di majalah Pedoman Masjarakat (1936-1940). Hamka dalam pengantar untuk edisi 1960 menulis: “Banjaklah kedjadian jang sulit dalam masjarakat, dan banjaklah pemuda menanjakan djalan melepaskan diri daripada kesulitan itu; semoga hal-hal jang serupa dengan jang telah kedjadian dahulu, dapatlah diambil kias dari pada hal jang dikupas dalam 1001 Soal Hidup ini adanja.” Hamka pasti pintar matematika, berhasil menghitung soal hidup: selama empat tahun terkumpul 1001 soal.

Aku mengandaikan buku ini dibaca Prabowo Subianto-Hatta Rajasa dan Joko Widodo-Jusuf Kalla tentu bakal memicu penerbitan buku semiliar soal hidup di Indonesia. Mereka menerbitkan buku dengan tebal ribuan halaman, tak usah pamer diri dengan debat wagu di hotel, disiarkan langsung oleh televisi. Mereka tentu bisa terhormat meski tak setara dengan Hamka.

Soal 2

Di buku, memuat soal pemuda mengenai pendidikan dan agama: “Dalam pergaulan sehari-hari itu saja mendapat kenjataan, bahwa teman-teman saja jang berpendidikan agama itu, suka meninggalkan sembahjang, gemar akan pergaulan bebas dengan perempuan setjara tersembunji, sedang teman saja jang berpendidikan Barat itu, boleh dikatakan tiada pernah tinggal sembahjang setiap waktu dan pergaulan bebas dengan perempuan telah didjauhinja.”

Hamka menjawab: “Berapa banjaknja surat-surat kabar bahasa Arab jang mengandjurkan vrij-omgang, menarok gambar-gambar bintang fil dengan tiga perempat telanjang, film-film baru, gadis-gadis kabaret. Buktinja dapat kita lihatpada film-film Mesir jang datang kemari, sebagai Addifa, Fi Lailatin Mumthirah, film-film Badi’ah Mashabni sebagai Malaikat Masarih jang lebih menjolok mata dari pada film-film dansa jang keluaran Amerika sekalipun . Maka pada sekolah bernama Islam, tetapi disana hanja mementingkan bahasa Arab, pemuda atau pemudi didikan disana, tidaklah akan berobah dengan didikan sekolah Barat. Didikan sekolah Barat, jang kita beri tjap vrij-omgang itu, tidaklah menjolok mata kalau sekiranja mereka bergaul bebas, tidak salah pemandangan umum, sebab memang sudah begitu dasarnja. Disana terdapat persamaan beladjar didalam satu kelas, sedang pada sekolah-sekolah didikan agama itu masih perlu tabir.”

Soal 3

Jawaban Hamka membuatku kaget. Cara membedakan sekolah bercap Islam dan Barat dicontohkan dengan film dan situasi di kelas. Film-film Mesir bisa merangsang imajinasi seks. Wah! Urusan tabir pun dianggap kuno. Aku malah ingat dengan obrolan dengan teman-teman saat menggarap esai-esai tentang madrasah dan pesantren. Memori tentang madrasah dan pesantren sering mengandung “peremehan”. Aku selalu ingin mengenang dengan mengetahui perdebatan-perdebatan sengit mengenai pendidikan sejak abad XIX.

Ada susulan soal dari pemuda mengenai siasat memepelajari agama Islam: “Bagaimanakah mestinja kami pemuda-pemuda didikan Barat mempeladjari agama Islam itu, sedjak dari awal dengan benar, sehingga akan memberikan kepuasan lahir dan bathin kepada kami?” Hamka menganjurkan tiga jalan: “berguru, membaca, bergaul.” Jawaban gamblang. Sekarang, orang-orang bisa memberi jawab: ikut pengajian di pelbagai tempat atau rajin menonton acara pengajian di televisi. Jalan kedua tentu jarang ditempuhi: membaca. Mereka cenderung bangga sebagai pecandu pengajian sambil sibuk mengurusi busana, jadwal, foto bersama…

Eh, aku juga memiliki soal alias masalah dalam hidup. Aku mau menulis surat kecil untuk Hamka. Sang pujangga dan ulama sudah meninggal, mewariskan buku-buku. Aku tak mungkin berkirim surat ke alam berbeda. Begitu.

 

Iklan