Tag

, , , , ,

Bandung Mawardi

Adzan berkumandang, tak mengubah nasib tim Brasil. Babak I, Brasil telah makan 5 gol dari Jerman. Babak II, Brasil makan dua gol. Aduh! Detik-detik terakhir, Brasil memberi 1 gol. Aku merasa kikuk menghadapi televisi. Pertandingan sepak bola tak segawat imajinasiku. Aku sedang belajar menonton sepak bola, tak terlalu mengerti pertandingan Jerman-Brasil menjadi tontonan menjengkelkan.

Ikhtiar mengerti sepak bola aku buktikan dengan mempelajari buku-buku tentang sepak bola. Aku pun berlangganan harian Bola. Adegan menonton pertandingan sepak bola di televisi menjadi penting meski bakal menganggu stabilitas tubuh dan waktu. Sekian esai tentang sepak bola telah aku tulis. Esai tentang sepakbola dalam cerita dan berita “tempo doeloe” sudah tampil di Jawa Pos. Esai-esai lain belum muncul di koran dan majalah.

Dulu, sekian orang dolan ke Bilik Literasi, berurusan sepak bola. Mereka datang dengan komandan bernama Akhmad Ramdhon. Perjumpaan dimulai dengan santap malam, teh, gorengan, roti bakar, serabi, kacang…. Malam berlimpah makanan tapi listrik sisi sebelah padam. Obrolan bergerak ke pelbagai tema, tak melulu sepak bola. Di Bilik Literasi, ada buku-buku lawas sepak bola. Aku juga mengoleksi berita-berita tentang sepak bola di pelbagai majalah lawas.

Bal 1

Di Indonesia jarang diterbitkan buku-buku sepak bola. Dulu, ada buku berjudul Permainan Sepak Bola: Pemimpin untuk Tehnik dan Taktik Permainan (G. Kolff & Co, 1949) garapan C.J. Groothoff. Penerjemah ke bahasa Indonesia adalah F.G.E. Rorimpandey. Buku memiliki tebal 208 halaman. Sangar! Aku menganggap buku penting bagi persepakbolaan di Indonesia. Keputusan membeli dan mengoleksi buku sepak bola menjadi “hiburan” dari hari-hari bersama buku di Bilik Literasi. Aku tak bisa bermain sepak bola tapi memiliki hak membaca-menulis tentang sepak bola. Dulu, aku cuma dipaksa menjadi penonton cadangan atau pemandu sorak jika ada pertandingan di desa. Aku didandani tidak keruan dan dibekali rokok sebungkus untuk meramaikan pertandingan.

C.J. Groothoff mengabarkan: “Dikepulauan Indonesiapun sepak bola telah populer, ja, bahkan sedemikian populernja, sehingga sebagai telah diberitahukan kepada saja, orang sangat perlu akan sebuah pemimpin untuk permainan itu. Sebab orang Indonesia tidak hanja suka bermain bola, tetapi suka melakukan permainan bola jang bagus dan sedemikian rupa, sehingga pemain-pemain di Indonesia dapat termasuk pemain-pemain internasional, sungguhpun mula-mula ta’ seberapa.” Penulis berlagak memuji pemain dan permainan sepak bola di Indonesia. Penulis memang ingin memberi godaan agar buku laku.

Bal 2

Ada pengakuan penting dari C.J. Groothoff: “Saja ada melihat pertandingan kesebelasan Indonesia jang pertama kali dikota Reims pada tanggal 5 Juni 1938, melawan kesebelasan Hongaria jang kuat. Disitulah dapat saja pastikan, bahwa kekurangan tinggi badanlah jang terutama menjebabkan kekalahan 6 – 0 melawan salah satu dari pada kesebelasan-kesebelasan permainan bola berupa Eropah-tengah.” Oh, si penulis pernah jadi saksi hidup alias penonton.

Buku dipersembahkan bagi publik di Indonesia. C.J. Groothoff memiliki hubungan erat dengan Indonesia melalui sepak bola dan kematian sang anak dalam perang. Aku mulai saja mengutip tentang isi buku. C.J. Groothoff menjelaskan: “Tehnik bola… ialah ketangkasan menguasai bola dengan sempurna. Ada pemain-pemain jang tentang ini mempunjai suatu pembawaan atau anugerah Allah, jang seolah-olah merasa dengan tepat, bagaimana harus menghentikan bola itu, bagaimana mengekopnja atau menedangnja.” Aku tdidak termasuk penerima anugerah Allah. Selama di SD sampai SMA, jam olah raga selalu membuatku malu. Aku tak bisa menjadi pemain sepak bola. Berdoa saja menjadi penonton cadangan.

Bal 3

Di halaman 159, aku mendapat penjelasan wagu: “Kesebelasan jang menang suatu pertandingan, ialah kesebelasan jang terlebih banjak golnja. Inilah suau pemberitahuan undang-undang permainan, dari mana dapat diambil kesimpulan, bahwa jang terutama dalam pertandingan itu, ialah mengadakan gol. Djika ta’ membuat gol, tentu ta’ menang.” Aku tentu sudah mengerti sebelum menerima penjelasan dari C.J. Groothoff. Indonesia tentu tak menang jika mendapat 6 gol dari Hongaria. Jelas! Indonesia pasti kalah. Pasti!

Buku Permainan Sepak Bola: Pemimpin untuk Tehnik dan Taktik Permainan penting sebagai bacaan “agak” penting. Aku tak ingin selalu mengatakan buku-buku lawas harus penting. Buku tentang sepak bola bercampur dengan buku-buku sastra, sejarah, filsafat, agama, politik, antropologi, sosiologi, ekonomi…. Di Bilik Literasi buku  Permainan Sepak Bola: Pemimpin untuk Tehnik dan Taktik Permainan mungkin tersipu malu jika berhadapan buku-buku cantik dan ganteng. Aku sengaja menjadikan buku garapan C.J. Groothoff sebagai penghuni Bilik Literasi agar tak hancur atau dilupakan publik. Begitu.

Iklan