Tag

, , , , , , ,

Bandung Mawardi

Di Kompas, 8 Juli 2014, Ignas Kleden menulis: “Anak-anak SD memikul tas penuh buku di punggungnya, seakan mereka adalah mahasiswa doktoral yang tengah menulis disertasi atau peneliti yang sedang mengecek teori penelitiannya.” Aku adalah pembaca tulisan-tulisan Ignas Kleden, sejak SMA. Semula, aku menemukan esai-esai Ignas Kleden di Prisma, Tempo, Kompas… Aku pun mengoleksi buku-buku Ignas Kleden. Aku pernah “meniru” tapi sadar diri tak memiliki kemampuan intelektual mumpuni. Sehari menjelang pilpres, 9 Juli 2014, sindiran untuk dunia pendidikan diajukan agar publik eling nasib bocah-bocah SD. Mereka mesti bergembira, tak harus menerima kutukan bersekolah dengan “paksaan” menjadi pintar.

SR 1

Kutipan di Kompas bertalian dengan buku lawas berjudul Pengantar Didalam Praktik Pengadjaran dan Pendidikan 1 (Noordhof-Kolf N.V Djakarta, 1951) susunan Crijn dan Reksosiswojo. Tebal 120 halaman. Aku memegang cetakan keenam. Buku serial berguna untuk mengerti situasi pendidikan masa lalu. Di halaman 9 dan 10, ada keterangan bahwa “kewadjiban bersekolah haru diperintahkan” bagi bocah berusia 6-12 tahun. Bersekolah bisa “mendorong kemadjuan masjarakat.” Keterangan lanjutan: “Dan untuk memadjukan Indonesia setjara tjepat djugalah agaknja orang-orang dewasa, jang masih buta huruf, dengan selekas-lekasnja beladjar membatja dan menulis.”

Dulu, orang-orang mengenal SR (Sekolah Rakjat), sebelum berganti menjadi SD (Sekolah Dasar). Aku bisa memastikan bocah-bocah di SR tak mungkin membawa “tas penuh buku di punggung”. Peralatan sekolah sering belum lengkap. Buku-buku masih terbatas. Semua bocah belum tentu bersekolah membawa tas. Mereka tak terbebani tas berisi buku-buku pelajaran agar pintar. Sekolah tak ingin mereka kehilangan kegembiraan. Dulu, aku saat di SD juga jarang membawa buku penuh di tas. Eh, tas saja sering lungsuran. Buku-buku pun pinjaman atau lungsuran.

SR 2

Bocah-bocah dianjurkan bersekolah dengan gembira tak diharapkan tak goblok. Penulis buku berpesan: “Tjukuplah kiranja sekarang, kalau kita katakan: Tinggal kelas itu adalah suatu penjakit jang kedjam! Karena itu tiap-tiap guru hendaknja berusaha sedapat-dapatnja menghindarkan soal itu. Guru, jang dikelasnja banjak muridnja jang tinggal, membuktikan, bahwa ia telah berbuat salah-salah jang penting. Mungkin ia telah menuntut terlalu banjak dari pengetahuan murid-muridnja. Mungkin djuga guru tidak mengenal benar seluk-beluk pekerdjaannja.” Ingat, guru bisa bersalah. Sekarang, aku jarang melihat guru-guru merasa atau mengaku bersalah. Kenapa?

SR memiliki tugas dan tujuan. Tugas SR adalah “turut membantu dalam tiga matjam pendidikan anak-anak, jaitu: pendidikan djasmani, pendidikan ketjerdasan (akal) dan pendidikan kesusilaan (budi pekerti). Apakah tujuan SR? Penulis memberi renungan menantang: “Hendak didjadikan orang kuat jang mentereng diseluruh lapangan olahraga? Atau sematjam mesin berpikir jang dengan hati dingin dan tak berperasaan menjelami segala rahasia jang ada diantara bumi dan langit? Ataukah didjadikan seorang diktator jang penuh gairah dan nafsu berkuasa meradjalela diseluruh sekelilingnja? Hendak didjadikan seorang saleh atau seorang jang tidak mau tahu akan Tuhan? Hendak dididik mendjadi warga negara jang demokratis, ataukah anak-anak itu dididik mendjadi pengekor, jang membuta tuli dan tak berpikir, dari pada seorang diktator?”

Aku menduga tujuan SR tentu demi kebaikan. Tujuan SD tentu persis tujuan SR jika dilaksanakan sesuai konstitusi dan para guru jarang berbuat salah. Aku tak mau memberi prasangka buruk. Sekarang, sisi kebalikan dari tujuan kebaikan mulai tampak. Sistem pendidikan di SD turut mempengaruhi bocah menjadi “mentereng”, “mesin berpikir”, “diktator”…. Pengaruh buruk terus belanjut sampai dewasa. Ingat, para tokoh kondang di Indonesia mungkin menjadi sisi kebalikan dari tujuan SR atau SD.

SR 3

Guru berperan agar tujuan SR atau SD tak meleset. Siapa guru? Dulu, pengertian guru tercantum dalam Undang-Undang tentang Dasar-Dasar Pendidikan dan Pengadjaran: (1) Guru harus seorang jang saleh; (2) Budi pekertinja harus tak tertjela; (3) Ia harus pencinta nusa dan bangsa, serta kebudajaan dan bahasa kebangsaannja, bahasa Indonesia; (4) Ia harus seorang demokrat jang sedjati; (5) Ia harus berperasaan sosial, kasih sajang kepada sesama hidup dan kasih sajang itu dibuktikan pula dengan perbuatannja.” Wah, sosok guru mesti “sempurna”. Aku berharapan agar guru-guru di masa sekarang adalah guru “sempurna”, tak melulu berpikiran gaji besar, membeli motor atau mobil apik, pamer pakaian parlente, pelit membeli buku, bersombong dengan bahasa Inggris, pamer rumah megah dan berpagar, pamer telepon genggam mahal…. Aku tetap menginginkan guru adalah teladan!

Penulis memberi nasihat: “… kewadjiban guru itu sangatlah beratnja. Ialah jang mempunjai pengaruh jang sangat besar dalam pembentukan budi pekerti murid-murid itu dengan teladan-teladannja, pahamja, sifat-sifat perseorangannja. Pengadjaran dapat berharga sebagai alat siasat, dapat memberi pengaruh jang baik dalam membentuk sifat-sifat watak, akan tetapi tertjapai-tidaknja hal itu kebanjakan bergantung kepada orang  jang memberi pengadjaran itu.”

Tugas menjadi murid juga berat. Aku selalu mengingat masa-masa sekolah  adalah kumpulan tugas berat sebagai murid. Di SD, aku sudah mendapat tugas seberat 1 ton. Di SMP, mendapat 2 ton. Di SMA, mendapat 3 ton. Tugas sebagai murid melampaui berat badan. Sekarang, tugas dengan berat 6 ton telah aku tinggalkan di masa lalu. Aku pantas memberi sesal dan malu. Aku telah gagal menjadi murid teladan agar mempengaruhi guru-guruku. Begitu.

Iklan