Tag

, , ,

Bandung Mawardi

9 Juli 2014, usai coblosan, orang-orang diajari ilmu berhitung tingkat tinggi untuk “memastikan” pemenang dalam pilpres. Lihat, di televisi-televisi terpampang angka-angka, memberi godaan bagi capres-cawapres membuat deklarasi kemenangan. Mereka melihat angka-angka dengan sejenis “kepastian”, hasil dari penelitian ampuh. Suara para pemilih dihitung cepat menggunakan sistem ilmiah. Aku memang melihat angka-angka tapi tak mengerti cara menghitung suara para pemilih. Angka menjadi “data” untuk mengumumkan kemenangan. Eh, dua pasangan capres-cawapres mengaku menang.

Aku mulai merenung…. Aku tak mencoblos tapi merenungi Indonesia. Wah, sombong! Renunganku tentang ilmu hitung, angka, kemenangan, televisi… Detik demi detik, aku mengingat hidupku sejak bocah, belajar ilmu hitung tapi tak becus. Ilmu hitung sudah diajarkan di rumah, sekolah, pasar, jalan, warung…. Ilmu hitung, ilmu pentung dalam hidup tapi menularkan derita saat jadi mata pelajaran di sekolah.

1948, terbit buku berjudul Soal-Soal Hitoeng bagi dan dari Peraktik (W. Versluys N.V. Amsterdam-Batavia) karangan Soetan Sanif. Keterangan di bawah judul: “Boeat kelas jang tertinggi pada sekolah rendah.” Dulu, bocah-bocah sekolah tentu cerdas. Mereka sanggup mempelajari buku berisi soal-soal hitungan. Sekian bocah pasti menjadi pejabat atau pengusaha saat besar, berbekal ilmu hitung bisa mempertimbangkan angka-angka demi kekuasaan dan laba. Ilmu hitung berarti berkhasiat.

Hitung 1

Soetan Sanif menjelaskan: “Boekoe ini agak berlainan dari pada boekoe hitoengan biasa. Lainnja ialah boekoe ini sengadja diberi bergambar-gambar. Maksoednja oentoek menarik hati anak-anak.” Hore! Belajar dengan gambar-gambar.  Dulu, aku sering membuka buku-buku pelajaran SD, berharap mendapat gambar-gambar untuk dilihat dan ditiru ketimbang mengurusi soal-soal latihan.

Di halaman 6, lihatlah gambar apik tapi soal sulit. Gambar orang-orang di kampung. Soal minta dijawab: “Didalam kampoeng Kelapa, djoemlah anak-anak jang bersekolah ada 105 orang dan jang soedah beroemoer toedjoeh tahoen, tetapi beloem bersekolah 63 orang. Berapa % anak-anak jang bersekolah dan berapa % jang tidak bersekolah?” Aku tentu tak mau menjawab. Weh, ingat 53 % dan 47 %: laporang hitung cepat di televisi. Ah, demokrasi berpersen.

Hitung 2

Aku malah ingin menambahi soal: “Berapa jumlah bocah umbelen? Berapa jumlah bocah tak memiliki sepatu untuk bersekolah? Berapa bocah berkepala kuncung?” Jawaban tak usah pakai persen. Gunakan angka! Aku tak menuntut jawaban benar. Jawaban boleh diberikan meski ngawur.

Lihatlah halaman 18! Ada gambar kesibukan orang-orang di pasar. Kenikmatan melihat gambar diganggu soal njlimet: “Waktoe si Tamindan si Mochtar pergi kepasar, maka menoeroet taksiran mereka itoe djoemlah orang dipasar itu 960. Djika djoemlah orang jang berbelandja kira-kira 15 kali jang berdjoealan, berapa djoemlah orang jang berbelandja dan berapa jang berdjoealan? Aku memastikan lagi tak mau menjawab.

Soetan Sanif naif. Sekarang, pasar tak mesti diberi soal hitungan. Pasar adalah tempat kunjungan bagi capres-cawapres. Jumlah orang di pasar semakin meningkat. Mereka datang untuk melihat, bersalaman, berteriak, memberi jari, berfoto…. Aku sulit menghitung jumlah orang di pasar saat ada kunjungan para capres-cawapres. Soal tambahan dariku: “Berapa jumlah pendukung Prabowo Subianto? Berapa jumlah orang berhasil salaman dengan Joko Widodo?” Aduh, aku masih terbawa efek piplres. Ampun. Ampun.

Hitung 3

Halaman demi halaman, berisi gambar-gambar dan soal-soal. Aku salut dengan bocah-bocah di masa lalu, hidup bersama soal-soal hitungan dengan contoh-contoh sederhana: sawah, pasar, kampung, tanaman, mobil, kambing… Pelbagai hal bisa dibuatkan soal cerita agar bocah-bocah mau menjawab dengan gembira.

Aku sering berpikiran di Indonesia mesti ada museum buku pelajaran. Jika sang juru bicara pasangan Joko Widodo-Jusuf Kalla berhasil jadi menteri pendidikan, aku mengusulkan agar ada museum. Di museum, dipamerkan buku-buku pelajaran, dari masa ke masa. Peneliti digoda memberi penjelasan beda mutu buku pelajaran lawas dan baru. Konon, buku-buku pelajaran sekarang digratiskan pemerintah. Sang menteri juga berjanji pengiriman buku ke sekolah-sekolah tak bakal terlambat. Sang menteri memang suka memberi janji. Hebat! Buku karangan Soetan Sanif pantas jadi koleksi museum buku pelajaran, dipamerkan dan diteliti agar diketahui kecerdasan ilmu hitung bocah-bocah di masa lalu. Mereka pandai ilmu hitung untuk berhitung nasib. Aku masih sulit dengan ilmu hitung tapi terlanjur berani berhitung nasib.

Di halaman 103, ada gambar dua lelaki. Gambar dilengkapi soal hitungan tentang utang. Wah, aku semakin tak mau menjawab soal-soal berkaitan utang. Soal: “Nastap memindjam oeang f 50.- dengan perdjandjian mengembalikan oeang itoe beserta boenganja f 60.- sesoedah seboelan. Karena ia ta’ memenoehi djandji, oetangnja tiap boelan naik dengan peratoeran boenga berboenga poela 20 % seboelan. Berapa oetangnja sesoedah 3 boelan?” Sulit, sulit, sulit. Aku cuma mengerti bahwa jika sudah 9 bulan, manusia bakal lahir. Lho!

Aku memang tak mau menjawab soal-soal dalam buku karangan Soetan Sanif. Buku ini sengaja aku koleksi agar mengingatkan tentang kebodohan. Buku bisa bercerita meski bertaburan angka dan gambar. Begitu.

Iklan