Tag

, , ,

Bandung Mawardi

“Umumnja gadis-gadis kita memasuki hidup berumah tangga, padahal belum tjukup matang untuk bertanggungdjawab dan belum mempunjai persediaan dan pengertian untuk mengurusnja. Dan lebih dari itu belum menguasai dan mengetahui sumber-sumber jang ada dalam keluarganja dan mempergunakan sumber-sumber itu untuk mentjapai kebahagiaan.” Kalimat-kalimat dituliskan oleh Nj. Aisjah Dachlan dalam buku Membina Rumah Tangga Bahagia dan Peranan Agama dalam Rumah Tangga (Jamunu, 1969). Buku lawas, berharga dan bermakna.

Istri 1

13 Juli 2014, aku dan teman-teman membaca sekian penjelasan Asma Nadia tentang istri dan muatan pesan dalam sinetron Catatan Harian Seorang Istri, tersaji di RCTI. Kita merasa “bingung” dengan pemikiran-pemikiran Asma Nadia. Malam, teman-teman berkumpul dan ngobrol di Bilik Literasi, mengurusi tema istri. Tujuh lelaki dan satu perempuan berlagak mengerti istri. Wah! Obrolan ganjil. Di atas karpet, ada kopi, gorengan, martabak, kacang, bakmi, susu. Kita mulai memberi kritik-kritik atas pengertian istri dari para mubaligh, lagu, sinetron, novel….

Obrolan memang tak bermaksud untuk memahami utuh tentang istri. Kita cuma memberi reaksi atas penjelasan-penjelasan Asma Nadia di Koran Tempo, 13 Juli 2014. Aku berlanjut mempelajari istri dengan membaca buku karangan Aisjah Dachlan, berharap menemukan penjelasan-penjelasan penting dan menggambarkan perkembangan makna istri di Indonesia, dari masa ke masa. Buku dengan tebal 152 halaman, terbit sebelum pengesahan Undang-Undang Perkawinan.

Istri 2

Aisjah Dachlan menjelaskan: “Rumah tangga ialah tempat tinggal pasangan suami isteri dimana anak-anak dilahirkan dan dibesarkan dimana ummat manusia mula-mula membina dan menjusun keluarga, baik keluarga ketjil atau keluarga besar.” Rumah tangga tentu berbeda pengertian dengan rumah tetangga. Pasti! Aku tersentuh dengan perbedaan peran dalam rumah tangga, menggunakan metafora: “Rumah tangga laksana suatu keradjaan ketjil, sang ajah bertindak sebagai penguasa dilandasi tjinta kasih sajang, sehingga dapat dirasakan manisnja kehidupan dan perdamaian. Sang ibu mengurus dan mengatur, mendjadikan rumah tangga itu sebagai muara jang aman damai, pelabuhan jang teduh tenang dan tempat peristirahatan jang indah menarik untuk seluruh keluarga baik waktu suka dan duka, waktu sakit dan senang tempat mereka menjimpan hati, pergi tempat bertanja, pulang tempat berberita.” Penulis tentu keseringan membaca sastra. Puitis tapi wagu.

Siapa mau menjadi suami? Menikahlah. Urusan menjadi suami sering memusingkan teman-teman jika berpikir tentang pekerjaan, modal, calon… Teman-teman harus memiliki pertimbangan-pertimbangan matang sebelum memberi cinta dan terlena oleh cinta. Predikat menjadi suami memerlukan modal besar. Mereka mau menjadi penulis tapi ragu menjadi suami. Lho! Mereka harus dipaksa menjadi suami agar waras!

Istri 3

Aisjah Dachlan memberitahu: “Adapun dasar-dasar perkawinan ialah persetudjuan keluarga kedua belah pihak, serta kebulatan tekad kedua tjalon mempelai, untuk hidup bersama, struggle for life, meneruskan keturunan ummat manusia dengan sjah dan membina rumah tangga bahagia, hidup rukun damai, harmonis dan ideal, memikul tanggung djawab baik untuk mereka berdua atau keturunan dibelakang hari, sebagai tunas-tunas muda amanat Allah janh harus dipelihara.” Perkawinan demi kemuliaan. Menikahlah dengan suka cita! Perkawinan memang indah di kalimat-kalimat tapi….

Aku mulai bersedih jika ingat orang-orang Indonesia belajar tentang perkawinan melalui sinetron. Lihatlah, sinetron-sinetron di televisi hampir semua brengsek. Cerita-cerita tentang perkawinan dan keluarga sering membodohi penonton. Eh, penonton malah kecanduan. Sinetron Catatan Harian Seorang Istri ingin tampil berbeda. Aku pernah kaget saat melihat  ada komentar-komentar penonton tersaji saat sinetron disajikan. Lihatlah, di bagian bawah: apresiasi penonton untuk Hana dan Bram. Aneh! Penonton sudah terlena, ikut mengurusi keluarga dalam sinetron.

Aku masih ingin memberi kutipan dari buku karangan Aisjah Dachlan mengenai rumah tangga berkonteks agama. Penulis mengingatkan: “Pada rumah tangga muslim harus memantjar tjahaja Al Qur’an, tjahaja ibadah oleh penghuni-penghuninja. Mereka sembahjang, puasa dan lain-lain ibadah Islam; mereka berkata benar dan djudjur, berbuat baik kepada sesama manusia dan tidak suka menjakiti orang lain; tidak suka berdjudi dan tidak meminum minuman memabukkan. Anak-anak dibiasakan sembahjang, beladjar agama dan mengamalkannja.” Nasihat apik dan ideal. Aku membaca dengan saksama. Penulis memang pandai berpetuah. Hebat!

Nasihat berbeda dengan sajian sinteron-sinetron di Indonesia. Isi cerita: perebutan harta, peremehan peran istri, mata duitan, penculikan, kekerasan terhadap anak, penghinaan pada mertua… Aku sering sedih jika melihat para pemeran istri adalah perempuan cantik, berkosmetik menor, berpenampilan mentereng, mata melotot, omongan kasar…. Aduh! Aku pun sering bingun jika melihat tokoh istri atau ibu terlalu penurut, terlalu tabah, berpenampilan kere…. Sinetron terlalu menghancurkan idelitas perkawinan, tak pantas menjadi sumber belajar tentang keluarga. Aku berharap presiden baru melarang sineron-sinetron brengsek dan buruk. Produser, sutradara, artis…. mesti ditakuti dengan hukuman penjara selama seratus tahun. Begitu.

Iklan