Tag

, , , , ,

Bandung Mawardi

Kalah! Aku masih sulit mengerti dengan kekalahan Brasil. Ingat, Jerman mengalahkan Brasil, 7 – 1. Belanda juga mengalahkan Brasil, 3 – 0. Ah, air mata tak usah menetes lagi di stadion. Kesedihan tentu tak berujung. Aku melihat wajah para pemain Brasil, memelas dan bersalah. Ribuan orang “mengutuk” dan “menghujat”. Aku tak perlu mengutuk. Di rumah sedang sahur untuk berpuasa, tak pantas mengucap omongan-omongan jelek.

Kalah! Ungkapan kalah juga sering diucapkan orang-orang di Solo jika meramalkan hasil pertandingan PERSIS melawan … Mereka sering pasrah sejak awal, berimajinasi kekalahan. Pasukan penonton tentu berharapan PERSIS menang. Mereka sudah berikhlas memberi dukungan: berkaos, duduk di stadion, berteriak, berlagu, berjoget… Kalah sulit dihindari. Ah, kalah….

Ingat PERSIS, ingat buku mungil berjudul Perikatan Sepakbola Indonesia Surakarta (PERSIS): Anggaran Dasar, Anggaran Rumah Tangga. Penerbitan buku ini saat PERSIS memiliki jajaran pengurus: “Ketua: A.E. Said (Jl. Teposanan 63), Wakil Ketua I: Overste Suharto (Jl. Baron), Wakil Ketua II: Soemokartiko, Penulis I: A.W. Gani (Jl. Teuku Umar 3), Penulis II: Moh. Iskandar (Jl. Moewardi), Bendahara I: Moerjatmodjo (Jl. Tirtosono), Bendahara II: Soehardi….

Kalah 1

Aku sengaja membeli buku mungil, menduga bakal ada orang memerlukan untuk nostalgia sepak bola di Solo atau membuat penelitian bernama skripsi. Buku lawas, berharga murah. Aku tentu tak bisa memandang sepele. Buku ibarat perempuan cantik berkerudung putih di pojok Lapangan Kota Barat, Solo. Aku tak bisa ingkar tergoda. Adegan melewati pojok Lapangan Kota Barat sering membuat mataku bermatahari dan penasaran. Oh, gadis…. Siang dan malam, dirimu tak pernah berpindah. Di pojok, aku selalu melihat dan berharap mengenalmu. Aduh, kalimat-kalimatku menjadi genit.

Aku mengutip isi pasal 1: “Nama persatuan ini adalah Perikatan Sepakbola Indonesia Surakarta disingkat PERSIS.” Pasal 2: “PERSIS didirikan di Surakarta pada tahun 1923 untuk waktu jang tidak ditentukan lamanja.” Aku tak tahu nama-nama pendiri PERSIS. Apakah mereka orang-orang ambisius? Penjajahan masih berlangsung tapi mempropagandakan sepak bola. Di pelbagai buku, sepak bola memang sudah diadakan di pergerakan (politik) kebangsaan. Di Solo, sepak bola mendapat pengikut. Dulu, sang raja pun ikut andil untuk mempropagandakan sepak bola dengan pembangunan Stadion Sriwedari. Sejarah tampak bergairah. Sekarang, sepak bola di Solo mirip gumam kepasrahan. Oh!

Kalah 2

Usaha-usaha PERSIS: (1) Mendorong dan membimbing berdirinja perhimpunan-perhimpunan sepakbola di Kota Surakarta dan sekitarnja; (2) Mendorong dan membantu usaha pembangunan lapangan-lapangan sepakbola sebanjak-banjaknja di Kota Surakarta; (3) Menundjang dan mendorong kesebelasan-kesebelasan sepakbola dari luar kota untuk melakukan pertandingan di Kota Surakarta dan menggerakkan serta menjelenggarakan pengiriman kesebelasan Kota Surakarta untuk main di luar kota… Usaha-usaha besar dan serius. Di Solo, ada puluhan lapangan. Di Solo, ada Stadion Sriwedari dan Stadion Manahan. Puluhan tahun usai pendirian PERSIS, sepak bola adalah tontonan dan keramaian meski jarang berkisah kemenangan. Lho!

Aku belum pernah memiliki kaos sepak bola. Dulu, teman-teman di SMP sering pamer kaos klub-klub Italia dan Inggris. Aku cuma melihat, tak ingin membeli dan mengenakan. Mahal! Di kampung, teman-teman mengenakan kaus dengan tulisan PS Kusuma Blulukan. Ah, mereka tampak bangga. Aku juga tak mengenakan kaus. Di kampung, aku cuma pengghibur bagi pemain dan penonton cadangan, tak pantas mengenakan kaus bersimbol sepak bola. Sekarang, di pasar dan di pinggir jalan, para pedagang menjajakan kaus sepakbola: MU, Real Madrid, Barcelona, Inter Milan,  Pasoepati… Orang-orang mengenakan kaus sepak bola saat bermain, makan, sholat, tidur, pacaran…

Kalah 3

Di buku mungil, ada pasal tentang kewajiban dan hak memakai pakaian seragam: (1) Pemain-pemain jang mengikuti pertandingan, diwadjibkan menggunakan pakaian perhimpunannja. Pemain-pemain jang tidak memenuhinja, dapat dilarang untuk ikut bermain oleh wasit. Pendjaga gawang harus menggunakan pakaian jang berlainan warnanja dengan para pemain dari kedua belah pihak; (2) Penetapan dan penggantian pakaian perhimpunan, harus mendapat persetudjuan dari pengurus PERSIS; (3) Apabila dua perkumpulan jang menurut pengurus PERSIS warna pakaian hanja sedikit perbedaannja, harus bermain, maka pihak jang namanja didalam rentjana pertandingan ditjantumkan diminta harus menggunakan pakaian jang berbeda dengan pakaian lawan….  Aku setuju dengan keterangan-keterangan tentang pakaian. Aku pasti tak setuju jika para pemain bertanding dalam kondisi telanjang. Ih, malu!

Aku tidak akan melanjutkan kutipan-kutipan dari buku mungil. Mataku sudah mulai lelah, mengantuk. Semalam, membaca buku-buku usai menonton film kung fu. Apik!  Tidur sejenak, berlanjut melihat pertandingan Brasil – Belanda. Sahur pakai soto, tempe, rambak. Minum teh dan susu, disempurnakan air putih. Pagi, belanja koran dan buku. Tubuh perlahan ingin berbaring, tidur untuk bermimpi indah. Aku tak berharap mengimpikan perempuan cantik berkerudung putih di pojok Lapangan Kota Barat. Sebelum beradegan tidur, aku sempat mendengar lagu Evie Tamala berjudul Janji. Sendu dan mengena di kalbu. Begitu.

Iklan