Tag

, , , ,

Bandung Mawardi

Setengah bulan, tetangga sering mengeraskan suara radio. Ada lagu-lagu rohani, doa, shalawat, orang mengaji, khotbah. Sebelum Ramadhan, senja adalah waktu untuk menikmati lagu-lagu dangdut koplo. Aku menduga bahwa dangdut koplo memiliki libur saat mau waktu berbuka puasa. Selama minum teh dan gorengan, radio tetangga masih terdengar: siaran agama. Aku kadang termenung, ingat masa laluku dan situasiku saat sekarang.

Dulu, saat bocah sampai besar, aku sering mengandalkan radio untuk menjalani Ramadhan. Usai bangun dari tidur, aku memilih siaran berisi lagu-lagu atau pengajian sambil santap sahur. Pagi sampai sore, radio adalah benda ajaib dan menghibur bagi lelaki lapar. Aku semakin merasa pesona radio jika menemaniku saat membaca buku-buku atau menulis puisi atau cerpen. Radio juga selalu mengingatkan bapak. Pemilik radio di kamar agak gelap. Aku sering masuk dan “menguasai” radio. Duduk di jendela, berlagak memikirkan nasib. Bapak sering memiliki radio.

Aku tak pernah mendengar cerita fanatisme bapak dengan radio. Dulu, bapak memiliki kebiasaan memutar siaran klenengan atau wayang saat malam. Suara terdengar sampai perempatan jalan, 20-an meter. Di rumah, aku sering sulit tidur akibat suara keras. Aku tak pernah berani melarang bapak meniadakan radio saat malam. Tahun-tahun berlalu. Aku saat SMA meniru bapak, memutar radio bersuara keras saat malam: dangdut, jazz, klasik, pop, dagelan Basio….. Ah, radio: nostalgia diri dan keluarga.

Nirom 1

Sekian tahun berlalu, aku membeli majalah lawas: Soeara Nirom, Th. VII. No. 47, 24 November 1940. Nirom mengingatkanku dengan Ismail Marzuki dan Orkes Lief Java. Mereka sering bermain musik untuk siaran Nirom. Di radio, Ismail Marzuki adalah idola bagi pendengar. Aku cuma mendapat satu majalah, sulit bercerita pelbagai hal tentang radio, Indonesia, kolonialisme, hiburan, nasionalisme, tokoh, musik….

Di halaman muka, tercantum keterangan bahwa Soeara Nirom dicetak 27.000. Siapa pembaca Soeara Nirom di Indonesia? Berapa jumlah pendengar Nirom? Indonesia, negeri terjajah memiliki lakon besar: radio. Ah, aku jadi ingat: Pram juga pernah belajar tentang teknik radio. Indonesia berubah dan bergerak bersama radio. Barangkali radio termasuk berkah dari Tuhan agar jutaan orang di Indonesia tak terlalu bersedih menanggung derita selama ratusan tahun. Eh, radio-radio juga berkaitan ulah kaum kolonial. Mereka memiliki pamrih untuk “membentuk” Indonesia sebagai “negeri bersuara”. Indonesia tak boleh hening. Oh, aku berlebihan mengingat sejarah Indonesia.

Nirom 2

Di halaman 1, Hadji Agoes Salim sajikan tulisan pendek berjudul Penjiar, Pemantjar dan Pendengar. Tulisan berisi perpisahan. Aku tak terlalu mengerti isi tulisan. Aku kutipkan sekian kalimat: “Maka kepada sekalian pendengar dengan djalan ini saja sampaikan oetjapan selamat tinggal. Dengan harapan, soepaja moedah-moedahan, seperti dengan Nirom dari bemoela, boeat kapanpoen kaoem pendengar akan pada memperhatikan siaran, jang didengarnja dan mengoesahakan, soepaja siaran itoe mentjoekoepi segala sjarat-sjaratnja. Jaitoe mentjoekoepi kehendak dan keperloean kaoem pendengar dalam berbagai-bagai golongan dan lapisannja.” Perpisahan tak secengeng lagu-lagu Indonesia dan Malaysia.

Halaman-halaman Soeara Nirom berisi jadwal-jadwal siaran untuk Sumatra Utara, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur…. Aku berikan daftar acara di siaran Jawa Tengah dan Jawa Timur, dari pagi sampai malam: “Lagoe kerontjong, berita pers, lagoe Hawaii, ketoprak di Partinituin, taman poetera, adzan, dari piring hitam, sandiwara radio, klenengan….. Aku menduga ada orang-orang bersetia dengan radio, mendengar dari pagi sampai malam dengan takzim.

Nirom 3

Di Soeara Nirom, ada sekian iklan. Aku berharap bisa mengerti pengaruh iklan bagi penduduk masa 1940-an. Iklan tentu representasi dari kemampuan konsumsi dan persaingan usaha. Ada iklan Blue Band, Kalzan, Klim, Davros, Ankerpils, Palmolive, Dunlop, Hazeline Snow… Aku sajikan kalimat dalam iklan Ankerpils (Bier jang paling enak di Hindia): “Sesoedahnja oefening dengen soesahpajah, dengen tentoe saben orang merasa, jang di mana-mana dan di roemah Bier Ankerpils dingin toenggoein kita.” Ah, aku sedang berpuasa, tak pantas memikirkan bir. Aku peminum teh, kopi, jahe, susu. Sirup? Aku jarang minum sirup. Aku jadi bingung saat melihat iklan-iklan Ramadhan sekarang di televisi dan koran. Lihat, iklan-iklan sirup mengumbar imajinasi keterlaluan. Ramadhan ingin diartikan sirup.

Aku berharap mendapat lagi majalah Soeara Nirom, bermaksud mengerti pengaruh radio bagi Indonesia. Aku juga harus mengerti kebermaknaan terbitan Soeara Nirom bagi pendengar: selera lagu, kebiasan mengisi waktu luang, pemuja artis…. Radio memang tak seremeh perkiraan orang-orang. Radio memuat pelbagai kisah. Radio menjadi referensi mengerti Indonesia pada masa kolonialisme. Radio adalah hiburan, seni, politik, agama…. Aku  mesti belajar pelbagai hal untuk mengeri radio. Begitu.

Iklan