Tag

, , , ,

Bandung Mawardi

Dulu, aku pernah menjadi moderator seminar arsitektur dan perkotaan atas undangan Bank Indonesia. Semula, aku kaget dipilih sebagai moderator. Aku memang belajar tentang arsitektur dan perkotaan dari bacaan-bacaan. Aku dan teman-teman pun pernah membuat program diskusi perkotaan di Balai Soedjatmoko Solo meski tak berlanjut akibat perubahan kebijakan. Minatku mempelajari arsitektur dipengaruhi oleh Romo Mangun melalui buku Wastu Citra. Pengaruh untuk studi arsitektur dan kota juga dipengaruhi oleh Eko Budihardjo, akademikus mumpuni dari Universitas Diponegoro, Semarang.

Seminar BI menghadirkan Eko Budihardjo sebagai pembicara. Pertemuan awal dan mendebarkan. Tulisan-tulisan Eko Budihardjo sering aku temukan di Kompas dan Suara Merdeka. Aku telah akrab dan mengerti dengan sekian pemikiran Eko Budihardjo. Aku memastikan tak bakal grogi saat obrolan dan santap camilan di ruang tamu. Aku dan Eko Budihardjo lekas akrab. Aku tak menduga jika Eko Budiharjo membaca tulisan-tulisanku di sekian media. Tulisan telah mengantar perjumpaan dan obrolan berlangsung hangat. Aku menjalankan tugas moderator dengan lacar: memberi pengantar dan khotbah mengenai arsitektur-kota bersaing dengan para pembicara. Eko Budihardjo penasaran tentang kecerewetanku: “Mas Bandung berkuliah di….” Aku segera menjawab: “… Dulu, kuliah di jurusan pendidikan bahasa Indonesia.” Lho! Memori sekian tahun silam muncul saat aku mendapat berita dari teman melalui pesan pendek, 22 Juli 2014: “Prof. Eko Budihardjo meninggal….” Aku diam dan berharap bisa memberi penghormatan bagi almarhum. Sebelum ada berita, aku sudah membeli buku kumpulan esai Eko Budihardjo berjudul Reformasi Perkotaan (2014), terbitan Kompas.

Arsitektur 1

Sekarang, aku mengumpulkan kembali buku-buku Eko Budihardjo. Di sela pencarian, aku menemukan buku lawas berjudul Menudju Ke Suatu Arsitektur Indonesia (Noordhoff – Kolf, 1954) oleh Prof. Ir. V.R. Van Romondt. Tulisan berasal dari pidato saat menerima jabatan guru besar dalam arsitektur di Fakultas Teknik Universitet Indonesia di Bandung, Rabu, 26 Mei 1954. Wah, Menudju Ke Suatu Arsitektur Indonesia tentu penting sebagai dokumentasi dalam lintasan sejarah pemikiran arsitektur di Indonesia. Aku beruntung bisa membaca dan mengoleksi. Ingat Eko Budihardjo, ingat buku-buku tentang arsitektur dan kota. Buku dari pidato Van Romondt pun mengingatkanku dengan ketekunan Eko Budihardjo dalam menulis dan menerbitakan buku.

Pembukaan: “Apabila Indonesia menjelenggarakan pendidikan arsitek atau insinjur bangunan, maka dengan ini dilaksanakanlah suatu perbuatan jang penting dalam lapangan kebudajaan. Kebanjakan orang belum dapat menginsafinja dan mengira bahwa dengan demikian telah dimasukkan suatu djurusan peladjaran jang harus dipandang lebih sebagai kemewahan daripada keharusan, kemewahan jang dewasa ini masih dianggap agak lantjang.” Kalimat-kalimat mengingatkan dengan kesejarahan sekolah tinggi teknik – ITB dan biografi intelektual Soekarno selaku pemilik gelar Ir.

Arsitektur 2

Kegembiraanku membaca buku-buku mengenai arsitektur sering dirangsang oleh rangsangan mengerti sejarah, seni, politik, agama, filsafat, etika…. Koleksi buku-buku arsitektur di Bilik Literasi sudah ada puluhan, diimbuhi majalah dan kliping koran. Arsitektur tak cuma milik mahasiswa dan dosen di jurusan arsitektur-universitas. Aku pun memiliki hak mempelajari arsitektur, semampu dan semengertiku.

Van Romondt berpidato: “Tanah Djawa pada masa Islam telah banjak menerima warisan Hindu dilapangan bangunan. Sedemikian banjaknja, sehingga theori bahwa Islam tidak menghasilkan bentuk baru, tindak mempunjai bentuk sendiri dan hanja mengambil bentuk-bentuk kuno, tak dapat disangkal. Dalam pada itu titik berat dalam arsitektur telah berkisar dan meskipun didalam kebudajaan Islam, masdjid menempati kedudukan jang tak tersangkal sangat pentingnja, kini lambat-laun istana-istana mendapat perhatian jang terbesar. Tetapi sangatlah kentara, bahwa keraton-keraton ini, meskipun meluas mendjadi besar seperti di Solo dan Jogja, tidak pernah mendjadi kolosal, tidak pernah kehilangan ukuran manusia dalam perbandingan-perbandingannja.” Aku membaca pelan dan memiliki keinginan membantah berkaitan astitektur masa Hindu dan masa Islam. Aku tak berdosa jika menolak pendeta Van Romondt. Urusan arsitektur keraton juga membuatku curiga tentang anggapan orang-orang bahwa keraton adalah bangunan khas Jawa. Aku sulit menerima keraton adalah representasi bangunan Jawa. Aku menolak tapi belum sanggup memberi daftar argumentasi. Aduh!

Arsitektur 3

Studi arsitektur pada masa 1950-an memang masih memerlukan kontribusi dari para pengajar asing. Kehadiran Van Romondt dikehendaki oleh Soekarno. Di sela khotbah, Van Romondt memberi pengakuan: “… terima kasih kepada P.J.M. Presiden Republik Indonesia atas kepertjajaan jang beliau berikan kepada saja dengan telah memandang saja patut untuk mengambil bagian dalam hal pendidikan arsitek Indonesia.” Soekarno tak cuma berjasa dalam politik. Soekarno adalah arsitek dan tokoh pengembang pendidikan arsitektur di Indonesia.

Di akhir pidato, ada pesan-pesan untuk kaum mahasiswa: “Dosen-dosen asing dan saja hanja dapat mengantarkan saudara-saudara sampai kepintu gerbang, jang kita tidak masuki. Diharapkan dari saudara-saudara bahwa saudara-saudara akan memberikan kepada Tanah Air seni bangunan jang sedjati. Untuk itu saudara-saudara dengan penuh kesedaran harus mengusut benih-benih kebudajaan Indonesia.” Pesan baik meski sulit diamalkan di Indonesia. Lihatlah, bangunan-bangunan di Indonesia, dari masa 1950-an sampai sekarang: tak bersesuaian dengan pesan-pesan Soekarno dan Van Romondt. Begitu.

Iklan