Tag

, , , ,

Bandung Mawardi

            Sumber bahagia? Aku sulit menjawab. Dulu, aku pernah beranggapan bakal bahagia jika memiliki uang, baju, makanan, radio, kaset, pacar, sepeda… Konon, semua hal bisa menjadi sumber bahagia. Aku tentu tak ingin memberi jawab menurut ceramah para mubaligh atau motivator. Mereka dikhlaskan saja berceramah, berlagak paling mengerti sumber bahagia. Aku malah masih menghormati uraian-uraian sumber bahagia jika disampaikan para tetua di desa. Penjelasan tak muluk, mengacu ke pengalaman hidup selama puluhan tahun.

            Masa 1950-an, sumber bahagia adalah buku. Ha! Aku menginformasikan saja, tak bermaksud mengakui bahwa sumber bahagia cuma buku. Informasi aku dapatkan dari katalogus lama berjudul Sumber Bahagia Kanak-Kanak terbitan Nordhoff-Kolf N.V., Jakarta, 1951. Di bawah judul, memuat propaganda literasi: “Gembirakanlah hati anak-anak kita. Berikanlah mereka kesempatan mengetjap kenikmatan membatja buku kanak-kanak jang isinja menarik hari dan berguna. Pilihlah diantara buku-buku jang tertera dalam daftar ini.” Katalog dengan tebal 24 halaman, memuat buku bacaan menarik: karangan orang Indonesia dan terjemahan atau saduran dari buku-buku berbahasa asing.

Bahagia 1

            Propaganda tak berlaku saat aku masih bocah. Guru, simbok, bapak, orang-orang tak memberiku khotbah bahwa buku adalah sumber bahagia. Mereka malah memberi daftar material sebagai sumber bahagia. Aku tak bisa menuduh mereka salah, mengacu ke situasi hidup. Sumber bahagia memang tak bisa “tetap” atau berlaku lama bagi bocah. Perubahan umur, peningkatan imajinasi, kondisi tubuh…. selalu mempengaruhi pengakuan sumber bahagia. Buku pelajaran dan peringkat di kelas kadang menjadi sumber bahagia. Duduk di samping murid perempuan pujaan pun sumber bahagia. Gorengan laris saat jualan keliling desa di sore hari adalah sumber bahagia. Ah, segala benda, orang, peristiwa, hal… bisa jadi sumber bahagia. Aku pun harus mengakui sumber bahagia gampang berubah menjadi sumber petaka. Lho! Penjelasan dimiliki oleh orang-orang arif dan pintar.

Bahagia 2

            Penerbit memberi penjelasan: “Kami merasa sangat beruntung dapat mendjadikan dalam katalogus ini satu serie buku batjaan untuk anak-anak jang berumur 8 sampai 15 tahun. Buku-buku itu sangat mudah dan lantjar bahasanja. Isinja, dan tjara menceriterakannja sangat menarik hati anak-anak. Oleh sebab itu kami jakin, bahwa buku-buku itu merupakan suatu bantuan memenuhi hasjrat membatja pada anak-anak kita….” Aku sadar model promosi penerbit untuk melariskan dagangan. Aku malah ingin sejenak berpikiran semrawut: “Siapa orang pertama pembuat kalimat dengan awalan oleh sebab itu? Apakah penggunaan oleh sebab itu bisa menjadi sumber bahagia bagi penulis dan pembaca?” Semasa kuliah, aku pernah marah akibat sering bertemu kalimat-kalimat dengan awalan oleh sebab itu. Di semester 7, aku mengajak teman-teman membuat pementasan teater. Kelompok mesti bernama. Teman-teman kebingungan mencari nama. Aku berikan nama Oleh Sebab Itu (OSI). Mereka sulit menerima dan merasa aneh. Gugatan tak diperbolehkan. Di auditorium besar UMS, Oleh Sebab Itu berhasil tampilkan pentas kecil dan mengundang protes para dosen dan mahasiswa. Mereka protes nama kelompok. Aku sengaja ingin mempermalukan mereka: pecandu oleh sebab itu jika menulis makalah, skripsi, tesis….

            Katalog memuat puluhan judul buku. Aku membuka halaman demi halaman. Sekian buku sudah aku santap dan menjadi koleksi Bilik Literasi: Teman-Temanku Eropah oleh Nany van Wezep, Tjeritera-Tjeritera Pendek oleh Enid Blynton, Susunan Tjeritera Tjendakiawan oleh A.R. Sulaiman, Pengalaman Huckleberry Finn oleh Mark Twain, Pengembaraan dan Pengalaman Baron von Munchhausen oleh Rudolph Erich Raspe, Suku Mohawk Tumpas oleh Fenimore Cooper, Karena Emas Dipulau Papua oleh G.A. Leembruggen, Dua Lusin Dongeng oleh Utuy T. Sontani, Hasan dan Hasnah oleh C.E. Pothost-Gimberg, Dimin: Orang Rantai oleh G. de Vries, Daman: Brandal Sekolah Gudang oleh Abdoel Moeis, Margasatwa oleh Martin A. dan Maas. Aku berharap bisa mengadakan pameran buku bacaan anak dan remaja, sejak awal abad XX sampai masa 1960-an. Buku-buku bisa menjadi sumber pengertian tentang perkembangan literasi di Indonesia selama seabad.

Bahagia 3

            Aku beri kutipan promosi buku berjudul Djahidin karangan L. van Suchselen-Leembruggen, diceritakan ulang oleh Luthain Arsjad. Tebal 128 halaman. Harga f 5,- Ringkasan: “Pengalaman seorang pemuda, bernama Djahidin, dihutan Lampung, jang pindah bojong dari Djawa ke Lampung, bersama-sama orang tuanja. Pada suatu kali ia tersesat, ketika masuk hutan. Dalam hutan ia bertemu dengan orang Kubu. Dengan orang itu ia hidup beberapa lamanja. Sedih dan gembira dalam penghidupan orang Kubu itu dialaminja bersama-sama. Banjak mentjeriterakan tjara penghidupan orang Kubu, jang sederhana, tetapi djudjur, berani dan seia-sekata. Pengalaman-pengalamannja menggembirakan anak-danak dari umur 10 sampai 16 tahun.” Wah, penerbit sudah memastikan bahwa buku bakal “menggembirakan”. Aku tentu salut jika ada bocah pada masa 1950-an tertarik membaca Djahidin tanpa harus menuruti ajakan pemerintah tentang pendidikan karakter.

            Sekarang, aku berharapan buku-buku bacaan anak dan remaja bisa memberi sumber bahagia di sekolah. Para murid terlalu menderita akibat rezim buku pelajaran. Buku-buku cerita cuma mendekam di lemari perpustakaan, terkunci. Guru-guru mulai sulit bercerita. Uang jajan para murid pun jadi makanan. Buku sulit menjadi sumber bahagia saat menteri, kepala sekolah, guru, orang tua menghendaki murid adalah “manusia nilai”. Murid jarang dianggap sebagai “manusia-cerita.” Buku-buku di katalog perlu dicetak ulang untuk mengejek situasi pendidikan di Indonesia, masa sekarang. Begitu.

Bahagia 4

Iklan