Tag

, , , , , , , ,

Bandung Mawardi

Senja, lagu berjudul Dilema dilantunkan Nora. Hatiku bergetar, ingat perasaan-perasaan masa remaja. Aku belum pernah menjumlah para penggemar lagu Nora. Lagu Dilema mungkin tak terkenal, jarang jadi lagu kenangan. Aku selalu ingat dan merasa lagu bisa mengantar ke adegan lelaki remaja melihat televisi: lagu dari perempuan, berisi “kesedihan”. Nora, pelantun dari Negeri Jiran, berbeda dari deretan artis “cengeng” bercap pop atau rock.

Lagu Dilema pernah juga dilantunkan oleh KD dengan iringan musik berbeda. Lagu-lagu KD sering aku dengarkan di rumah. Aku tetap memilih suara Nora ketimbang KD jika melantunkan lagu Dilema. Suasana sore semakin sendu, menggeret ke masa lalu. Aku merasa tua tapi memiliki panggilan membuka album remaja melalui lagu Nora. Tuhan, aku berterimakasih memilih lagu Dilema menjadi bagian dari buku memoriku.

Urusan lagu menuntunku melihat ulang koleksi buku-buku di Bilik Literasi bertema musik atau lagu. Ada puluhan buku, buku lawas dan baru. Aku tak bisa bermain alat musik. Buku menjadi pilihan mempelajari musik. Aku tak memiliki suara merdu meski pernah menjuarai lomba karaoke. Buku-buku tetap jadi pilihan mempelajari lagu berkonteks agama, sejarah, pendidikan, sastra, keluarga… Buku dan buku. Musik untuk telinga. Buku untuk mata agar “bermusik”. Wah!

Musik 1

Di Bilik Literasi, ada buku sangar berjudul Musik di Indonesia dan Beberapa Persoalannja (Balai Pustaka, 1952) garapan J.A. Dungga dan L. Manik. Buku dengan tebal 112 halaman memberi pukau agar diriku mengerti musik. Dungga dan Manik menerangkan: “Dalam mengemukakan tulisan-tulisan ini kamu bertolak dari suatu pendapat bahwa pemetjahan soal musik kita kita – terlebih apa jang disebut musik nasional Indonesia – tak dapat atau tak tjepat bisa ditjapai, kalau orang-orang kita segan-segan untuk mengemukakan pikiran-pikirannja jang berlainan dengan jang biasa didengarnja. Tak selamanja pergeseran pikiran berarti kemunduran atau keketjauan, malah menurut hemat kami, pergeseran jang dilakukan sebaik-baiknja, bisa membawa kesegaran berpikir baik pada orang-orang jang bersangkutan maupun pada orang banjak. Bisa menimbulkan suatu krtitische zin dan bisa melepaskan orang dari lumpur sleurleven.” Aku menduga pada masa 1950-an terjadi perdebatan sengit tentang musik. Para pemikir, komponis, pengamat musik, seniman mungkin bertarung gagasan dan pamer argumentasi agar mendapat terang atas perkembangan musik di Indonesia.

Dulu, aku mengimajinasikan kehidupan musik meriah berbarengan dengan seni rupa, sastra, teater, film, tari. Dugaanku bermula dari tulisan-tulisan di majalah. Dulu, pemuatan esai atau reportase musik biasa tampil di majalah bercap sastra atau umum. Hubungan para seniman pun erat tanpa membedakan julukan sebagai pujangga, pelukis, dramawan, komponis… Hubungan dibentuk dari pertemuan, obrolan, tulisan, pentas, pameran…. Musik menjadi tema penting pada masa 1950-an, tak mau kalah dengan tema politik atau revolusi.

Musik 2

Aku tergoda dengan bab berjudul Indonesia Raja Dilihat Dari Dekat. Dungga dan Manik menulis: “Baiklah kita pastikan lebih dulu, bahwa lagu Indonesia Raja, seperti djuga kebanjakan gubahan-gubahan komponis-komponis lagu kita sampai sekarang, djuga mempunjai retaknja dan tidak sunji dari kekuarangan-kekurangan.” Oh! Lagu Indonesia Raja adalah lagu kondang tapi memiliki kekurangan? Kekurangan tak membatalkan kita memiliki lagu gubahan W.R. Soepratman sebagai lagu mengobarkan imajinasi Indonesia, sejak 1928.

Dungga dan Manik mengingatkan: “Tapi ketjaman-ketjaman tak usah mengurangi penghargaan kita pada Indonesia Raja. Djuga dinegeri lain, lagu kebangsaan tidak selamanja luput dari kritik-kritik ahli musiknja. Malahan konon katanja, untuk mengeritik La Marseillaise, lagu kebangsaan Perantjis, orang sampai menerbitkan suatu buku. Walaupun begitu semua kelemahan-kelemahan dan kekurangan-kekurangan jang dikemukakan mereka tak dapat memperburuk lagu jang dikritiknja. Sebab memang lagu kebangsaan bukan hanja merupakan suatu lagu sadja. Ia masih mempunjai keindahan-keindahan dan kekuatan-kekuatan jang terletak diluar garis lagu melagu pada umumnja.” Petuah bijak. Aku tentu menuruti petuah bijak agar aku tetap memuji lagu Indonesia Raja dan menjadi penulis esai-esai bertema musik. Amin.

Musik 3

Sejarah musik di Indonesia bertalian sejarah politik. Masa revolusi, lagu-lagu memiliki peran penting sebagai propaganda, hiburan, hadiah…. Penjelasan: “Telah mendjadi kebiasan ditanah air kita, terlebih-lebih didalam revolusi, bahwa lagu-lagu baru tersebar dalam masjarakat biasanja dengan perantaraan radio, pertundjukan-pertundjukan sandiwara dan barisan-barisan jang berlatih. Djarang orang mengenal suatu lagu baru langsung dari buku njanjian jang dikeluarkan oleh suatu badan penerbitan, sebagaimana halnja di negeri-negeri asing.” Aku mengerti bahwa penerbitan buku lagu tak bisa disepelekan. Dungga dan Manik melanjutkan: “Dan djika ada, sering tidak lengkap (biasanja tidak dibubuhi nama penggubah lagu) dan kebanjakan hanja merupakan susulan sadja, sebab lagu-lagu jang diterbitkan pada umumnja sudah lebih dahulu dikenal orang banjak ini sudah tentu menimbulkan beberapa rintangan bagi mereka jang mentjoba memberi tindjauan jang memuaskan tentang lagu-lagu kita.”

Aku tak pernah bersekolah musik. Predikat sebagai pemusik atau kompinis tak melekat padaku. Biografi musik tak ada di keluargaku. Aku tak pernah sedih. Buku-buku tentang musik dan lagu malah merangsangku membuat esai-esai kecil, bermaksud turut memberi suguhan tulisan tentang musik dan lagu bagi pembaca. Sekian esai telah tampil di Tempo, Jawa Pos, Koran Tempo, Suara Merdeka, Solopos. Begitu.

Iklan