Tag

, , , ,

Bandung Mawardi

Aku tak mau menjadi menteri pendidikan! Jabatan sangar dan memikul sepuluh karung tanggung jawab besar. Aku mendingan menjadi komentator untuk menteri pendidikan, mengomentari pelbagai kebijakan. Masalah buku pelajaran gratis dari pemerintah membuatku ingin segera “pamer” esai mengejek. Dulu, aku sudah menduga sang menteri bakal melakukan salah: mengaku segala hal beres tapi saat pembuktian omongan ada keterlambatan pencetakan dan distribusi. Aduh! Sang menteri telanjur omong dengan kepastian. Aku sudah memiliki catatan kebiasaan sang menteri memberi omongan-omongan optimisme meski jarang dibuktikan. Urusan tak beres sering membuatku jadi berkepentingan menulis esai-esai tentang pendidikan. Aku ingatkan agar Joko Widodo tak perlu melamarku menjadi menteri pendidikan. Orang lain saja.

Pendidikan dianggap orang-orang basis berbangsa dan bernegara, menuruti lintasan sejarah Indonesia, sejak masa penjajahan sampai sekarang. Pemaksaan agar pemerintah kolonial mendirikan sekolah-sekolah, abad XIX, mulai memunculkan angan pendidikan modern bagi kaum bumiputra. Sekolah tentu beraroma “kolonial” dan “Barat”, menjelaskan gagasan dan praktik pendidikan modern. Aku cuma mengimajinasikan saja. Aku tak memiliki leluhur bersekolah di abad XIX. Di rumah, kakek atau bapak tak pernah mendapat cerita dari para leluhur adalah kaum berpendidikan hasil kebijakan kolonial atau sekolah partikelir buatan Ki Hadjar Dewantara. Kakek dan nenek tak bersekolah. Bapak cuma lulusan SR. Simbok tak pernah bersekolah, berjarak dari keajaiban huruf-huruf tapi mengerti perhitungan angka.

Masa 1950-an, terbit buku-buku mengenai pendidikan, bereferensi Barat. Buku-buku menjadi panduan perkembangan pendidikan di Indonesia. Pengaruh Barat dan kontribusi para tokoh asal Belanda masih menguat dan menentukan. Dulu, pendidikan memang masalah besar, memerlukan keterlibatan pelbagai pihak. Penerbitan buku-buku menjadi cara mengedarkan dan membesarkan gagasan-gagasan pendidikan. Aku menduga ada ratusan judul buku terbit di masa 1950-an. Wah! Aku mesti terus melacak dan mengumpulkan buku-buku “bersejarah” dari masa 1950-an. Buku-buku bisa menjadi modal mengerti kebijakan dan lakon pendidikan (modern) di Indonesia.

Modern 1

Aku memiliki buku berjudul Pengadjaran Modern Barat karangan A. Gazali, terbitan Ganaco, Bandung-Jakarta-Amsterdam, 1955. Buku tipis, berisi penjelasan-penjelasan singkat dan gambar. Istilah pengajaran modern Barat tentu semakin menguatkan makna. Modern bersanding Barat: bermakna mendalam dan berat. Aku tentu tak bisa mengubah judul. Pengarang memiliki pertimbangan untuk membuat judul mentereng. Pembaca diingatkan agar mengartikan modern tak selalu Barat. Keputusan membuat modern bersanding Barat adalah kecerdasan mengolah dampak sensasi pengertian. Oh!

Gazali memberi pengakuan: “Kitab bergambar jang ketjil ini bermaksud memberikan kesan selajang pandang tentang keadaan pendidikan dan pengadjaran di Eropa-Barat sebagai hasil penindjauan kami kebeberapa negara disana, ialah Djerman-Barat, Austria, Perantjis, Inggeris dan negri Belanda.” Aku masih bingung dengan istilah “penindjauan”. Apakah Gazali bepergian untuk riset ke pelbagai negara atau membaca buku-buku mengenai pendidikan dan pengajaran di Eropa Barat? Kunjungan dan riset tentu menghasilkan buku tebal, komplit, informatif, analitis. Buku Pengadjaran Modern Barat cuma memiliki tebal 36 halaman.

Modern 2

Penjelasan penting: “Titik berat pengadjaran modern Barat terletak pada anak-anak. Djika sudah berumur empat tahun, anak-anak mengundjungi sekolah-persiapan jang segera memperkenalkan mereka dengan salah satu dari azas-azas pengadjaran dimasa sekarang, jaitu: beladjar bekerdja sendiri.” Anak perlu mendapat kebebasan dan memberi hak kebangkitan berkerja sesuai kemauan mereka. Di Indonesia, pengajaran bagi anak masih “titik ringan”. Aku merasa pemerintah terlalu sibuk mengurusi pendidikan di jenjang perguruan tinggi. Kebijakan beasiswa, gelar, penelitian selalu demi para mahasiswa. Pendidikan di tingkat TK dan SD jarang jadi perkara genting.

Bagaimana tugas pendidik dalam pengajaran modern Barat? Gazali menerangkan: “Melihat, mengikuti anak-anak dalam pekerdjaan mereka, memberi bantuan seperlunja, dan menunggu. Ini berarti, bahwa pendidik harus bekerdja dengan penuh kesabaran! Weh, sabar adalah tema penting dalam pendidikan. Selama puluhan tahun, aku mengerti sabar adalah ungkapan andalan para mubaligh jika sedang berkhotbah. Sabar sering berkaitan agama atau iman. Sabar membuktikan keimanan. Sabar adalah hal terpuji saat menghadapi pelbagai masalah. Sabar juga milik simbok dan kaum tua saat memberi nasihat pada anak-anak. Sabar…

Modern 3

Di halaman 24, ada gambar dan keterangan “mengejutkan”. Aku mulai ingat usulan sekolah bagi kaum putri, diajukan oleh Kartini seabad silam. Pendidikan untuk perempuan penting, tak boleh diabaikan oleh pemerintah. Usulan Kartini memiliki kaitan dengan penjelasan Gazali: “… Anak-anak perempuan biasanja mendaftarkan namanja pada sekolah-sekolah kepandaian puteri. Disanalah mereka beladjar memasak, mendjahit, mengurus baji dan banjak lagi pekerdjaan-pekerdjaan jang penting bagi tiap-tiap urusan rumahtangga. Mereka mendapat didikan praktis maupun teoritis, sehingga kelak sangguplah mereka memimpin urusan rumahtangganja sendiri dengan bidjaksana.” Ah, aku merindukan keberadan sekolah kepandaian putri. Sekarang, di sekolah dan perguruan tinggi jumlah siswa-mahasiswa perempuan sering melampaui jumlah siswa-mahasiswa lelaki. Mereka berhasil lulus, memiliki gelar. Urusan ilmu memang “meninggi”. Aku memberi hormat dan pujian. Aku cuma gelisah jika kaum perempuan berpendikan tak memiliki kepandaian memasak, mencuci, menjahit… Gelisah tak usah jadi alasan Joko Widodo memilihku menjadi menteri pendidikan. Begitu.

Iklan