Tag

, , ,

Bandung Mawardi

Sebulan lalu, Yudhi belanja buku di Jogja, mengabarkan ada buku berjudul White Mughals, terbitan Bentang. Aku belum pernah melihat tapi bisa menduga buku berisi cerita tentang dinasti Mughal di India. Aku lekas tertarik dan memberi jawab melalui pesan pendek: “Tolong, belikan dulu.” Aku juga menitip dua novel. Tiga buku berharga murah. Sekian hari lalu, tiga buku diserahkan. Aku menerima tapi belum memberi uang pengganti. Utang.

Buku bersampul putih, ada gambar perempuan cantik. Di bawah judul White Mughals ada keterangan: “Cinta dan skandal dalam sejarah kerajaan Islam Mughal pada abad ke-18.” Penulis bernama William Dalrymple. Di pojok atas dicantumkan komentar Karen Armstrong: “Brilian, tajam, dan penuh belas kasih… selalu mungkin membangun jembatan antara Islam dan Barat.” Buku segera dibaca dengan berdebar. Sejak halaman awal, aku tergoda. Skandal asmara antara orang Inggris dan bangsawan Mughal. Perkawinan campuran antara para lelaki Inggris dengan perempuan-perempuan India. Asmara selalu berkaitan ras, agama, politik, perdagangan. Halaman demi halaman dilintasi, aku semakin berdebar. Ah!

Aku pun penasaran dengan perkawinan campuran. Sekian hari silam, aku membeli dua buku tentang perkawinan campuran dan hukum perkawinan di Indonesia. Aku membeli dua buku tak berniat untuk mengkhotbahi para pegawai di KUA atau pengadilan agama. Dua buku juga tak mungkin aku sampaikan di kultum selama Ramadhan. Puluhan tahun, aku tak tampil lagi di mimbar untuk berkhotbah. Tema perkawinan menjadi penting sejak aku dan teman-teman mengobrolkan istri dalam sinetron, lagu, film, novel….

Perkawinan 1

Buku lawas berjudul Segi-Segi Hukum Peraturan Perkawinan Tjampuran (Djambatan, 1958) susunan Mr. Dr. Gouw Giok Siong. Penulis adalah pengacara dan Guru Besar Luar Biasa di Universitas Indonesia. Buku bersampul sederhana, warna biru, tak ada gambar. Tebal, 248 halaman. Buku tebal tapi tak berat. Aku tak tahu pilihan penggunaan jenis kertas. Buku ringan tapi isi berbobot melebihi tiga orang gemuk. Lho! Ingat, buku bisa terbit dengan kontribusi dari para intelektual ampuh: W.F. Wertheim, A. Teeuw, G.J. Resink.

Di bab awal, Gouw Giok Siong menjelaskan jenis-jenis perkawinan campuran: (1) perkawinan campuran antar-tempat; (2) perkawinan campuran antar-agama; (3) perkawinan campuran antar-golongan. Sejarah peraturan perkawinan besar menjadi urusan besar bagi kolonial, sejak abad XIX. Gouw Giok Siong menjelaskan: “Sesuai dengan perubahan zaman, lambat laun kriterium agama dan larangan perkawinan tjampuran dari dunia Kompenie tak dapat dipertahankan. Pada waktu hendak dimulai dengan perundang-undangan baru dalam tahun 1848, setelah dipertimbangkan, telah dilepaskan larangan perkawinan tjampuran antar-agama (Keristen dengan bukan Keristen). Mula-mula dalam Rantjangan Burgelijk Wetboek untuk Hindia Belanda tertjatat larangan perkawinan tjampuran… Tetapi pada waktu diterima baik rantjangan itu ketentuan tersebut sudah dihilangkan. Oleh menteri telah diusulkan untuk hanja melarang perkawinan dengan orang Islam atau orang kafir.”

Perkawinan 2

Aku jadi tergoda membaca kembali novel-novel berkisah perkawinan campuran berlatar Aceh, Jawa, perkebunan di Sumatra, Batavia… Aku juga ingin mengulang membaca buku-buku biografi para tokoh saat memilih melaksanakan perkawinan campuran. Mereka adalah orang Belanda, Inggris, Arab, Tionghoa, Jawa, Minangkabau, Batak…. Urusan perkawinan campuran bisa memandu kita membuka lembaran-lembaran sejarah. Sangar! Kawin saja menentukan nasib dan sejarah Indonesia, selama ratusan tahun.

Gouw Giok Siong memilih sekian kasus perkawinan tjampuran, dijelaskan dan diajukan argumentasi. Di halaman 123, penulis memberi ingatan tentang perkara perkawinan tjampuran antara perempuan Indonesia dan lelaki Eropa: “Dalam tahun 1906 oleh RvJ Batavia telah diperiksa perkaranja seorang pegawai Burgerlijke Stand di Djakarta, dituduh telah melanggar pasal 10 dan 42 Reglemen Burgelijke Stand, karena ia telah membuat akta pengakuan oleh perempuan Indonesia, Sena dan 5 anak-anaknja jang dilahirkan dari perhubungan diluar perkawinan dengan J.H. Schallig, sesudah hari perkawinan sjah mereka pada tanggal 1 Djuli 1905. Sebelumnja, dalam tahun 1902 dan 1904, Sena sudah mengakui anak-anak tersebut dan telah menjetudjui pengakuan oleh Schallig, djadi anak-anak tersebut mempunjai ibu dan ajah.”

Perkawinan 3

Di novel Bumi Manusia dan novel-novel garapan pengarang Indo aku juga sering menemukan masalah-masalah besar dalam urusan perkawinan saat diperkarakan secara hukum. Sejarah kolonialisme tak cuma rempah-rempah, sistem tanam paksa, pajak, pemberontakan, perang… Selama ratusan tahun, asmara menimbulkan masalah pelik jika ditertibkan oleh peraturan perkawinan. Aku tak boleh meremehkan bahwa pertemuan orang-orang Eropa, Tionghoa, Arab, India…. dengan kaum pribumi bisa memicu gejolak asmara dan hukum. Perkawinan pun bakal semakin ruwet saat diurusi dengan agama, etnis, politik. Aduh! Aku mesti mempelajari perkawinan agar sejarah Indonesia bisa dicatat dan diingat dari pertemuan dua insan berbeda tempat, golongan, agama.

Aku perlahan mengingat status kaum perempuan pribumi saat menikah dengan orang-orang asing. Semula, mereka dimanjakan dan dibahagiakan. Di ujung, nasib mereka bisa tak keruan saat ada urusan hukum dan politik. Ah, para lelaki asing datang ke Indonesia tak cuma mengejar uang dan jabatan. Mereka lekas kedanan dengan kaum perempuan pribumi. Jalinan asmara bergerak di dilema hukum kolonial. Mereka menikah dan memiliki anak meski rawan saling menanggung derita. Begitu.

Iklan