Tag

, , , , ,

Bandung Mawardi

Pilpres 2014 mengikutkan urusan aneh. RRI mendapat serangan dari orang-orang politik, dituduh secara emosional dan politis. RRI turut melakukan hitung cepat, mengumumkan ke publik. Publik mendapat informasi tapi para politisi berlagak jagoan merasa terhina. Lho! Aku tak ingin meneruskan urusan RRI dan pilpres.

Aku cuma tahu siaran RRI Program II di Solo sering menjadi pilihanku saat bosan dengan sekian siaran radio swasta, berisi iklan-iklan. Di RRI Program II aku bisa menikmati lagu-lagu lawas dan baru tanpa siksaan iklan. Kualitas siaran memang tak unggulan tapi memberiku ingatan atas radio dan diri. Aku kadang ingin menikmati keroncong, langgam, klenengan, sandiwara radio berbahasa Jawa, dagelan. Sekian ingin dipenuhi oleh RRI Program II.

Ingatanku juga bergerak jauh ke masa bocah jika berurusan dengan radio. Dulu, teman-temanku sering dolan ke kulon ndeso alias persawahan di sisi barat desa untuk angon kebo dan angon wedhus. Aku berperan sebagai penggembala kambing. Temanku sering berkalung radio. Di radio terdengar lagu-lagu. Aku turut mendegarkan sambil tiduran di atas rumput atau menunggang kerbau. Ah, peristiwa puitis! Radio menjadi benda ajaib bagi para penggembala. Aku kadang melihat ada tetangga angon bebek sambik berkalung radio. Adegan paling membuat iri adalah orang mendengarkan radio di bawah pohon atau di cakruk tengah sawah.

Radio 1

Apakah radio? Aku mesti membagi informasi dari buku berjudul Dari Gelombang ke Radio (Balai Pustaka, 1953) susunan A. Suroto. Buku bersampul merah, bergambar pemancar gelombang radio. Pada masa 1950-an, orang-orang menggandrungi radio. Suroto menginformasikan: “Pada waktu ini dimana hampir setiap sudut kamar rumah di Indonesia kita dapati pesawat-pesawat penerima radio, maka sudah selajaknja djika para pemiliknja mendapat sekedar petundjuk dan beberapa penerangan jang sangat berguna tentang alat itu.” Sip! Penulis berbaik hati pada para pemilik radio. Semoga kebaikan penulis mendapat ganjaran dari Tuhan. Amin.

Aku tidak mengerti hal-hak teknik radio. Dulu, saat belajar di SMP pernah mendapat pelajaran-ketrampilan elektronik. Murid-murid diajari membuat pesawat penerima siaran radio sederhana dengan ongkos murah. Aku memang berhasil merampungkan tugas tapi tak ada ketertarikan untuk berlanjut menjadi tukang: membuat atau memperbaiki radio. Aku memiliki keponakan membuka bengkel radio. Di bengkel, aku sering melihat benda-benda berceceran. Aku pernah diberi radio lawas tapi rusak setelah dua tahun.

Radio 2

Sejarah radio dalam hidupku tentu berbeda dengan sejarah radio di Indonesia. Suroto menjelaskan: “Setelah dipertimbangkan masak-masak dan lama sekali oleh pemerintah Hindia Belanda maka barulah dikeluarkan sebuah pengumuman jang memuat sjarat-sjarat jang harus dipenuhi untuk dapat membuka dinas siaran setjara monopoli. Akan tetapi rupa-rupanja sjarat-sjarat tersebut sangat berat hingga mereka tak sanggup mengerdjakannja. Djadi mereka mengundurkan diri. Diantara orang-orang dan badan-badan tersebut hanja ada satu jang sanggup mengerdjakan ialah NIROM jang pada waktu itu sudah mempunjai organisasi jang rapi dan memiliki modal jang besar pula. Dengan NIROM ini pemerintah Hindia Belanda mengadakan perundingan selandjutnja dan achirnja kepada badan ini diberikan izin siaran. Pembukaan dilakukan tanggal 1 April 1934.” Oh! Aku mulai mengerti kebermaknaan NIROM di Hindia Belanda. Aku pun agak mengerti dengan kebijakan penerbitan Soeara NIROM.

Aku susulkan informasi berkaitan RRI. Sejarah radio di Indonesia memang sejak mula dipengaruhi oleh politik. Radio juga mempengaruhi politik. Suroto menjelaskan: “Sesudah penjerahan kemerdekaan pada tanggal 27 Desember 1949, maka RRI dan ROIO (Radio Omroep In Oversgangstijd) dipersatukan mendjadi Radio Republik Indonesia Serikat jang kemudian diganti dengan Radio Nasional Indonesia. Ketika negara kesatuan pada tanggal 17 Agustus 1950 diproklamirkan, maka dipilih nama jang lama ialah Radio Republik Indonesia.” Aku malah penasaran dengan penggunaan pilihan kata Suroto: “penjerahan kemerdekaan”. Dulu, di buku-buku pelajaran dan keterangan para guru: “pengakuan kedaulatan”. Ah, aku tak tahu penggunaan kata paling benar “kemerdekaan” atau “kedaulatan”.

Radio 3

Radio menentukan martabat negara di mata dunia. Di bab III, ada penjelasan tentang siaran luar negeri oleh pelbagai negara. Di radio, pelbagai informasi dan propaganda bisa dipancarkan secara luas. Suroto menerangkan: “Bahwa radio pada zaman modern ini dapat dikatakan sebagai alat propaganda jang penting sekali tentu semua orang mengetahuinja. Itulah sebabnja tiap-tiap negara mempergunakannja sebagai alat untuk mendapat pengaruh sebesar-besarnja. Baik setjara halus maupun setjara njata.” Radio memang berperan sebagai propaganda politik, ekonomi, pendidikan…, dipancarkan ke luar negeri. Radio juga alat propaganda asmara. Dulu, aku sering mendengar acara pembacaan surat-surat cinta diselingi lagu-lagu romantis di SAS FM (Solo). Di radio, asmara melenakan pendengar.

Aku berharapan menemukan buku-buku lagi tentang radio. Tulisan Rudolf Mrazek tentu semakin menimbulkan rangsangan untuk mengerti radio bagi hidupku dan Indonesia. Sekian teks sastra mengisahkan radio. Gombloh melantunkan lagu tentang radio. Buku-buku mengenai radio dengan perspektif sejarah, politik, agama, pendidikan bakal membuatku memberi penghormatan atas radio ketimbang “terkapar” di depan televisi. Begitu.

Iklan