Tag

, , , ,

Bandung Mawardi

Berita-berita pembangunan Balai Kirti di Kompas dan Jawa Pos aku simak dengan saksama. Gunting memisahkan berita-berita dari halaman koran. Aku tempelkan di tembok, samping komputer. Aku memandang dengan geli(sah) dan bernafsu membuat esai-esai mengenai museum. Balai Kirti adalah nama musem kepresidenan di Istana Bogor, Jawa Barat. Museum dibangun sejak 2013, mengacu ke instruksi SBY. Aku adalah penikmat berita-berita SBY.

Buku-buku dan majalah berkaitan museum lekas dicari, dikumpulkan di depan komputer. Aku membaca sambil menikmati lagu kenanganku: Sophia Latjuba dan Indra Lesmana berjudul Tiada Kata. Lagu terus berulang, selusin. Aku tak bosan mendengar lagu lelaki-perempuan saat berpasangan demi cinta. Kini, setahuku, Sophia Latjuba telah akrab dengan Ariel Noah. Aku masih selalu ingin mendengar lagu-lagu Sophia Latjuba saat masih bersama Indra Lesmana. Dulu, aku mendengar saat SMP. Aku segera terpesona sampai sekarang: tak mau berpaling ke lain lagu. Oh! Eh, urusan museum…

Aku menggarap esai mengenai patung. Di Balai Kirti, direncakan dihadirkan enam patung presiden. Esaiku tampil di Solopos, 9 Agustus 2014. Esai susulan berjudul Museum. Aku menulis saat menikmati Ahad, 10 Agustus 2014. Pagi, belanja buku di Manahan dan santap soto bareng Set dan Fauzi. Balik ke Bilik Literasi mengerjakan esai, mencari warung internet di kampung. Esai berhasil setor ke Koran Tempo. Siang, santap pitik goreng. Sore santap gorengan. Malam, teman-teman berkumpul di Bilik Literasi untuk Pengajian Malem Senin. Sekardus pitik goreng dibawa pengantin baru. Ah, aku tak ingin makan. Perut masih sesak. Aku dan teman-teman mengobrolkan peran penjagong. Waktu cepat berlalu. Pukul 10 malam. Ha! Aku mesti segera tidur.

Museum 1

Hari menjadi Senin. Eh, esaiku tampil di Koran Tempo, 11 Agustus 2014. Pagi, aku sudah menulis esai kecil untuk selebrasi kemerdekaan. Aku mulai memandangi majalah lawas bernama Budaja edisi Maret-Mei, 1963. Majalah terbitan Djawatan Kebudajaan Pusat, Departemen P.D. dan K. Urusan Kesenian, Jogjakarta. Dewan redaksi: Nasjah Djamin, Loekman Effendi, Mat Dhelan. Majalah tipis tapi berkhasiat.

Daftar isi memuat judul-judul tulisan mengenai museum. Edisi museum, usai peristiwa Musjawarah Museum di Jogjakarta, 11-14 Oktober 1962. Ada sambutan dari Prijono selaku Menteri Pendidikan Dasar dan Kebudajaan: “Sifat djang umum dari semua museum dalam zaman modern ini ialah bahwa disitu terdapat kumpulan jang besar atau agak besar dari benda-benda dan atau dokumen-dokumen/buku-buku jang berhubungan dengan salah suatu atau beberapa tjabang kesenian atau ilmu pengetahuan atau sedjarah kehidupan manusia dengan segala kebudajaan dan tehniknja, jang memberi kesempatan pada umum untuk menikmati dan beladjar kesenian-kesenian dan ilmu-ilmu pengetahuan jang disediakan didalam museum-museum itu. Dengan perkataan lain, museum-museum itu semuanja mempunjai arti pendidikan.” Kutipan panjang, berharap “disetujui” SBY dalam misi memberi warisan bagi kita dengan Balai Kirti.

Museum 2

Di Indonesia, museum ada di pelbagai kota. Konon, museum-museum sepi atau lengang. Pemerintah malah terus membangun museum. Berita terakhir adalah pembangunan Museum Wali Songo. Museum diadakan oleh kementerian dengan pimpinan M. Nuh. Museum terlalu penting bagi pejabat. Kita juga dipaksa ikut menganggap museum terlalu penting. Aduh!

Indrosoegondho dalam sambutan ikut memberi propaganda: “Pangkal pendirian kita sekarang… Untuk turut serta membangun kebudajaan Indonesia jang berdjiwa sosialis dan sesuai dengan kepribadian Indonesia.” Museum dianggap memiliki peran besar di masa Orde Lama. Museum berkaitan seruan atau pemikiran Soekarno. Museum tentu politis. Museum dibangun dan dikembangkan menggunakan referensi Pancasila, Manipol, Usdek, Djarek. Sangar!

Museum 3

Pesan keren disampaikan oleh Ghozali dalam tulisan berjudul Museum dan Pendidikan. Pesan mengandung optimisme: “Museum harus mendjadi pusat kebudajaan dan sumber kekuatan mental bangsa Indonesia jang dari saat kesaat selalu menggugah serta membimbing masarakat untuk menudju kesempurnaan bangsa dan negara kita. Mudah-mudahan musawarah museum se-Indonesia jang pertama ini akan mendjadi pembuka pintu dan titik tolak untuk memulai sedjarah baru dari museum Indonesia.” Aku berharap Joko Widodo membaca pesan Ghozali. Usai pemerintahan SBY, Joko Widodo bisa mengartikan museum berperan sebagai “sumber kekuatan mental bangsa Indonesia”, bersesuaian misi revolusi mental. Ah, Joko Widodo tentu tak membaca tulisan di blok wagu berisi tulisan-tulisanku.

Di majalah Budaja, tulisan-tulisan tentang museum ada di halaman-halaman awal. Pembaca masih bisa membaca tulisan bertema berbeda. Aku memilih mengutip isi tulisan berjudul Orkes Simfoni: Suara Baru untuk Indonesia karangan Carl Anton Wirth. Tulisan menjelaskan keberadaan orkes simfoni di studio RRI Jakarta. Di Indonesia, orang-orang diajak mengakrabi siaran orkes simfoni melalui radio. Carl Anton Wirth menulis: “Belum lama berselang… suatu orkes simfoni hanja merupakan milik permainan kaum bangsawan dan orang-orang kaja jang terbatas djumlahnja. Sekarang dia benar-benar telah mendjadi media musik universal satu-satunja dari seluruh umat manusia, melampaui batas-batas geografis dan perbedaan-perbedaan politik, mendjadi milik seluruh rakjat dari semua bangsa, kepertjajaan dan warna kulit, dan menghubungi perbedaan-perbedaan dari golongan-golongan ekonomi dan pendidikan.” Alinea berlebihan, mengandung “terlalu”. Ah, mirip sambutan para pejabat jika memberi keterangan tentang museum. Begitu.

Iklan