Tag

, , , , , ,

Bandung Mawardi

Di Indonesia, revolusi adalah puisi. Para pemikir politik sering menulis kalimat-kalimat puisi saat menerangkan revolusi. Aku anggap Goenawan Mohamad adalah penulis paling rajin berkisah revolusi, menggunakan kalimat-kalimat elok dan menawan. Revolusi mendapat referensi di Prancis, Amerika Serikat, Rusia, Tiongkok, Indonesia… Goenawan Mohamad pinter mencari tokoh, peristiwa, buku untuk tampil sebagai kutipan. Esai-esai revolusi tentu tak melulu kutipan. Goenawan Mohamad pun memberi pengertian revolusi serupa puisi. Aku sering membaca di buku Catatan Pinggir (10 jilid) dan esai-esai di pelbagi buku. Di puisi, revolusi semakin impresif.

Di Indonesia, produsen revolusi paling terkenal adalah Soekarno. Tulisan dan pidato, sejak masa 1920-an berlimpahan ungkapan revolusi. Aku membaca ulang Di Bawah Bendera Revolusi (jilid II) demi mengalami pitulasan berliterasi. Mata selalu menemu revolusi. Aku tak menghitung tapi bisa merasakan pesona revolusi jika diucapkan Soekarno di depan ribuan orang, peserta upacara pitulasan di Jogjakarta dan Jakarta (1946-1965).

Revolusi 1

Aku tak ingin menjadikan Soekarno = revolusi. Aku masih memiliki tokoh-tokoh penjelas dan pengisah revolusi. Dua halaman tulisan bercap “kata pendahuluan” ditulis Roestam Effendi di Solo, 1 Desember 1949. Peristiwa-peristiwa penting dikomentari Roestam Effendi, menghasilkan buku berjudul Revolusi Nasional (Patriot, Jakarta, 1949). Dulu, orang-orang berhak mempergunakan revolusi dengan pelbagai maksud dan risiko. Roestam Effendi adalah sang intelektual, tak sembarangan menulis revolusi. Kejutan puitis tampil di awal tulisan: “… revolusi kita patah ditengah.” Wah, Soekarno bakal mesem saat bergairah mengucap revolusi malah mendapat saingan pesimistik. Penjelasan sendu dari Roestam Effendi: “Kita katakan ini dengan napas jang sesak dan hati jang menangis, karena mata kita terpaut kepada nasib ra’jat djelata jang berdjuta-djuta itu, atas nama siapa sebetulnja revolusi itu tadinja diangkat dan digerahkan. Kita engapkan perkataan ini dari dada jang djernih, sebagai orang jang ikut tanggung djawab kepada perdjuangan ra’jat Indonesia dan kepada sedjarah, jang akan menuliskan dan menghukumkan perbuatan kita dibelakang hari.”

Gumun sudah tak berlaku. Revolusi itu puisi. Dulu, aku merasa revolusi tentu slogan dan propaganda. Revolusi adalah kumpulan kata-kata keras dan kasar. Ah, pengaruh dari bersekolah dan membaca buku-buku pelajaran. Aku harus segera bertobat dari ingatan revolusi sesuai penjelasan Orde Baru. Roestam Effendi sanggup mengisahkan revolusi dengan kalimat-kalimat mengena di kalbu meski tak disajikan sebagai puisi.

Revolusi 2

Kalimat-kalimat elok tentang revolusi sulit menghindari maksud propaganda. Roestam Effendi memang puitis. Di sela penjelasan menawan, Roestam Effendi memberi propaganda agar buku “bersuara” keras: “Ra’jat murba, apabila ia memegangkan pedoman jang djitu, apabila ia tidak mau diperkuda-kudakan dengan sembojan dan petitih sadja, apabila ia mendjalankan politik revolusioner jang merdeka, ra’jat murba Indonesia tjuma boleh ta’at kepada pemerentah kebangsaan, jang benar-benar bebas sepenuh-penuhnja dari kekuasaan asing, jaitu pemerentah Indonesia, jang berdaulat ta’ terbatas atau tidak dibatasi terhadap kedalam dan keluar negara Indonesia!” Aku beruntung tak menjalani hidup pada masa 1940-an. Aku pasti jemu berhadapan jutaan ungkapan revolusi di buku, pidato, poster, koran, majalah…. Sekarang, revolusi adalah memori romantis. Lho! Joko Widodo berbeda denganku untuk urusan revolusi. Si lelaki kurus tetap terpikat revolusi mental.

Aku tak bisa menduga buku garapan Roestam Effendi laris di pasar. Dugaanku, buku-buku Soekarno, Hatta, Sjahrir, Tan Malaka, Muhammad Yamin laris ketimbang buku berjudul Revolusi Nasional. Aku tak meremehkan buku jika cuma bercap tidak laris. Di pelbagai tulisan dan diskusi, aku jarang mendapat orang-orang mengutip pemikiran-pemikiran Roestam Effendi atau mengucap judul buku-buku garapan Roestam Effendi. Ah, masa itu berlalu. Roestam Effendi tetap bersamaku di Bilik Literasi meski orang-orang melupa atau tak mengenal.

Ingatan bergerak ke 1945. Di desa, orang-orang sibuk kerja bakti dan pamer umbul-umbul. Bendera merah putih pun berkibar. Aku tak mungkin meramaikan situasi dengan dengan khotbah revolusi. Di desa, aku malah diajak ikut menjadi tim sukses mengadakan malam tirakatan dengan mengundang hiburan campursari. Oh! Barangkali aku bakal menulis esai berjudul Tak Ada Revolusi atau Campursari = Proklamasi.

Revolusi 3

Roestam Effendi menerangkan: “Ditahun 1945, waktu revolusi kita meletus, maka njatalah Indonesia menghadapi dua matjam kemungkinan. Jang satunja kemungkinan untuk mentjapai kemenangan sosialisme, artinja berdjuang konsekuwen menentang imperialisme menurut pengetahuan Leninisme, jang lainnja kemungkinan untuk berkapitulasi, artinja melepaskan tjita-tjita sosialisme untuk kembali kearah pembangunan kapitalis…” Penjelasan muluk dan sulit. Di desa, orang-orang memilih labur, pring, bendera, pacul, arit, telo, kacang, teh untuk kerja bakti ketimbang mengurusi “sosialisme”, “Leninisme”, “kapitalis”. Eh, di rumah tetangga sudah terdengar dangdut koplo. Hore!

Revolusi 4

Episode kerja bakti adalah bukti nasionalisme atau jiwa revolusioner di desa. Aku pulang dengan keringat dan bingung. Memori proklamasi adalah kerja bakti. Di rumah, aku mesti menulis esai-esai agar terhindar dari fanatisme kerja bakti, beralih ke penulisan memori-memori proklamasi. Begitu.

Iklan