Tag

, , , ,

Bandung Mawardi

“Tanah ialah batu jang dimakan hari”, tulis L.M. Schwarz di buku Harta Sedjengkal (W. Van Hoeve, Bandung). Kalimat mirip puisi mengandung ilmu pasti. Wah! Aku berulang menulis esai tanah tapi belum pernah mendapat penjelasan naif. Aku berimajinasi kelihaian penulis mengajak pembaca mempelajari ilmu. Hari memiliki mulut, makan tak kenal lelah agar batu-batu menjadi tanah. Hari pun mempersembahkan tanah bagi petani untuk beribadah menanam padi, jagung, tomat… Ah, aku malah merasa ada pembelajaran puisi dan religiositas, bermula dari pengertian tanah.

Di awal buku, penulis sudah memberi ajakan: “Indonesia adalah negara pertanian dan oleh karena itu nasibnja tergantung kepada lapisan tanah subur jang meliputi kepulauan ini. Lapisan itu sangat tipis, tebalnja rata-rata tidak lebih dari sedjengkal. Oleh karena itu kita harus hemat sekali terhadapnja dan kewadjiban kita ialah berusaha sekuat tenaga untuk memakai tanah itu sebaik-baiknja.  Lapisan sedjengkal inilah jang mendjadi modal kita dan modal itu pantang diboroskan, sebab djika demikian hilanglah penghasilan kita. Dan maksud buku ini ialah menginsafkan segenap penduduk jang merasa dirinja bertanggung djawab, bagaimana akibatnja dikemudian hari, djika kita menjia-njiakan tanah.” Setuju! Aku tak perlu berpikir selama seribu hari untuk memberi persetujuan. Tanah adalah urusan hidup-mati, kemuliaan negara-bangsa.

Tanah 1

Di desaku, harga tanah mahal. Setahun silam, aku berhasil membeli tanah dan mendirikan rumah meski bermodal utang. Sekarang mencicil utang saat mengetahui harga tanah di sekeliling rumah mulai naik. Aku merasa terlalu cepat naik. Tanah untuk rumah. Temanku juga sedang bertaruh nasib membeli tanah dengan pelbagai pertimbangan. Tanah untuk rumah tentu berbeda dengan tanah untuk pertanian, peternakan, pertokoan, bandara, terminal, parkiran…. Aku tak bermaksud membelok jauh dari maksud-maksud L.M. Schwarz memberi uraian-uraian tentang tanah.

Aku agak gemetar saat membaca alinea pendek tapi mengundang sedih: “Sudahkah kita pernah memikirkan, berapa banjak kerugian itu? Banjaknja tanah subur jang hilang lenjap dihanjutkan oleh sungai-sungai setiap tahun ada 200 djuta ton. Djika seandainja tanah sebanjak itu harus diangkut dengan kereta api, maka kita memerlukan sedjumlah 13.000.000 wagon. Ini hanja untuk pulau Djawa sadja. Sekarang mengertilah kita, berapa banjak harta jang hilang itu.” Apakah aku harus menangis. Sejenak terpukau oleh pengertian “batu jang dimakan hari”, berubah jadi kekagetan oleh ungkapan “hilang lenjap dihanjutkan sungai-sungai.” Oh, aku harus merenungi tanah, batu, hari, sungai…. Renungan mesti ditambahi bab hutan. Tanah berkiatan hutan.

Tanah 2

Apakah hutan? L.M. Schwarz menjelaskan: “Betapa besarnja pengaruh hutan kepada manusia, tidaklah dapat diukur. Seluruh djiwa raganja, kesusilaan, adat-istiadat dan agamanja ada hubungannja dengan hutan. Dewa-dewa jang pertama adalah dewa-dewa hutan; kita umpamanja mempunjai tjeritera dewa jang ada hubungannja dengan hutan.” Lho! Buku mulai memiliki gelagat menjadi bacaan mitologi. Ah, penulis memang pintar menggoda pembaca, memberi pengertian puitis dan mempengaruhi agar terus membaca halaman demi halaman. Pengertian hutan membuatku ingin berkelana di hutan, hadir dan membuat penilaian-penilaian mengenai pelbagai hal. Oh, hutan. Sekarang, aku sering sedih jika mendengar istilah hutan. Berita-berita sering berisi pembakaran, pembalakan liar, alih fungsi, pengusiran komunitas adat…. Sedih agak terbalas dengan lakon Butet sebagai pengajar bagi anak rimba.

L.M. Schwarz mengambil kutipan pepatah dari Prancis: “Bangsa tidak mempunjai hutan adalah bangsa jang mati.” Indonesia memiliki ribuan hektar hutan tapi tak hidup mulia. Aduh! Kalimatku mulai mengeras! Pemerintah memang tak becus mengurusi hutan meski diadakan kementerian atau pembuatan peraturan. Hutan semakin rusak, merana, sakit, hancur…. Penjelasan: “Hutan-hutan besar sekali faedahnja sebagai pelindung tanah, sebab daunnja jang rimbun dapat menahan air hudjan lebat, seperti sering terdjadi didaerah panas dan dengan demikian air hudjan itu masuk kedalam tanah berdikit-dikit. Air itu mengalir kebawah dengan lambatnja dan kadang-kadang berbulan-bulan lamanja, barulah air itu muntjul keluar sebagai mata air.” Penggunaan ungkapan mata air terasa lembut dan indah.

Tanah 3

Di sekolah dan kampus, aku anggap pelajaran tentang hutan jarang diberikan. Indonesia sebagai “negeri hutan” tak memiliki narasi-narasi elok untuk diajarkan sebagai hikmah. Hutan cuma kadang muncul sebagai latar cerita perang. Hutan mesti diajarkan sebagai referensi kehidupan. Hutan tentu tak harus diajarkan di mata pelajaran IPA. Di pelbagai mata pelajaran, hutan bisa menjadi materi dalam penguatan nasionalisme, religiositas, etika lingkungan, kearifan kultural… Wah, aku mirip penasihat dalam dunia pendidikan di Indonesia.

Informasi mengenai nasib hutan di masa lalu pantas dikutip: “Selama pendudukan Djepang dari 1942-1945 banjak hutan jang rusak di Indonesia. Pemakaian kaju untuk membuat kapal dan bakal bahan pembakar dikereta api memerlukan kaju jang sangat banjak. Lagi pula banjak tanah-tanah onderneming jang dibagi-bagikan kepada para pekerdja sebagai tambahan gadji dan untuk ditanami dengan bahan makanan. Kadang-kadang banjak hutan jang habis ditebang, sehingga keadaan air didaerah sekitarnja mendjadi buruk.” Ingat sejarah Indonesia, ingat hutan. Aku pun sendu. Begitu.

Iklan