Tag

, ,

Bandung Mawardi

 

“Soeatoe penjakit paling hebat, jang ini waktoe meradjalela dalem kehidoepan kita boekan laen jalah penjakit bingoeng dan takoet. Segala orang, toea atau moeda, baek di dalem kantoor maoepoen di roemah, begitoepoen orang-orang jang memang soeda mengandoeng bibit itoe, semoea ada djadi korban.” Wah, aku jadi ingat lagu Vieera. Aku juga tergoda untuk menonton lagi film Once, cerita kebingungan dan ketakutan. Asmara! Film sendu, berisi lagu-lagu… Ah, aku sulit berkisah diri sebagai penonton cengeng. Lelaki tak bisa berbahasa Inggris tapi merasa mengerti dengan isi lagu: If you want me… Aku selalu ingat adegan si perempuan melantunkan lirik lagu: berjalan dari toko saat malam, bibir mengeluarkan kata-kata mengharukan. Oh….

Aduh, aku sedang berurusan dengan buku. Lupakan lagu dan film. Lupakan! Di awal, aku mengutip kalimat-kalimat dalam buku berjudul Pemoedi Asbat: Resianja Mentjegah Rasa Takoet dan Bingoeng (Kartti Dharma, 1938) karangan Ki Tjakrawibawa. Buku dari masa lalu, tebal 16 halaman. Buku tipis tapi diakhiri dengan anjuran: “Ini boekoe haroes dibatja sampe 3 kali.” Membaca buku mirip mengucap mantra atau berdzikir. Si penulis keterlaluan memberi perintah. Apakah pelanggaran bisa membuat pembaca mendapat hukuman penjara selama 100 tahun. Apakah para pembuat polemik “keboedajaan” pada masa 1930-an pernah membaca buku Ki Tjakrawibawa agar mereka tidak bingung memilih berkiblat ke Barat atau Timur?

Bingung 1

Kita mewarisi ribuan buku dari masa silam meski tak semua buku penting atau penentu sejarah Indonesia. Aku tentu tak ingin meremehkan buku Pemoedi Asbat: Resianja Mentjegah Rasa Takoet dan Bingoeng. Aku anggap buku terbitan di Tulungagung mengabarkan ada zaman tak beres. Ingat, masa 1930-an, orang-orang memberi sebutan “zaman meleset” akibat krisis ekonomi melanda dunia. Indonesia mendapatkan dampak buruk. Negeri jajahan semakin kere dan rekoso. Buku tak selalu memberi penjelasan gamblang. Aku cuma membuat hubungan “sembrono” saja sesuai imajinasi zaman dan kondisi Indonesia.

Di halaman 4, penulis berkhotbah dengan lagak filosofis menjemukan: “Ah, apa artinja bingoeng dan takoet? Siapa jang selaloe bingoeng dan takoet boekan ada satoe manoesia sedjati. Tetapi, pembatja jang terhormat, dalem banjak hal kaoe poen sering bingoeng dan takoet. Dari manakah kita bisa dapet taoe itoe? Kerna apakah kaoe batja ini boekoe, djika kaoe rasa dirinja belon pernah berada dalam keadaan bingoeng dan takoet? Apakah lantaran kalimatnja? Kita kira tida, itoelah tida bisa djadi. Ketahoeilah pembatja, bahoewa segala orang masih djaoeh dari kesampoernaan.” Aku ingin menampar pipi si penulis, bermaksud menampilkan reaksi marah alias tidak “takoet”. Wah, penulis mirip omongan-omongan para tokoh bercap ustadz di televisi: berkhotbah diselingi iklan-iklan, berpakaian mentereng, muncul tiap hari tanpa bosan, dikeremuni jemaah-ibu… Acara terpenting di Indonesia adalah pengajian-pengajian di televisi, acara untuk menaggulangi “bingoeng” dan “takoet”. Aku tak bermaksud sinis. Anggaplah tuduhanku tak benar alias tanpa argumentasi.

Bingung 2

Bagaimana cara mengatasi “bingoeng” dan “takoet”? Ki Tjakrawibawa memiliki jawaban: “… bahoea kita poenja tjara bekerdja aken tida meroedikan apa-apa, maoepoen dalem segala hal. Kaoe tidak perlu goenakan obat-obat. Obat-obatan jang dinasehatkan oleh tabib-tabib, tida bisa menoeloeng soetoe apa atawa tjoema sedikit sekali. Dan kaoepoen tida oesah berpoetoesasa atawa berboeat sebaginja.” Pembaca mesti senang mendapat cara mujarab ketimbang menelan pil sekarung dari dokter. Penulis berlebihan menunjukkan kekuatan dan kesaktian.

Cara paling mujarab: “Pergilah tidoer dan atoer segala apa di sitoe begitoe tentrem sebisanja. Kemoedian kaoe bole lepaskan pakean begitoe roepa, hingga kaoe poenja dada dan peroet aken tida dapet rintangan di waktoe tarik napas. Dengen tjara sedemikian kaoe rebahken dirinja tjelentang di tempat tidoer.” Nasihat bijak dari masa 1930-an. Dirimu “bingoeng” dan “takoet”. Tidurlah! Tidur bisa mengusir “bingoeng” dan “takoet”. Tidurlah selama seabad. Jadilah manusia tidur paling lama agar mendapat MURI. Aku sulit menuruti nasihat Ki Tjakrawibawa. Sekian tahun, aku sering tidur berbekal buku agar tak “bingoeng” dan “takoet” saat menjadi ksatria tampan dan sakti dalam mimpi. Aku harus bisa mengalahkan raksasa, monster, penjahat. Tidur dengan mimpi bermula dari puisi, cerpen, novel, esai tentu menakjubkan ketimbang mimpi menjadi orang kere absolut. Emoh!

Bingung 3

Eh, masih ada lanjutan tata cara menghilangkan “bingoeng” dan “takoet” sesuai nasihat penulis: “Tetapi sekarang dateng giliran jang paling penting. Teroetama kaoe tida bole pikir apa-apa, perhatikanlah kaoe poenja pikiran haroes soewoeng belaka. Inilah tida gampang seperti apa jang kaoe kira. Soeatoe pikiran jang dateng padamoe haroes diboewang. Tida satoepoen bole mengajoet padamoe. Apapaoela kao tida bole bitjara sama dirinja sendiri. Djadi boewanglah segala pikiran jang tida-tida…” Ingat, buanglah pikiranmu ke peceren atau keranjang sampah. Lho! Janganlan berpikir. Oh, aku jadi ingat bahwa di Jakarta menumpuk sampah pikiran dari para politikus. Sampah tak bisa didaur ulang. Sampah pikiran menimbulkan bau melebihi telek lencung. Aduh! Buku tipis dari masa lalu membuatku tetap memiliki memori Indonesia masa 1930-an meski aku tafsirkan dengan sembrono dan picik. Begitu.

Iklan