Tag

, , , , ,

Bandung Mawardi

Aku adalah anak ragil. Di keluarga, aku memiliki mas dan mbak. Aku tentu tak memiliki adik kandung. Tahun demi tahun berlalu, aku mengerti hubungan adik-mbak-mas. Aku bertumbuh besar, mendapat pengasuhan orang tua dan mbak-mas. Di diriku, berlimpahan kasih dari mereka. Puluhan tahun, aku merasa “pemberian” memang tak lengkap. Mbak dan mas tak mengenalkan diriku dengan buku-buku bacaan. Mereka tak menggodaku dengan bacaan untuk meningkatkan imajinasi, peka rasa, rasionalitas. Di keluargaku, buku adalah benda asing.

Alkisah, sekian tahun silam, aku menemukan dan merasa memiliki adik meski bukan seibu-sebapak. Perempuan pintar, datang dari jauh. Predikat sebagai dosen di kampus wacana keilmuan dan keislaman mengawali babak pertemuan denganku. Aku tak memerlukan waktu lama atau seratus alasan untuk mengakui “penemuan” adik, membuatku merasa berhak mencurahkan kasih dan membuat propaganda buku. Aku menganggap diriku berarti saat terlibat dalam penggarapan riset tentang sastra dan anak. Tema menggodaku berkhotbah tentang pelbagai hal dalam kesusastraan Indonesia dan pemaknaan tentang anak. Aku pernah menganjurkan agar mencari buku berjudul Bacaan Anak Indonesia Tempo Doeloe: Kajian Pendahuluan Periode 1908-1945 susunan Christantiowati, terbitan Balai Pustaka, 1996. Buku sulit dicari meski sudah berbekal sekian informasi. Anjuran tak pernah berwujud. Adik perempuanku malah sudah jadi sarjana pinter, bekerja di penerbit besar. Sekarang, mengajar di UNJ. Eh, buku Chistantiowati tiba-tiba ada di hadapanku saat aku berbelanja di pameran buku, Solo. Setumpuk. Aku beli semua dengan suka cita. Hore!

Jules 1

Di buku, aku baca keterangan pengenalan bumiputra dengan buku-buku cerita karangan Jules Verne. 1890, buku Jules Verne diterjemahkan ke bahasa “Melajoe”, berjudul Hikajat Fileas Fogg atawa Mengelilingi Boemi dalam 80 Hari Lamanja. Ada juga buku Jules Verne dalam terjemahan bahasa Jawa: Tjarios Aneh Tiga Belah. Sejak ratusan tahun silam, orang-orang di negeri jajahan sudah menikmati cerita Jules Verne, mengimajinasikan petualangan fantastis. Koleksiku untuk buku-buku Jules Verne memang belum lengkap. Terakhir, aku membeli dan mengoleksi buku cerita Jules Verne hasil terjemahan Nh. Dini.

Dulu, aku menemukan buku lawas. Buku terjemahan karangan Jules Verne, berjudul 2000 Mijl Di Dalem Laoet (G.C.T. Van Dorp & Co, 1922), terjemahan dalam “bahasa Melajoe renda” oleh W.N.J.G. Claasz. Aku cuma mendapatkan jilid II, berketerangan: Doenia Sabelah Koelon. Masa 1920-an, orang-orang memiliki pilihan bacaan terbitan Balai Poestaka dan penerbit-penerbit swasta. Orang tua, guru, bocah mendapat bacaan-bacaan memukau meski harus ditebus dengan uang tak sedikit. Dulu, para pembeli buku tentu orang berharta. Konon, Balai Poestaka mengadakan Taman Poestaka agar kaum tak berharta bisa turut membaca dengan cara meminjam. Aku mulai terpancing untuk mengerti pengaruh buku-buku Jules Verne bagi bocah-bocah pribumi. Apakah mereka bermimpi indah setelah terbuai dengan cerita-cerita Jules Verne? Apakah mereka ingin mengikuti isi cerita? Barangkali bocah-bocah saat ada di sekolah saling bersaing berbagi cerita petualangan dari buku-buku bacaan. Ah, mereka pasti berbahagia. Buku berarti sumber bahagia. Jules Verne mendapat pahala Tuhan setelah bisa berbagi cerita untuk bocah-bocah di negeri berjulukan Hindia Belanda atau Indonesia. semoga Jule Verne masuk sorga. Amin.

Jules 2

Aku kutipkan adegan turun ke laut: “Srenta kita soedah toeroen di dasarnja laoet, ilang lah kita poenja rasahati jang koewatir, sabentaran kita mendjadi berasa tegep dan sabar, tambah dari gampangnja kita serta banjaknja jang kita liat barang jang aneh mendjadiken ilang merasaan jang takoet tadi. Semangkin siang, semangkin terangnja di dalem aer terpoekoel sorotnja matahari…” Aku merindukan pengalaman melihat kehidupan dalam air, kehidupan di laut. Rindu sulit ditebus. Aku tak bisa berenang. Ah, kasihan. Sejak bocah, aku takut belajar renang saat teman-teman bergembira berenang di kali. Di atas, aku duduk dan melihat, tak berani ikut bergabung. Penakut! Sekarang, laut adalah imajinasi fantastis. Aku belum berani untuk memenuhi godaan cerita Jules Verne.

Pembaca di masa lalu mungkin berdebar dan penasaran mengikuti adegan-adegan dalam 2000 Mijl Di Dalem Laoet. Bocah-bocah di Indonesia tentu senang jika mampu turun ke laut, “membuktikan” dongengan Jules Verne. Di Indonesa, lautan adalah “surga cerita”, pemberian Tuhan. Di Indonesia, lautan adalah berkah. Konon, orang-orang menjuluki Indonesia adalah negeri maritim, negeri bahari, negeri kepulauan. Aku ingat pelajaran di sekolah. Keterangan klise: Indonesia ada di antara dua samudra… Ah, pelajaran pasti berbeda dengan godaan cerita.

Jules 3

Cerita di laut tak melulu ketakjuban. Di laut, orang bisa berdebar dan mengkrabi maut. Jules Verne bercerita: “Kita liat ombak semangkin besar, aloon seperti goenoeng tambah menambah besarnja sarta memboeroe, memoekoel satoe dengen lain. Nautilus sabentar terlempar di kanan sabentar ka kiri sabentar berdiri sabentar toendoek, aer laoet menimpah pada kita orang djalannja thoefan sampe 45 meter di dalem satoe seconde…” Ah, laut. Aku bisa mengimajinasikan laut tapi sulit mengisahkan diri berlatar laut. Jules Verne telah memberiku cerita. Aku tak bisa membalas dengan cerita. Begitu.

Iklan