Tag

, , , , , , ,

Bandung Mawardi

Siapa mengenal dan mengingat tokoh bernama Mr. Latzim saat meramaikan Hari Kemerdekaan, 69 tahun? Orang-orang terbiasa dengan nama Soekarno, Hatta, Sjahrir, Tan Malaka, Soekarni, Ahmad Soebardjo, Soediro…. Para tokoh selama hari-hari menegangkan sering muncul dalam buku pelajaran dan pidato. Upacara di ribuan lapangan dan sekolah tentu tak bakal mengucap nama tak terkenal: Mr. Latzim. Aku sengaja mengenang Mr. Latzim berpamrih upacara buku. Upacara untuk Hari Kemerdekaan tak mesti di lapangan. Di Bilik Literasi, 22-24 Agustus 2014, ada upacara buku bernama Literasi, Proklamasi, Literasi. Buku garapan Mr. Latzim berjudul Sifat-sifat dan Bentoek Perdjoeangan Revoloesi Kita turut dipamerkan atau dicenthelke dengan benang bening.

Buku tipis, terbitan Kementerian Penerangan sebagai seri Poleksos. Semula, aku tak mengenal Mr. Latzim. Biografi tak pernah kutemui di pelbagai buku sejarah. Setelah sekian hari mencoba mencari, aku pun tetap tak mengenal Mr. Latzim. Aku tentu bersalah. Aku membaca buku tanpa mengenal penulis. Presiden, menteri, gubernur, camat, lurah, guru, dosen tak pernah mengenalkanku pada Mr. Latzim. Nama sudah terlupa dari rangkaian sejarah Indonesia. Nama Mr. Latzim tentu tak lazim bagi orang-orang melek seperempat sejarah.

Latzim 1

Tempo mengeluarkan edisi Muhammad Yamin. Orang-orang sudah mengenal dan membaca sekian buku. Aku tak bermaksud iri dengan penampilan ketokohan Yamin. Di Indonesia, kita memiliki tokoh-tokoh bernama tapi tak terkenal, tak pernah diingat sebagai pengisah Indonesia. Aku menduga Mr. Latzim terpelajar. Dulu, gelar Mr. menjelaskan orang berpendidikan tinggi: hukum. Yamin juga bergelar Mr. Apakah Latzim adalah nama samaran? Ah, aku tak tahu. Tahun 2014, aku mengenang Mr. Latzim untuk mengupacarai proklamasi dan revolusi.

“Beberapa boelan soedah berselang sedjak kemerdekaan Republik Indonesia diproklamasikan pada tanggal 17 Agustus 1945. Akan tetapi, sebeloemnja bangsa Indonesia mendapat kesempatan oentoek menjoesoen negara jang baroe itoe telah menderita beberapa pertjobaan jang besar-besar.” Alinea pertama di buku Mr. Latzim. Pembaca bisa mengira penerbitan buku tak lama dari hari bersejarah. Kalimat-kalimat masih berbau mesiu, keringat, teriak, air mata…. Aku terlalu ingin mengerti situasi intelektual dan perasaan para penulis di hari-hari sebelum dan sesudah proklamasi. Mereka tentu tak membuat kalimat-kalimat klise dan buruk. Ada angin revolusioner, mempengaruhi pilihan kata. Indonesia berlangit kata-kata bermakna demi kemerdekaan, kebebasan, kemuliaan.

Latzim 2

Mr. Latzim menulis: “… dapatlah dipastikan bahwa pertjobaan-pertjobaan terhadap repoeblik dan bangsa kita, oemoenja sama sekali tidak melemahkan dan menggontjangkan sendi negara kita, tidak menakoetkan, mengatjau rakjat kita atau mengoerangkan keinsafan rakjat. Malah sebaliknja, serangan-serangan dari loear dan dalam itoe pada oemoemnja telah memperkoeat dan memperdalam iman rakjat dan mempertegoeh barisan kemerdekaan.” Wah, penulis bisa menggunakan istilah “iman” untuk mengisahkan proklamasi dan revolusi. Sejak lama, aku terpikat dengan istilah iman. Pikat tentu berbeda dengan kejemuanku dengan para mubaligh saat berkhotbah dengan sloga klise: “Mari, kita tingkatkan iman dan takwa.” Aku pernah mengucap slogan puluhan kali saat berpidato di Ternate mengenai sastra. Kesengajaan untuk mencari beda efek dan makna. Nukila Amal, pengarang novel Cala Ibi, tergoda dengan misi literasiku: “Meningkatkan iman dan takwa.” Slogan mengandung iman mulai mengakrabkan diriku dengan Nukila Amal, perempuan bermata elok. Sekarang, aku merindu Nukila Amal untuk bercakap tentang sastra.

Nama Nukila Amal tentu dikenali para penulis dan pembaca sastra di Indonesia. Aku tetap memastikan para umat sastra sulit mengenali Mr. Latzim. Lho! Aku harus kembali mengurusi buku garapan Mr. Latzim agar ada penghormatan meski kecil. Mr. Latzim mengabarkan: “Kedjadian-kedjadian dalam enam boelan jang belakangan ini menjatakan dengan terang, bahwa dasar moetlak dari repoeblik adalah sehat sesehat-sehatnja, bahwa semangat dan kemaoean kemerdekaan adalah loehoer sesoenggoeh-soenggoehnja.” Ingat, “sehat” dan “soenggoeh” adalah kebenaran sejarah. Wah! Indonesia tak ingin sakit: flu, panu, korengen, mencret, boroken…. Indonesia adalah negeri “sehat” dan “soenggoeh”, sejak puluhan tahun silam. Sekarang, para pengamat politik mulai senang menggunakan istilah “sakit” saat menjelaskan Indonesia. Ah, mereka keterlaluan.

Latzim 3

Revolusi tak mengenal sakit. Kaum revolusioner adalah kaum menolak sakit meski bisa kebablasen edan alias kenthir. Di Indonesia, orang-orang diajari untuk mengerti bahwa kemerdekaan adalah hasil “revoloesi nasional.” Siapa bisa menjelaskan sesuai kejadian sejarah? Mr. Latzim menjelaskan: “Revoloesi, karena perdjoeangan jang moela-moela ditoedjoekan terhadap penindasan dan imperialisme, pada waktoe sekarang telah bersifat pembangoenan masjarakat baroe. Nasional, karena pergerakan telah melipoeti segala golongan dan lapisan dari rakjat dan pendoedoek Indonesia. Repoeblik tidak sadja disokong oleh soeltan-soeltan dan radja-radja sampai kepada pak tani, tetapi djoega oleh sebagian dari kaoem Tionghoa dan orang Indo!” Aku anggap tahu dengan maksud Mr. Latzim. Ah, aku mengandaikan para sejarawan atau artikelis mengutip penjelasan Mr. Latzim di makalah untuk seminar atau artikel di koran. Begitu.

Iklan