Tag

, , , , ,

Bandung Mawardi

Murid-murid sudah masuk sekolah, berhari-hari. Pemerintah belum memastikan semua murid di Indonesia sudah mendapat buku pelajaran. Aku tentu ingat janji sang menteri bahwa penerbitan dan distribusi buku pelajaran bakal lancar. Janji besar, diucapkan ekspresif tanpa meramal bakal ada keterlambatan atau keruwetan. Sang menteri tak mau segera mengakui kesalahan. Instruksi-instruksi terus diberikan agar buku dapat sampai ke sekolah-sekolah. Aku mulai bersedih dan “terpaksa” mengikuti berita-berita ketidakberesan pendidikan di Indonesia. Aku terlalu memikirkan sang menteri ketimbang kesedihan murid, guru, orang tua. Ah, sang menteri memang “artis besar” dalam urusan pendidikan mutakhir di Indonesia akibat sering berpidato dan menjanjikan hal-hal besar berdalih Kurikulum 2013.

Aku tak memiliki kenangan-kenangan indah dengan buku pelajaran. Sejak SD, aku merasa buku pelajaran adalah buku mengandung perintah dan kutukan. Hidup murid ditentukan puluhan buku pelajaran. Aku dipaksa mengalami ketergantungan akut agar pintar. Aduh! Buku-buku pelajaran ada dalam tubuh dan pikiranku meski tak terlalu menentukan identitas. Konon, buku-buku pelajaran bercap Kurikulum 2013 diusahakan meningkatkan iman dan takwa para murid. Wah! Aku tak terlalu mengetahui maksud-maksud pemerintah. Aku menuduh dan menduga saja. Dulu, buku-buku pelajaran adalah himpunan masalah bagiku dan orang tua. Pembelian buku pelajaran sering membuat onar. Uang! Buku pelajaran = uang. Sekarang, pemerintah mengabarkan buku-buku pelajaran gratis. Aku belum mengerti penjelasan gratis.

Pelajaran 1

Aku memilih membaca buku lawas, bermaksud mengerti kebijakan-kebijakan mengenai buku pelajaran di masa lalu. 1972, terbit buku berjudul Persiapan Naskah Buku Pelajaran: Pembimbing bagi Pengarang di Negara-Negara Berkembang terbitan Balai Pustaka. Buku disusun oleh A.J. Loveridge, F. Cornelsen, L.J. Lewis, I.M. Terekhov. Penerjemahan ke bahasa Indonesia dilakukan oleh Hasan Amin. Apakah sang menteri sudah membaca buku? Aku menduga sang menteri dan para pejabat di dunia pendidikan membaca buku-buku baru berbahasa Inggris untuk meningkatkan mutu pendidikan di Indonesia. Buku-buku lawas jarang dijadikan referensi. Aku berharap di Kemendikbud ada perpustakaan, mengoleksi buku berjudul Persiapan Naskah Buku Pelajaran: Pembimbing bagi Pengarang di Negara-Negara Berkembang. Doa lanjutan: semoga ada peminjam dan pembaca buku. Di Kemendikbud, kesibukan-kesibukan tentu tak memberi kesempatan bagi para pejabat atau abdi negara untuk dolan ke perpustakaan.

Di halaman awal, ada penjelasan: “Peladjaran dalam kelas sangat bergantung pada buku peladjaran. Dalam keadaan guru tidak memenuhi sjarat benar, maka buku peladjaran merupakan pembimbing dan penundjang dalam mengadjar. Bagi murid, buku peladjaran bertugas sebagai dasar untuk beladjar sistematis, untuk memperteguh, mengulang dan untuk mengikuti peladjaran landjutan. Dalam rangka dan isi metode pendidikan, mutu buku peladjaran sekolah amatlah penting. Lebih-lebih lagi di negara-negara jang sedang berkembang, dimana dalam hal tertentu kwalitas harus melengkapi kwantitas, karena peladjaran pertama jang dihasilkan dalam mata peladjaran seringkali harus memenuhi keperluan jang mendesak.” Aku cepat memahami keterangan di buku. Oh, buku pelajaran sangat penting. Aku pastikan pemerintah pasti menganggap buku pelajaran “sangat-sangat penting” demi kesuksesan Kurikulum 2013.

Pelajaran 2

Petunjuk-petunjuk bagi penulis buku pelajaran: “bahan apa jang disjaratkan untuk mata pelajaran jang dimaksud; tjorak keadaan chusus dalam beladjar dan mengadjar; dengan sistim apa bahan ini dalam keadaan chusus ini dapat disadjikan untuk diasimilasikan.” Di Indonesia, aku belum memiliki catatan nama penulis paling produktif menggarap buku pelajaran. Aku juga belum bisa menentukan penulis paling terkenal atau paling berjasa bagi pendidikan Indonesia. Sekian tahun silam, aku mulai mengerti industri penerbitan buku pelajaran. Temanku bekerja di penerbit besar alias raksasa dalam monopoli penerbitan buku pelajaran. Informasi-informasi tentang para penulis buku membuatku bersedih. Mereka kadang menulis buku pelajaran bernalar “keuntungan”. Penghasilan dari penulisan buku pelajaran sering memiliki angka-angka mengejutkan. Industri penulisan dan penerbitan buku pelajaran memiliki aib, ditutupi dengan dalih menunjang pencapaian tujuan pendidikan nasional. Oh!

Bagaimana makna buku pelajaran? Di buku, ada penjelasan gamblang: “Maka negara-negara berpendapatan rendah, sehubungan dengan buku peladjaran sekolah, telah menekankan akan masalah-masalah dalam lingkungan ekonomi dan paedagogi; jang satu hal melingkupi hal jang lain, sebab tekanan-tekanan ekonomi menimbulkan hambatan bagi pedagogi jang baik tetapi mahal, sedangkan pedagogi jang baik mungkin menghendaki pengeluaran jang luar biasa untuk buku-buku peladjaran djika hendak mentjapai standar jang akseptabel….” Aku anggap situasi dilema di negara berkembang masih dialami Indonesia pada masa sekarang. Kalimat-kalimat berasal dari masa 1970-an masih berlaku meski harus ada perubahan redaksi untuk digunakan sebagai kutipan mengomentari keruwetan pendidikan di Indonesia. Buku pelajaran malah bisa mencipta memori-memori buruk!

Pelajaran 3

Sekarang, aku harus mengutip urusan distribusi buku. Wah, ingat istilah distribusi ingat sang menteri. Penjelasan: “Di negara-negara dimana buku-buku peladjaran disalurkan melalui toko-toko buku, kebanjakan penerbit mengundang toko-toko buku untuk mengatur pesanan sebelum tahun peladjaran dengan sjarat-sjarat istimewa, mungkin pembajaran jang ditangguhkan atau boleh mengembalikan sedjumlah tertentu buku-buku jang tidak terdjual…. Di beberapa negara dengan sistim pendidikan jang didesentralisasikan, buku dibeli oleh penjelenggara sekolah pemerintah atau masjarakat setempat…” Aku tak usah meneruskan bab penting di buku mengenai produksi dan distribusi. Aku tak mau bersaing dengan berita-berita buruk di koran, berisi keterlambatan distribusi atau pihak mencetak menuntut pelunasan uang. Ah, aku tak mau berair mata atau sedih tak berujung. Begitu.

Iklan