Tag

, , , ,

Bandung Mawardi

Peringatan 69 tahun kemerdekaan telah berlalu. Di desaku, peringatan disempurnakan dengan pentas campur sari. Acara sederhana tapi membuatku jadi ragu mengartikan proklamasi. Di desa sebelah, ada pentas dangdut. Waduh, aku semakin tak mengerti hubungan lagu-lagu campursari dan dangdut koplo dengan renungan kemerdekaan. Aku pasti goblok! Di desa, kemerdekaan adalah iuran, makan bersama, doa bersama, berdendang bersama. Joget tentu jadi ekspresi menggoda untuk imajinasi-imajinasi sejarah kemerdekaan.

Aku tak ikut upacara bendera tapi mengikhlaskan diri melaksanakan “upacara buku”. Wah! Aku membaca buku-buku lawas mengenai kemerdekaan atau proklamasi. Aku membaca buku berjudul Bingkisan Nasional: Kenangan 10 Tahun Revolusi Indonesia (Upeni, Jakarta, 1955) susunan Darius Marpaung. Buku dokumentasi, tebal 376 halaman. Buku dengan tampilan gambar sampul tentara, lelaki memegang pacul, lelaki memegang pukul, lelaki bercaping, tugu, bendera. Nuansa warna merah semakin membuat tampilan buku sangar.

Revolusi 1

Darius Marpaung menjelaskan arti 10 tahun revolusi Indonesia, 1945-1955: “Berbagai matjam tjara kita pergunakan untuk merajakannja. Tergantung pada keadaan, kesanggupan, tapi lebih penting lagi: arti dari pada kemerdekaan itu bagi orang jang memperingatinja. Bagi kami, tjara jang kami tempuh sekarang adalah tjara jang paling sesuai dengan kemungkinan jang ada pada kami: mendokumentasikanberbagai peristiwa penting dalam sedjarah revolusi nasional kita… Dengan sengadja kami muatkan berbagai tulisan-tulisan tentang sedjarah 17 Agustus 1945. Dengan demikian kami hendak mendekati objektipiteit, jang memang tidak mudah diperdapat, djusteru karena unsur ‘misteri’ ada sembunji dibelakangnja, dengan sengadja atau tidak sengadja.”

Dokumentasi memang penting agar peristiwa-peristiwa tak berlalu tanpa ingatan. Aku harus meniru kerja Darius Marpaung. Aku tentu berhak membuat bunga rampai mengenai proklamasi. Aku juga ingin menerbitkan esai-esaiku bertema proklamasi. Di buku, dimuat ulang tulisan Hatta, pernah dimuat di Mimbar Indonesia. Hatta menulis: “Apabila kita bertanja kepada kebanjakan orang apakah isi proklamasi 17 Agustus 1945, dengan tepat atau sedikit kurang tepat ia akan mendjawab, “Kami bangsa Indonesia dengan ini menjatakan kemerdekaan Indonesia.” Sekalipun pertanjaan itu dimadjukan tengah malam kepada seseorang jang dibangunkan dari tidurnja jang njenjak, ia akan segera menjawab dengan tepat atau kira-kira sematjam itu.” Ah, Hatta bisa menulis dengan nuansa humor! Bagaimana wajah Hatta saat membuat orang tertawa? Hatta mungkin diam dan membenarkan letak kacamata.

Revolusi 2

Sejak SD, aku sudah diajari guru untuk menghapal isi proklamasi. Peran sebagai petugas upacara semakin menguatkan ingatan tentang proklamasi. Soal-soal di pelajaran PMP dan PSPB tentu semakin membuat isi proklamasi menjadi sangat penting. Proklamasi menjadi soal ulangan dan ujian. Aku sudah sering bertemu dan menjawab soal-soal mengenai proklamasi. Aku tak ingin menjadi penjawab tentang isi proklamasi jika dibangunkan Hatta saat tengah malam. Lho!

Proklamasi tak selalu serius dan menegangkan. Di buku, ada humor-humor proklamasi. Aku membaca dengan serius untuk tertawa. Ha! Ha! Ha! Tertawa terputus dan pelan. Humor heroik: “Nama pasukan selam revolusi banjak serem-serem dan bikin orang sering berdiri bulu kuduknja. Karena banjaknja kesatuan maka nama itu beraneka ragam djuga, dan semuanja mengerikan. Ada Pasukan Berani Mati, Alap-Alap Njawa, tetapi ada djuga jang kasih nama dirinja Laskar Kere… Artinja Laskar Pengemis tetapi anggota-anggotanja terdiri dari anak-anak peladjar Solo.” Aku tertawa pelan saja, takut membangunkan asu-asu di belakang rumah.

Revolusi 3

Aku kaget saat membaca petikan humor dari Harian Rakjat, humor ironis: “Tahukah saudara bahwa ketika KNIP Pleno bersidang di Malang ada anggauta jang berpidato begitu ngotot sehingga ada satu giginja jang djatuh? Dipapan pengumuman didepan ditulis, ‘Siapa jang kehilangan gigi supaja diambil di sekretariat…’ Tahukah saudara bahwa ketika berbitjara di KNIP Pleno Malang, mbakju Sri Mangunsarkoro menjatakan menolak Linggardjati sambil menggebrak medja, kemudian turun dari panggung meninggalkan sidang, tetapi kemudian kembali lagi kepanggung sambil bilang sama Sartono, “Maafkan saudara ketua, pajung saja ketinggalan.” Aku tertawa alias ngekek, bersaing dengan lantunan lagu dari mulut asu-asu di belakang rumah. Asu! Proklamasi adalah kumpulan kisah-kisah lucu, jarang diberitahukan ke murid atau mahasiswa. Di desaku, cerita-cerita lucu masih beredar bertokoh para leluhur desa. Ah, aku memerlukan humor untuk jadi patriotik!

Di buku, foto dan sketsa juga ditampilkan agar pembaca bisa mengimajinasikan pelbagai peristiwa. Aku melihat dan merenung. Indonesia dibentuk dari kata, gambar, foto….. Aku merasa buku-buku penting untuk dikabarkan ke publik agar tak kecanduan upacara bendera. Ratusan kali upacara bendera di pelataran sekolah dan bendera, tak membuatku terharu dan merenung secara mendalam tentang proklamasi. Buku-buku justru bisa membuatku menangis dan tertawa. Indonesia ada di buku-buku. Presiden dan publik malah menganggap Indonesia ada di lapangan, halaman sekolah, halaman kantor. Aku harus membuat propaganda pelaksanaan upacara buku untuk melengkapi upacara bendera. Begitu.

Iklan