Tag

, , , , , ,

Bandung Mawardi

            Di Koran Tempo, selama tiga hari memberitakan mobil mewah legislator saat menghadiri upacara pelantikan DPRD DKI Jakarta. Aku sengaja menggunting dan menempel berita-berita, ditempel di dinding rumah. Aku bermaksud menulis esai tentang mobil. Sekian tahun, aku telah menulis esai-esai mengenai mobil, dimuat di pelbagai koran. Aku tak memiliki mobil tapi berkepentingan menulis esai agar mengerti mobil dari pelbagai perspektif. Lha, temanku malah sudah memiliki mobil. Apik. Aku melihat dengan kagum meksi tak terlalu mengimpikan memiliki mobil. Temanku adalah kolomnis Solo dan sejarawan. Berbahagialah!

            Aku ingat mobil saat membaca materi pelajaran di buku berjudul Membatja dan Membentuk Bahasa Indonesia susunan M.S. Sastrowardojo dan B.M. Nur, terbitan Harapan Masa (Jakarta). Buku berisi kutipan-kutipan bacaan dari pelbagai sumber, dilanjutkan pemberian soal-soal untuk dijawab. Di halaman 31, ada bacaan bersumber dari buku berjudul Amerika Serikat karangan A.C. Lijsen: “Di Amerika sendiri ada berdjalan kira-kira 3o djuta mobil, sehingga kamu dapat menghitung bahwa hampir tiap-tiap keluarga mempunjai sebuah mobil. Itu perlu sekali, karena tempat kediaman disana kadang terlalu djauh dari pabrik-pabrik atau tempat bekerdja. Lagi pula di Amerika sendiri harga mobil terlalu murah dan bensin serta minjakpun murah djuga, sebab disana ada tambang minjak tanah dan banjak sekali hasilnja. Bukan orang kaja sadja jang mempunjai mobil, tetapi orang biasa dapat djuga membelinja.” Cerita di Amerika pasti berbeda dengan cerita di Indonesia.

Membatja 1

            Sekarang, aku mengingat mobil berisi kisah-kisah legislator. Di pelbagai DPRD, para mantan legislator enggan mengembalikan mobil dinas. Di Jawa Timur, legislator baru menggadaikan SK untuk membeli mobil, beralasan agar pantas dilihat publik. Legislator mesti bermobil! Di Jakarta, legislator pamer mobil mewah. Di Indonesia Timur, muncul berita ada DPRD menggantikan pengadaan mobil dinas dengan bis. Sangar! Mobil juga mengingatkanku pada Anas Urbaningrum, mengaku mendapat uang dari SBY untuk membeli mobil. Kisah mobil muncul di persidangan. Ah, aku terlalu bersemangat mengoleksi kisah-kisah mobil.

            Di halaman 40, aku dapatkan informasi-informasi mengenai peristiwa-peristiwa di tahun 1953. Informasi penting: “Didapat kabar bahwa Mr. Tadjuddin Noor, wakil ketua II Parlemen pada tanggal 9/8 pukul 13.00 telah berangkat dengan kapal terbang Quantas dari lapangan terbang Kemajoran ke Djeddah sebagai djemaah hadji. Perdjalanan ini akan melalui Cairo.” Eh, jemaah haji memang mulai berangkat dari bandara-bandara di Indonesia. Mereka ingin mendatangi Rumah Tuhan, menjalankan ibadah. Di Indonesia, haji tak selalu urusan ibadah. KPK mulai mengisahkan bahwa haji memuat pengertian-pengertian korupsi saat diurusi para pejabat bernalar uang dan pelanggar konstitusi. Aku memang bersedih ada korupsi dalam pelaksanaan haji. Sedihku diredakan saat menikmati bacaan berjudul Naik Haji di Masa Silam: Kisah-Kisah Orang Indonesia Naik Haji (Kepustakaan Populer Gramedia, 2013) susunan Henri Chambert-Loir. Dulu, orang-orang mau menuliskan segala hal saat menjalani ibadah haji. Sekarang, aku sangsi para koruptor dalam pelaksanaan haji mau menulis kisah untuk dibaca publik. Aku pastikan “lucu” melebihi pengisahan Danarto.

Membatja 2

            Bacaan-bacaan di buku Membatja dan Membentuk Bahasa Indonesia   dimaksudkan M.S. Sastrowardojo dan B.M. Nur untuk memberi ajakan bagi murid mengerti pelbagai hal. Usai bacaan, soal-soal diajukan agar murid mengusahakan kemampuan berbahasa. Aku tergoda dengan judul soal: “Tabungan Bahasa.” Murid diarahkan mencari kata dan mengartikan kata dalam bacaan. Aku menduga pelajaran bahasa Indonesia masa 1950-an cenderung merangsang murid berlaku aktif. Di halaman 47, ada soal: “Sebutkan 10 kata Indonesia jang berasal dari basa Arab…. basa Tionghoa…. basa Eropa…” Kemauan menjawab soal-soal tentu
membuktikan murid memiliki capaian cerdas berbahasa.

            Sekarang, buku-buku pelajaran belum tentu “membimbing” murid menggandrungi bahasa Indonesia atau memiliki kecerdasan berbahasa. Sang menteri mengaku sedih saat bahasa Indonesia masih terpinggirkan sebagai mata pelajaran di sekolah. Kemarin, sang menteri menambah jam pelajaran untuk bahasa Indonesia, berharap ada kemajuan peran bahasa Indonesia sebagai identitas. Ah, aku tidak mengerti maksud sang menteri. Aku malah menantikan ada instruksi menteri agar pemerintah mendirikan pusat dokumentasi bahasa Indonesia, menggenapi faedah Pusat Dokumentasi Sastra H.B. Jassin. Di pusat dokumentasi, pemerintah mengoleksi buku-buku pelajaran, buku-buku bacaan, laporan penelitian…. Aduh, usulku tak bermutu! Obsesinis!

Membtaja 3

            Aku telah mengoleksi buku pelajaran dan bacaan bahasa Indonesia: ratusan. Aku dan teman-teman berniat membuat pameran buku, Oktober 2014. Aku pun berniat membuat buku kecil berisi ulasan-ulasan pendek. Urusan bahasa Indonesia bagiku teramat penting meski aku tak berpredikat guru, dosen, mahasiswa S2, peneliti… Keinginanku sederhana: buku-buku pelajaran dan bacaan bahasa Indonesia tak sirna di Indonesia. Para presiden, menteri, pejabat, dosen, guru mungkin tak memiliki sesal dan airmata jika buku-buku dibuang ke peceren alias tak berjejak. Bagiku, keputusan membeli dan membaca, berlanjut dengan membuat esai-esai mengenai bahasa Indonesia adalah ibadah. Begitu.

Iklan