Tag

, , , , , ,

Bandung Mawardi

Setahun silam, aku membeli buku berjudul Naik Haji di Masa Silam: Kisah-Kisah Orang Indonesia Naik Haji 1482-1964 susunan Henri Chambert-Loir. Buku tiga jilid, harga 125 ribu. Murah! Aku anggap murah saat membaca isi buku, sekian kisah berasal dari dokumen dan buku-buku langka. Aku membaca menggunakan imajinasi bakal berhaji dan menulis kisah. Kapan? Di buku, aku temukan pemuatan kisah dari R.A.A. Wiranatakoesoema (1925). Aku pernah melihat dan memegang buku R.A.A. Wiranatakoesoema terbitan Balai Pustaka. Aku tak berhasil membeli, kalah bersaing dengan kolektor. Kondisi buku masih apik dan menggoda iman pembaca. Chambert-Loir menduga tersisa dua buku di Indonesia. Aku anggap tak cuma ada dua.

Aku membaca kisah haji dari Hamka, Rosihan Anwar, Asrul Sani…. Mereka menulis kisah haji dengan bahasa dan latar modern. Semula, aku menganggap sajian Chambert-Loir tentu lengkap meski ada pengakuan masih mencari sekian buku langka. Aku merasa pantas mengucap terima kasih atas kerja dokumentasi dan pemberian komentar tentang kisah-kisah haji. Pengakuan untuk kelengkapan buku Naik Haji di Masa Silam: Kisah-Kisah Orang Indonesia Naik Haji 1482-1964 mulai berubah saat aku menemukan dan membeli buku berjudul Rahasia Padang Pasir Terbuka (A.B. Sitti Sjamsijah, 1951) karangan Sikoet.

Sikoet

Siapa Sikoet? Aku tidak menemukan penjelasan di buku susunan Chambert-Loir. Judul buku juga tidak disinggung saat menjelaskan penerbitan buku berisi kisah haji setelah kemerdekaan atau masa 1950-an. Wah, aku menduga buku karangan Sikoet tentu belum dipikirkan untuk masuk ke buku tiga jilid. Aku berharap Chambet-Loir dan tim mengetahui buku Sikoet meski tak membahas atau memuat ke buku tiga jilid. Barangkali mereka tak mengetahui atau tanpa sadar melewatkan buku wagu terbitan di Solo? Barangkali buku Sikoet tak memenuhi kriteria-kriteria? Ah, aku tak boleh membuat dugaan-dugaan sembrono. Sikoet tentu nama tak moncer atau sosok aneh dalam sejarah literasi haji di Indonesia. Aku mengandaikan ingin menginformasikan buku Rahasia Padang Pasir Terbuka ke Chambert-Loir. Nah, aku tak tahu alamat rumah Chambert-Loir. Aku juga tidak memiliki nomor telepon si sarjana ampuh asal Prancis.

Sikoet adalah anggota redaksi majalah Adil di Solo. Buku diterbitkan oleh A.B. Sitti Sjamsijah beralamat di Setjojudan 28 Solo. Aku belum pernah mendapat cerita lengkap mengenai penerbit A.B. Sitti Sjamsijah meski aku telah mengoleksi puluhan buku. Aduh! Aku tentu malu tak mengetahui sejarah penerbit di Solo. Malu! Aku harus minta keterangan pada sejarawan dan kolomnis ampuh bernama Heri P. Aku juga harus mencari informasi ke para bakul buku lawas dan kolektor agar sejarah Solo bisa ditulis dari keberadaan dan kebermaknaan penerbit.

Sikoet 2

Sikoet di halaman awal memberi ucapan terima kasih pada K.H. Wahid Hasjim, para pejabat Indonesia di Jedah dan Madinah, redaksi Adil…. Sikoet menulis: “Pembatja nanti, sesudah mengikutinja apa jang tertjantum disini, akan selalu tertanam dihati, gambaran dan djalan-djalannja orang beribadah haji. Silahkan bertjengkerama.” Aku paling suka dengan penggunaan ungkapan “bertjengkerama”. Romantis!

Aku perlu mengganti sanjungan romantis. Isi buku malah membuatku tertawa. Lucu! Kisah haji berisi kelucuan-kelucuan tapi reflektif. Lho! Dulu, aku takjub membaca buku berjudul Orang Jawa Naik Haji karangan Danarto. Lucu dan nakal! Eh, sebelum Danarto sudah ada jurnalis membuat buku mengenai ibadah haji dengan humor kampungan dan menggunakan bahasa-bahasa menggemaskan. Buku dengan tebal 100 halaman: menghibur dan merangsang imajinasi beribadah haji.

Sikoet 3

Sikoet mengisahkan suasana perjalanan dalam bis bersama orang-orang Mesir. Di bis, orang-orang Mesir berdendang keras. Ada teman Sikoet “merasa sedih selalu dan mengeluh: masja Allah itu suara terompet petjah apa terontong ditarik sepandjang djalan batu?” Sikoet memberi deskripsi kunjungan ke rumah-rumah para Emir: “Ruangan digenangi sinar listrik jang terang sekali. Kerosinja serba kerosi ‘feodal’ semua. Artinja tempat duduknja pakai pir dan diselubungi dengan beludru.’ Di rumah Emir disajikan pelbagai makanan. Sikoet berkata: “Belum pula makan, Sikoet sudah merasa kenjang. Tjuma serenta duduk menghadapi segala bahan mateng demikian, fikir Sikoet, bagaimana ini nanti tjara menjerbunja? Benar djuga ramalan Sikoet, tentu dengan tjara bethot-bethotan. Achirnja, tamu dimuka saja pegang paha ingkung kambing, Sikoet jang mbethot rempela dan daging gadjihnja. Bukan main kenjangnja, dasar sudah beberapa hari makan dipondokan kurang puas, kali ini agak kemlakaren.”

Sikoet adalah jurnalis, berkisah mirip novelis kampungan. Aku membaca halaman demi halaman dengan percampuran kaget dan gemes. Berhaji memiliki kelucuan. Oh! Aku tergoda membuat catatan-catatan penggunaan kata-kata atau cara pembuatan kalimat Sikoet. Di buku, ada puluhan kata “langka”. Jarang digunakan lagi dalam percakapan dan tulisan. Sikoet tak bermaksud melucu dengan buku berisi kisah haji. Di halaman akhir, Sikoet berdoa: “Ja Tuhan mudah-mudahan Tuhan memberi kesempatan kepada segenap ummat Islam jang berniat sungguh-sungguh akan menjempurnakan rukun Islam kelima sebagaimana Tuhan sudah memberi kesempatan kepada Sikoet. Amien.”

Buku berjudul Rahasia Padang Pasir Terbuka pantas jadi referensi untuk mengingat pelaksanaan ibadah haji masa 1950-an. Sikoet bertemu dengan Hamka. Aku pun tahu Hamka menuliskan kisah berhaji. Sikoet janganlah dilupakan sebagai pengisah haji. Buku Sikoet tentu pantas dibaca dan dimiliki publik agar jejak literasi tak sirna. Begitu.

Iklan