Tag

, , , , ,

Bandung Mawardi

Dulu, bocah-bocah di Jawa memiliki buku bacaan, berisi cerita dan gambar. Sejak masa penjajahan, bocah-bocah membaca untuk pintar dan mengerti dunia. Sekian buku terus mengalami cetak ulang sampai Indonesia merdeka. Buku bacaan berbahasa Jawa tetap diajarkan ke sekolah-sekolah. Pemerintah menganggap penting arti buku bagi bocah agar terhindar dari goblok alias pekok. Oh! Sekian buku memang karangan orang-orang Belanda tapi berfaedah bagi bocah pribumi.

Aku mengoleksi buku berjudul Panggelar Boedi (J.B. Wolters-Groningen, 1948) karangan W. Keizer, diterjemahkan ke bahasa Jawa oleh R. Inggris. Nama si penerjemah aneh: R. Inggris. Buku berbahasa Belanda diterjemahkan ke bahasa Jawa oleh orang bernama Inggris. Ah, tak usah dipikirkan selama seribu malam. Nama aneh. Gambar-gambar di buku dibuat oleh M. Eland dan W. Stapel-Keizer. Tebal buku 168 halaman. Buku dari masa lalu, memberi panggilan mengenang kenikmatan bocah-bocah pribumi sinau di sekolah dan rumah. Lihatlah, gambar di sampul buku! Tiga bocah sedang membaca buku di bawah pohon rindang. Di belakang mereka, ada gunung, gerobak, kerbau, rumah, pohon kelapa…. Gambaran desa di Jawa.

Bocah 1

Di halaman awal, ada keterangan penting: “Wiwit taoen 1940, nalika tjap-tjapan ingkang kaping gangsal kababar, ngantos sapriki, masarakat Indonesia katah sanget ewahipoen. Pramila preloe, basa miwah isining boekoe poenika katjoendoekaken kalijan kwontenan samangke. Boten sakedik temboeng saha oekara ingkang kabotejal oetawi kagantos; namoeng sasaged-saged kadjagi, moerih sipating boekoe boten kesangeten ewahipoen. Ing wingking kawewahan tigang bab enggal.” Zaman telah berubah. Indonesia pun berubah. Penggunaan bahasa dan isi buku ikut berubah agar kontekstual. Wah, nalar pendidikan masa lalu sudah maju. Buku mesti bermakna meski zaman selalu berubah. Sekarang, buku-buku bacaan untuk murid malah “meninggalkan” dan “melupakan” masa lalu. Loh!

Ada bacaan berjudul Motor Maboer. Dulu, aku saat bocah sering memandang ke langit jika ada “motor maboer” alias pesawat terbang lewat. Aku pun sering naik sepeda dengan teman-teman, bergerak dari Blulukan ke bandara alias Panasan demi melihat pesawat terbang. Di balik pagar, bocah bermimpi naik pesawat terbang. Aku cuma bercita-cita naik pesawat terbang. Aku tak mau bercita-cita menjadi pilot. Di rumah dan sekolah, bocah-bocah memiliki permainan pesawat terbang, dibuat dari kertas. Lumrah, buku tulis sering menipis akibat disobek untuk membuat mainan pesawat terbang.

Bocah 2

Isi cerita: “Ing sawidjining dina wajah bedoeg, Soetardja, Soemitra, Oemar lan Oerip pada dolanan ana ing satjedake pamoelangan. Doemadakan Soetardja ngingetake mendoweoer, amarga kroengoe swara ngoeng-ngoeng saka kadohan, jaikoe swaraning motor maboer.” Bocah-bocah nggumun. Mereka terus bercakap tentang “motor maboer.” Apakah mereka pernah mendapat cerita tentang “motor maboer” dan Soekarno? Aku masih ingat adegan menggelikan saat Soekarno naik pesawat terbang pada masa 1940-an (Adams, 1966). Soekarno berbisik ke Suharto bahwa kebelet kencing. Suharto menganjurkan kencing di belakang pesawat. Pengakuan Soekarno: “Aku melangkah dengan diam-diam kebagian belakang pesawat dan melepaskan maksudku. Nah, baru sadja kumulai maka angin jang keras bertiup melalui sekelompok lobang peluru dan menerbangkan semua itu memenuhi ruang pesawat. Kawan-kawanku jang malang terpaksa mandi dengan zat tjair itu.” Ha! Sejarah Indonesia tentu melupakan detik-detik dramatis Soekarno kencing dalam misi perjuangan untuk kemerdekaan Indonesia. Eh, ingat kencing, ingat buku puisi berjudul Perempuan yang Membuat Air (KPG, 2014). Kumpulan puisi dari pujangga Korea Selatan bernama Moon Chung Hee. Ada puisi tentang perempuan kencing: apik dan menggemaskan.

Di buku Panggelar Boedi ada bacaan berjudul Mitra Satoehoe, berkisah tentang kerbau dan keluarga petani. Aku membaca dengan rasa kangen saat masih bocah jadi penggembala. Aku kutipkan isi cerita: “Kala isih esoek oemoen-oemoen, pak Soeradi wis menjang sawah, preloene arep nggaroe oetawa mloekoe. Jen wis panas, kebone diroetjat, bandjoer pada moelih. Pak Soeradi gemati banget marang ingon-ingone. Jen ngarepake wajah Asar, si Soeradi menjang kali karo kantja-kantjane, pada nggoejang kebone. Wah doeh boengahe botjah-botjah maoe jen pinoedjoe ana ing kali karo pada tjiblon!” pengisahan sederhana tapi membuatku terharu. Aku sangat terpikat dengan dua ungkapan: gemati dan boengah. Aku terlalu sering mengartikan gemati dalam novel-novel asmara berbahasa Jawa. Oh, gemati….

Bocah 3

Cerita tentang petani dan kerbau hampir sirna di Jawa. Para petani mulai menggunakan traktor. Dulu, di depan rumahku ada petani memelihara kerbau. Si petani bernama Saban. Kandang di depan rumah. Bau lethong bersebaran ke segala arah. Tumpukan jerami menggunung. Sekarang, kandang itu hilang. Kerbau juga sudah tak ada. Di desaku, traktor mengisahkan sawah. Kerbau adalah nostalgia. Dulu, si penggembala kerbau adalah Kampret. Aku menjadi penggembala kambing. Di sawah, aku sering menunggangi kerbau. Di sungai, aku kadang ikut memandikan kerbau milik Kampret dan Wono. Oh, memori wagu bagi bocah desa. Buku Panggelar Boedi tentu tak dicetak ulang lagi untuk masa sekarang. Zaman terlalu berubah. Buku mesti mengalami perubahan besar jika tetap menjadi bacaan bagi bocah di Jawa. Begitu.

Iklan