Tag

, , , ,

Bandung Mawardi

Indonesia tak harus selalu dijelaskan terdiri ribuan pulau, diapit dua samudera dan dua benua. Penjelasan selalu mengingatkan pelajaran di SD. Aku terlalu jenuh. Dulu, guru selalu bersemangat menjelaskan Indonesia tapi klise. Aduh! Indonesia tidak cuma urusan geografi. Ah, sejak dulu, di sekolah-sekolah penjelasan Indonesia memang fantastis meski tak membimbing murid untuk semakin mengerti Indonesia dari pelbagai sisi. Sekarang, aku mau menjelaskan Indonesia adalah negeri pepatah. Sip!

Sejak 1949, terbitlah buku berjudul 500 Pepatah (Balai Pustaka) susunan Aman. Buku diterbitkan untuk sinau para pelajar. Tebal 122 halaman. Agenda mengartikan proklamasi dan revolusi dibuktikan dengan sebaran pengetahuan pepatah. Aku tentu harus memberi pujian untuk Aman dan Balai Pustaka. Indonesia memang negeri pepatah. Kita jarang mengenal atau mengetahui akibat ketidakberesan pewarisan pengetahuan dan buku 500 Pepatah di dunia pendidikan. Aku mengandaikan orang-orang terpelajar fasih mengucap dan menafsirkan ratusan pepatah dalam komunikasi secara lisan dan tulisan. Mereka tentu kaum berimajinasi dan mletik. Eh, sekarang pepatah adalah nostalgia. Kaum terpelajar sudah memiliki khazanah bahasa untuk berkomunikasi tanpa mengikutkan pepatah. Simak saja di media sosial atau percakapan mereka saat di sekolah atau kampus. Pepatah tak memberi pikat. Aku tetap saja menganggap Indonesia adalah negeri pepatah meski aku tak bisa bekomunikasi lancar di media sosial.

Pepatah 1

Aku memiliki buku 500 Pepatah terbitan tahun 1959, cetakan ke sepuluh. Wah, buku itu laris! Aku memastikan para murid generasi 1950-an adalah orang-orang beradab ketimbang generasiku. Lho! Aku tak bermaksud membuat perbandingan sembarangan. Dulu, aku bersekolah di SD dan SMP tak memiliki referensi dan teladan sinau pepatah. Seingatku, pepatah cuma soal-soal ujian dalam jumlah sedikit dan klise. Ingatan itu mulai pudar. Aku berikhtiar tak kehilangan dengan cara membaca dan mengoleksi buku-buku tentang pepatah.

Aman menjelaskan: “Pepatah atau peribahasa boleh diumpamakan suatu hiasan atau bunga dalam kata-kata. Kata-kata jang disusun dengan indah, kalimat-kalimat jang diatur dengan rapi akan makin bertambah indahnja, bila disisipkan sebuah pepatah di dalamnja.” Pepatah bertugas memperindah? Ah, indah…. Aku menduga orang-orang bernama indah lahir dari keluarga pecandu pepatah. Barangkali Indah Darmastuti juga lahir dan bertumbuh dengan pepatah-pepatah. Risiko hidup di buaian pepatah adalah menjadi pengarang. Aku bisa membuktikan dengan mencontohkan Indah Darmastuti sebagai pengarang: novel, cerpen, cerkak, puisi… Aman melanjutkan: “Semua bangsa dibumi ini mempunjai pepatah dalam bahasanja. Makin tinggi peradaban bangsa itu, maka indah-indah dan banjak pepatahnja.” Indonesia adalah negeri pepatah berarti Indonesia berperadaban tinggi. Sangar!

Pepatah 2

Aku kutipkan pepatah sederhana: “Baik membawa rasmi ajam betina.” Penjelasan: “…usahlah kita menundjukkan kesombongan atau keberanian jang tiada bertentu, karena perbuatan itu kelak akan mendatangkan kesusahan djua.” Aku tambahi dengan pepatah sekaum: “Bagai menggeli ajam betina”. Penjelasan: “… memberanikan orang penakut, bagaimana sekalipun dihasut tiada mau djuga ia melawan.” Aku jadi ingat tugas Set untuk mempelajari dan membuat esai-esai tentang pitik. Riset pitikisme!

Aku setuju jika pepatah diajarkan di sekolah-sekolah. Aku semakin setuju jika pepatah juga diajarkan untuk presiden, menteri, legislator, gubernur, bupati, walikota…. Mereka harus ikut kursus pepatah, bermaksud memperbaiki bahasa dan mentalitas. Di Indonesia, para pejabat sering memberi omongan tak berimajinasi dan amburadul. Mereka tak memiliki tata bahasa mempesona. Mereka tentu juga tak terlalu mengerti pepatah sebagai cara berindah dalam politik. Aku pasti mau jadi guru untuk mengajari pepatah bagi para pejabat, bermaksud membuktikan Indonesia adalah negeri berperadaban tinggi. Oh!

Pepatah 3

Aku kutipkan pepatah apik: “Kerbau punja susu, sapi punja nama”. Penjelasan: “Kita jang bersusah pajah mengerdjakan suatu pekerdjaan, orang lain sadja jang dapat pudjian.” Pepatah bisa jadi politis jika diucapkan di sidang kabinet atau sidang kaum legislator. Pepatah bisa musnah jika tak pernah dipakai. Para pejabat mungkin tak bakal menangis saat ada penguburan seribu pepatah di permakaman umum. Pepatah tak boleh dikuburkan di Taman Makam Pahlawan, tak pernah mendapat piagam pahlawan dari presiden. Siapa pembunuh pepatah? Kita bisa mencari jawab tak tuntas dalam kitab cerpen Seno Gumira Ajidarma, terbitan Kompas.

Kutipan lagi dari buku 500 Pepatah: “Kalau tak bermeriam, baik diam.” Penjelasan: “… orang jang miskin dan lemah itu djanganlah banjak kehendak hatinja dan banjak pantangannja. Djika tak ada daja, terimalah nasib.” Aku mengajurkan agar kaum miskin tak terlalu memuja pepatah pesimistis. Pepatah pernah ada dalam kehidupan para leluhur. Kaum miskin masa lalu tentu bersedih dengan pepatah. Kasihan! Pepatah bisa membahagiakan dan menimbulkan cerita kesedihan.

Buku 500 Pepatah tentu pantas menjadi referensi untuk mengerti sejarah bahasa, peradaban, pendidikan, politik di Indonesia. Apakah buku susunan Aman terus dicetak ulang sampai sekarang? Aku tetap ingin mengabarkan Indonesia adalah negeri pepatah dengan cara meminjamkan buku ke para pelajar, pejabat, dosen, sastrawan, penganggur, esais. Begitu.

Iklan