Tag

, , , , ,

Bandung Mawardi

Sebulan lalu, teman mengabari bakal ada penerbitan buku biografi A.R. Baswedan. Eh, buku itu memanggilku meski tak berteriak. Aku melihat dan berkepentingan membeli. Buku garapan Suratmi dan Didi Kwartanada segera aku ajak pulang ke Bilik Literasi. Siang selalu panas. Sebungkus nasi dan ndhas pitik jadi santapan siang, sebelum membuka halaman-halaman buku berjudul Biografi A.R. Baswedan: Membangun Bangsa dan Merajut Keindonesiaan (Kompas, 2014). Aku bisa menengok halaman daftar pustaka untuk memastikan penggunaan referensi buku-buku agar bisa diperkirakan isi buku.

Ada pencantuman buku berjudul Ar. Baswedan: Boeah Fikiran dan Andjoerannja (1939) susunan S. Maskatie. Buku kecil dan tipis itu ada di koleksi Bilik Literasi. Dulu, aku mendapatkan buku di Solo. Aku jadikan buku kecil imbuhan saat membaca buku berjudul Politik Belanda Terhadap Keturunan Arab di Indonesia (Haji Masagung, 1988) garapan Mr. Hamid Algadri dan Orang Arab di Nusantara (Komunitas Bambu, 2010) garapan L.W.C. van den Berg. Buku-buku perlahan saling bertemu, membuat si pembaca bisa menata pikiran untuk mengetahui ketokohan dan situasi hidup di masa silam.

PAI 1

Maskatie menerangkan di halaman awal: “Penerbitan ini, saja maksoedkan soepaja pembatja teroetama kaoem PAI dapat mengikoeti fikiran-fikiran jang diandjoerkan oleh sdr. Ar. Baswedan, soember tjita-tjita PAI jang pernah termoeat didalam madjalah-madjalah dan s.s.k. Meskipoen tidak lebih daripada menggoenting, soenggoeh tidak moedah menghimpoenkan itoe. Soekarnja ialah memilih jang terpenting dikoetip dan mendjaga djangan sampai beroebah maksoednja.” Wah, pengakuan melakukan kerja “menggoenting”, “menghimpoen”, “memilih” mengingatkanku dengan buku berjudul Arsipelago: Kerja Arsip dan Pengarsipan Seni Budaya di Indonesia (2014). Ada tulisan apik dari Muhidin M. Dahlan, tukang kliping ampuh di Indonesia.

Ar. Baswedan turut memberi pengakuan dan doa: “Saja berharap, moedah-moedahan terpelihara saja daripada salah memikir dan menoelisnja, dan sdr. S. Maskatie daripada salah memilih dan mengoetipnja.” Doa dalam menulis dan membaca memang penting. Doa untuk keselamatan pembaca agar tak sesat pikir dan sembarangan membuat penjelasan. Doa menguatkan iman pembaca. Berdoalah! Ucapkan amin dengan kepasrahan agar Tuhan selalu mencintai pembaca atau penulis. Aku pun berharap selalu dicintai Tuhan. Eh, aku tentu mencintai Tuhan meski ibadahku tak rajin.

PAI 2

Maskatie mengutip tulisan Ar. Baswedan di Mata Hari, 1 September 1934. Aku salut dengan pemikiran dan kehendak Baswedan saat meladeni zaman “kemadjoean” dan gairah membesarkan nasionalisme di Indonesia: “Sebab itoelah, maka kita berpendapatan, bahwa satoe-satoenja djalan sekarang, oentoek mengadakan persatoean diantara kaoen toea, atau lebih tegas lagi, diantara partai Alirsjad dan Arrabitah, hanja dengan mentjiptakan persatoean boeat kaoem peranakannja, atas dasar jang tegas dengan mengingati kewadjibannja terhadap tanah airnja Indonesia.” Peranakan Arab mengaku bertanah air Indonesia, diwujudkan dengan pendirian PAI (Persatoean Arab Indonesia), berlanjut ganti nama menjadi Partai Arab Indonesia.

Baswedan tampil sebagai tokoh berhaluan nasionalis, bersama para tokoh pergerakan kebangsaan menghendaki Indonesia merdeka. Sangar! Baswedan mesti menghadapi kecaman dan kritik atas anjuran bagi peranakan Arab bertanah air Indonesia. Ah, Baswedan tentu manusia cerdas dan bandel, sanggup meladeni pelbagai tantangan. Persahabatan dengan tokoh-tokoh peranakan Tionghoa dan Soetomo di jagat jurnalistik dan politik semakin menguatkan pemikiran Baswedan. Tahun demi tahun berlalu, Baswedan dipilih menjadi anggota BPUPKI.

Baswedan juga pujangga. Maskatie mengutip puisi-puisi gubahan Baswedan tapi menggunakan nama samaran: Ibn. Hani Al-Indonesie. Tokoh pergerakan nasionalisme sering berpredikat pujangga. Soetomo juga pujangga. Ha! Aku mengutip sebait dari puisi berjudul Tawakkal (1936), puisi tak digunakan untuk khotbah di masjid.

Saboeng menjaboeng tjita dihati…!

Bagaikan bidoek beta terapoeng,

Diajoen ombak naik memboeboeng,

Dihempas djaoeh djatoeh ketepi,

Pajah mengikoet kian kemari,

Entah kemana akan achirnja…!

Aku anggap kehadiran buku biografi A.R. Baswedan dan ingatan kembali atas buku lawas penting untuk mendapat pengertian bahwa sejarah politik di Indonesia turut ditentukan oleh kaum peranakan Arab. Sekarang, kita juga sedang “menonton” dan menilai peran Anies Baswedan saat menekuni kerja politik di lingkaran Joko Widodo. Baswedan dan Baswedan adalah representasi dari ingatan atas Indonesia, dari masa ke masa.

PAI 3

Di halaman 42, Maskatie menampilkan kutipan elok dan kritis dari Ar. Baswedan: “Orang-orang jang hidoep individueel, menjendiri, tidak merasa boetoeh kepada tanah Indonesia, hidoep senang dalam “Daroessalam” jang ma’moer, didalam oedara ke-Araban jang berkobar-kobar, dan sewaktoe-waktoe, kalau ta’ senang ditempatnja bisa terbang ke Mesir atau keoedjoengnja doenia, boleh toeroet kepada andjoeran mereka jang ngelamoen…” Wah, aku menduga kalimat-kalimat Baswedan bisa memicu polemik dan marah bagi pemihak kaum “ngelamoen”.

Di halaman akhir, dimuat pujian Hamid Algadri bagi Baswedan: “Saja hormatkan sdr. Ar. Baswedan karena boedinja jang manis, achlaknja jang tinggi dan ketjakapannja jang mengherankan. Baswedan memang tokoh pantas dihormati meski belum mendapat pengakuan sebagai pahlawan. Ah, urusan pahlawan memang rumit jika kita menilik kebijakan-kebijakan sejak masa Orde Lama sampai sekarang. Begitu.

Iklan