Tag

, , , ,

Bandung Mawardi

1925, terbit buku berjudul Lajang Kidoeng, disusun oleh Bala Keslametan. Buku terbitan Kantoor Ageng ing Javastraat 16 itu berisi kidung, pujian berbahasa Jawa untuk Tuhan. Di halaman “beboeka”, ada keterangan dari pengumpul kidung: “Panjoewoen koela soepados Goesti Allah karsaha mberkahi boekoe niki soepados sageda dados lantaran keslametan ipoen bangsa Djawi!” Buku memerlukan berkah Tuhan. Buku mengandung doa-pengharapan. Buku berisi kidung-kidung pun turut menentukan nasib bangsa Jawa. Aku pun menjadi eling bahwa nasib dibahasakan secara religius sebagai “keslametan”.

Aku sering teharu mendengar tembang berbahasa Jawa, merasa ada sentuhan tak biasa. Peristiwa membaca lirik-lirik kidung dari masa lalu membuatku ingat dengan sejarah perkembangan agama di Jawa. Orang-orang Jawa menganut agama Hindu, Buddha, Islam, Kristen, Katolik…. dengan pelbagai pertimbangan dan situazi zaman. Beragama mengartikan ada pemahaman kitab suci. Di Jawa, ekspresi berkitab suci diekspresikan dengan tembang, tari, cerita, lukisan, arsitektur…. Penerbitan buku kidung semakin menjelaskan pergumulan religius, estetika, politik, kultural. Buku disajikan ke umat saat kolonialisme masih mendefinisikan Jawa dan Indonesia. Ekspresi beragama tentu mendapat pengaruh agenda-agenda modernitas dan kolonialisme.

Kidoeng 1

W.J.S . Poerwadarminta dalam Baoesastra Djawa (1939) mengartikan kidung adalah “tembang”, “rerepen”, “karangan (roempakan) kang diiket ing tembang”. Oh, pengertian indah dan mengingatkan kebiasaan orang-orang di Jawa “ngidoeng”, menembangkan hidup, diri, dunia. Mereka juga menembang untuk beribadah. Tembang bagi Tuhan. Aku tak memiliki kebiasaan menembang. Generasiku terpaut jauh dengan para penembang hidup saat berpasrah pada Tuhan dan mengartikan zaman. Aku cuma merindui tembang-tembang melalui membaca lirik di buku-buku lawas. Ajakan bertobat melalui kidung lembut, berlirik sederhana.

Mangga tijang dosa sowan dateng Goesti,

Angakeni dosamoe ingkang katah,

Sampoen soemados ngantos den toempeni,

Wonten slamet langgeng kangge sampejan.

Orang berdosa mendatangi Tuhan: bertobat. Pengakuan dosa membuktikan hamba mau mengubah diri. Apakah aku pernah membuat pengakuan dosa? Ah, dosaku tentu ribuan karung. Pengakuan aku ajukan dengan kata-kata prosaik. Aku pastikan Tuhan mengerti bahasaku. Orang bertobat mendapat “slamet”. Bagiku, “slamet” adalah ungkapan agung, mengandung makna religius. Di Jawa, orang-orang sering dinamakan Slamet. Sekarang, orang bernama Slamet mungkin malu, merasa tak modern atau tak mengerti selera zaman. Aku memiliki teman-teman masih bernama lawas bertradisi Jawa: Supriyadi, Priyadi, Setya, Ngadiyo… Mereka tak malu akibat nama tapi sering malu jika tak rajin membaca dan menulis. Wah!

Kidoeng 2

Aku sering mengakrabi adegan orang berdoa dan menembang di gereja dan rumah. Tetanggaku pernah mengadakan acara, mengahadirkan para hamba menembang untuk Tuhan, berlirik Jawa. Malam, aku mendengar dengan khusuk, merasa ikut mengingat Tuhan.

Goesti Jesoes, Djoeroe Slamet,

Sampoen nilar kawula.

Nadijan gesang, nadijan pedjah

Koela gih derek mawon

Moega Goesti mitoeloengi

Gen koela sami perang

Kangge karatone Goesti,

Moegi maringi menang.

Padang sangking Goesti moegi

Wonten ing manah koela,

Roh ing Goesti moegi noentoen,

Sampoen dawah ing dosa.

Penggunaan bahasa Jawa selalu berurusan “rasa”. Pengertian “rasa” berbeda dengan rasa atau perasaan. Dulu, aku sinau tentang “rasa” di buku Paul Stange. Orang asing malah tekun mengurusi “rasa”, menjelaskan ke orang-orang Jawa. Oh! “Rasa” sering berkaitan agama, kebatinan, kultural, seni… Ah, aku malah ingin sinau lagi, membuka buku-buku lawas tentang “rasa”.

Buku setebal 108 halaman, berisi lirik-lirik indah dan mengena: kidung untuk Tuhan. Siapa mau menembangkan untuk diriku? Apakah Sruti, Endah Laras, Peni? Apakah Sujiwo Tedjo atau Djaduk Ferianto? Di buku, lirik adalah tatanan kata, tak bersuara. Aku ingin lirik bersuara. Kidung tentu bakal mengajak ingat Tuhan dan insaf atas diri sebagai hamba.

Kidoeng 3

Kidung juga bercerita. Pengetahuanku tentang Yesus mengacu ke kitab suci, film, novel, lagu, puisi… Kidung berbahasa Jawa bisa memberi penguatan pemahaman dan pengkraban.

Goestikoe rawoeh ing donja,

Alit mlarat tanpa kwasa:

Anilar sakehing moelja,

Anoeloengi tijang dosa.

Goestikoe disija-sija

Disangsara ing Golgota,

Ngantos amasrahaken njawa

Anoeloengi tijang dosa

Cerita agung dan suci. Aku pernah membaca dan mengapresiasi sekian puisi-puisi lawas mengenai Yesus di Indonesia. Puisi-puisi berbahasa “Melajoe”, sejak akhir abad XIX dan awal abad XX. Nuansa bahasa berbeda dengan lirik kidung berbahasa Jawa. Aku bermaksud setor esai mengenai Yesus dalam puisi-puisi lawas ke Kompas atau Koran Tempo. Aku menunggu Desember. Begitu.

Iklan