Tag

, , , , , , , ,

Bandung Mawardi

4 Agustus 2001, aku membeli buku berjudul Musik Abadi garapan J. Van Ackere, terbitan Gunung Agung. Buku melengkapi kebiasaanku belanja kaset-kaset bekas di klithikan. Aku memang mulai mengoleksi album-album musik klasik: Chopin, Mozart, Beethoven, Tsjaikowski, Bach, Liszt, Stravinski, Richard Wagner… Buku-buku mengenai para komponis juga mulai menjadi koleksi di rumahku. Aku mengenal dengan imajinai melambung, berharap semakin mengerti dengan mendengar musik, menonton film, dan membaca buku.

Di kamar, mendengar musik klasik ibarat peristiwa elite di rumah miskin. Keluargaku tak menggandrungi musik klasik, membiarkanku menikmati sendirian tanpa mengganggu. Kaset dan buku perlahan terkumpul menjadi sumber mempelajari musik klasik. Kaset malah terkumpul ratusan. Ongkos untuk membeli kaset sulit dikendalikan akibat kemunculan kaset-kaset di pasar klithikan sering dadakan. Kaset ada mesti lekas dibeli. Aku sering bertarung dengan para pembeli demi mendapat kaset. Urusan kaset itu boros!

IMG

Ingatan mendapat buku Musik Abadi sering mengikutkan kesombonganku memberi penjelasan ke teman-teman di kampung dan kampus. Aku merasa “paling” mengerti ketimbang mereka. Aku perkenankan mereka meminjam buku atau meminjam koleksi kaset. Sekian gambar komponis aku pasang di dinding kamar. Ah, kesombongan lelaki kampungan.

Van Ackere menulis: “Kalau buku ini akan membawa tuan beberapa kali keruangan konsert atau sampai mendengarkan satu tjiptaan jang baik, maka sudah tertjapailah maksudnja.” Aku belum pernah mendatangi konser musik klasik di gedung-gedung kesenian. Aku cuma pendengar dari putaran kaset. Peran sebagai pengoleksi buku-buku mengenai musik klasik sudah telanjur membuatku “cukup”, tak berambisi hadir di konser musik klasik. Aku cuma bisa “ikut” melihat di film. Dulu, Metro TV pernah membuat siaran konser musik klasik. Aku menjadi penonton setia.

IMG_0002

Kenikmatan membaca halaman-halaman di buku Musik Abadi adalah keterkejutan dan penasaran. Oh! Aku merasa gandrung berdalih musik klasik intim dengan sastra. Aku malah dituntun ke musik klasik melalui tulisan Nietzsche mengenai Wagner. J. Van Ackere menjelaskan: “Di dalam Abad Pertengahan orang menulis musik untuk mendjundjung Tuhan dan membesarkan pemudjaannja. Di djaman Renaissance orang menemui kesenangan di dalam bermain musik, sedangkan djaman klasik kesenangan akan bunji itu mendapat pendjelmaannja di dalam bentuk-bentuk jang diatur oleh akal jang memberikan haluannja…” Ah, aku mulai berimajinasi ke Barat, negeri musik klasik. Aku tak bermaksud abai klenengan, keroncong, dandgut…

Dulu, aku mesti memiliki tuturan memikat tentang musik klasik. Aku pernah berperan sebagai pedagang kaki lima, jualan kaset bekas. Pelbagai kaset menjadi dagangan andalan: jazz, blues, musik klasik, keroncong, dagelan, rock… Di UMS, UNS, STAIN, ISI, TBJT, dan Stadion Manahan aku berjualan kaset-kaset bekas. Daganganku bisa mencapai ribuan kaset. Di depan para pembeli, aku adalah pengisah musik. Mereka lekas terlena, belanja kaset dan bersukacita. Di komplotan kolektor kaset, aku sering diajak berkumpul dan jajan di warung-warung pilihan. Aku mendapat jatah rokok agar mau mendongeng tentang musik dan pelbagai hal. Buku Musik Abadi tentu menjadi referensi ampuh bercerita meski bercampur kengawuran dan kebohongan saat disampaikan ke komplotan kolektor kaset. Sekarang, aku masih memiliki ratusan kaset, sisa dari dagangan di masa silam. Kaset menjadi acuan memori sebagai pedagang dan kegandrunganku dengan musik-musik.

IMG_0005

Pilihan menikmati musik klasik bisa mengantar diriku sebagai perenung, berlagak filosofis dan sastrawi. Wagner pernah bereferensi Faust garapan Goethe dalam garapan musik klasik. Aku membaca buku-buku Goethe dan mengenali Wagner meski terbatas. Di buku Musik Abadi, aku mendapatkan informasi menegangkan mengenai musik, Tuhan, sastra, dan diri. Wagner mengurusi bait filosofis dan teologis dari Goethe.

Tuhan jang berada dalam diriku

Bisa menjentuh lubuk perasaanku

Tuhan jang bertachta di luar tenagaku

Tak bisa menahan tenaga-tenaga lahir

Demikianlah penghidupan mendjadi beban

Kuingin mati dan djijik akan hidup

Ingat Tuhan, musik, mati membuatku mengenang adegan menjelang tidur di Sekar Pace, Solo. Aku dan Ridho kadang memutar kaset berjudul Requim, musik berlirik Katolik untuk mengantar mata terpejam sambil berimajinasi kematian. Kios itu memang berjarak 1 meter dari kematian. Di kios, aku dan Ridho tak mati meski berimajinasi kematian.

Bermusik dengan buku tentu kehormatan. Aku perlahan mengenal orang-orang musik di Solo. Mereka bermusik tapi jarang berbuku. Aku tak bakal mengejek. Aku cuma merasa ada keperluan berbuku agar musik tak melulu untuk telinga. Musik itu menjelma bacaan. Di Solo, pemerintah dan kalangan seniman sering mengadakan pentas musik tanpa ajakan berliterasi. Aku malah mencatatkan diri pernah menjadi pembawa acara festival musik rok, moderator untuk selebrasi jazz di Solo, pembicara diskusi bertema musik, dan menulis esai-esai mengenai musik. Peran-peran itu dipengaruhi bacaan buku dan koleksi kaset-kaset bekas.

Van Ackere berpesan: “Manusia memburu terus ke bentuk seni dan pengalaman hidup jang baru. Dan djuga musik direnggutnja lagi. Suatu tjiptaan nada ditjemoohkan atau disambut dengan meriah: ia akan djalan terus dengan tak ambil peduli.” Aku merasa ada rangsangan dari kalimat-kalimat berkhotbah dan bergairah. Begitu.

Iklan