Tag

, , , , , ,

Bandung Mawardi

27-28 September, guru-guru dari Jogjakarta dola ke Bilik Literasi, berniat sinau. Mereka naik sepur, berlanjut naik taksi sampai ke Bilik Literasi. Aku tak tahu dalil paling ampuh untuk menggerakkan mereka sampai ke desa. Sinau! Ah, ungkapan naif tapi mulia. Sinau berbeda dengan belajar. Bagiku, sinau tak selalu memiliki arti berkonteks sekolah atau universitas. Konon, sinau itu filosofis, etis, religius, politis, ideologis… Ah, aku terlalu memberi pengertian-pengertian mendalam!

Sore, seporong teh dan gorengan tersedia di atas karpet. Aku dan teman-teman memiliki kebiasaan menikmati sore-senja-malam dengan teh dan gorengan. Bercakap sambil nglaras. Bapak dan ibu guru pun ikut upacara minum teh. Eh, mereka bawakan bakpia. Hore! Malam mulai menghampiri. Santap malam bermenu bebek goreng. Lezat! Obrolan tentang pembentukan imajinasi keluaraga. Malam berlalu. Pagi, teh sudah disajikan untuk peristiwa mengalami pagi. Eh, di Koran Tempo edisi mengulas dan mengisahkan teh. Kita berlanjut mengobrolkan teh berkonteks keluarga, sekolah, industri, sejarah, iklan…. Obrolan menjadi tulisan.

Sinau 2

Aku ingin mengenang peristiwa sinau bareng itu dengan mengutip bacaan bertema teh di buku berjudul Batjaan Bahasaku 3B (W. Versluys N.V. Amsterdam – Djakarta, 1958) susunan S. Sastrawinata dan B.M. Nur. Di halaman 31-32, ada bacaan berjudul Mengapa Tidak Bau Teh? Sudi berjalan bareng kakek, ingin melihat kebun teh.

“Nanti kita melaluinja,” sahut kakek. “Pernahkah kamu melihat daun teh?”

“Sudah. Setiap hari ibu membuat air teh. Harum baunja teh ibu, Kek. Kata ibu, teh Pasirnangka paling bagus,” kata Sudin.

Kakek Tersenjum.

 Kakek dan Sudin sampai di kebun teh, melihat para ibu memetik pucuk daun teh. Kaket mengajak Sudin memegang dan melihat daun teh. Sudin bingung: “Ah, mana dapat daun teh! Masakan hidjau warnanja.” Sudin cuma tahu bahwa daun teh berwarna coklat-hitam. Sudin semakin bingung: Mengapa tidak bau teh, ja?” Ah, Sudin memerlukan penjelasan panjang. Aku mengandaikan di kebun teh berbau teh. Aku mau berbaring di bawah pohon-pohon teh, membaca buku dan berdoa. Hariku berbau teh. Hidupku berbau teh. Bahasaku berbau teh. Ah, romantis!

Sinau 3

Dulu, aku tak terlalu serius mempelajari buku pelajaran-bacaan bahasa Indonesia. Sejak SD, aku termasuk murid malas. Sekarang, aku sulit bernostalgia dengan buku-buku pelajaran. Bagiku, buku pelajaran untuk ulangan dan ujian. Eh, sekian tahun terkahir, aku mulai bertobat: penebusan nostalgia dengan belanja dan mengoleksi ratusan buku pelajaran-bacaan bahasa Indonesia. Buku berjudul Batjaan Bahasaku termasuk buku bermutu, merangsangku untuk mengingat situasi belajar dan situasi zaman lampau.

Aku dan teman-teman berencana mengadakan Pameran Buku Pelajaran-Bacaan Bahasa Indonesia di Bilik Literasi, 15-31 Oktober 2014. Koleksi buku untuk pameran berasal dari masa kolonial sampai Orde Baru. Ratusan buku bakal dicenthelke dalam rumah. Mata memandang mirip memandang sejarah Indonesia. Aku memastikan buku-buku itu turut membentuk kemampuan berbahasa, bernalar, berimajinasi para bocah. Buku juga mengisahkan Indonesia. Sangar!

Di halaman 49-51, aku membaca cerita berjudul Kota Bandung. Oh, Bandung membaca Bandung. Lho! Kapan aku dolan dan mengalami suasana Bandung? Ah, tak tahu. Hasan berlibur ke Bandung. Hasan bercakap dengan teman-teman, sepulang dari liburan.

“Mengapa Bandung disebut kota dingin, San?” tanja Sudin.

“Karena hawanja dingin. Hi, bukan main! Pagi-pagi aku tak berani mandi, kata Hasan sambil mendekapkan tangan pada dadanja.

“Apa sadja jang kaulihat di Bandung? Kabarnja kota itu tidak seramai Djakarta. Tapi pemandangannja indah-indah. Benarkah begitu?” tanja Amir.

“Dari Kota, kita lihat gunung-gunung berdjejer-djejer….”

Aku tergoda untuk dolan ke Bandung. Aku juga meniru Hasan, tak mandi saat pagi. Di Bandung, aku tak mencari para leluhurku atau mencari silsilah. Aku ingin mengenang Abdoel Moeis dan Soekarno. Aku juga ingin mencari sensasi dari novel-novel populer lawas berkisah Bandung.

Pilihan membaca buku pelajaran-bacaan lawas sering menggugah imajinasi, berkelana ke masa silam. Pengelanaan bisa menuntunku menempatkan para tokoh dan cerita untuk mengerti politik, ekonomi, plesiran, pendidikan, seni, sosial, hiburan, identitas, kepribadian…. Bacaan-bacaan memberi pengaruh ke bocah. Aku ingin turut mengalami meski sulit kembali berlaku sebagai bocah naif. Aduh! Aku ingin usul agar ada pencipta lagu berjudul Nostalgia SR atau Nostalgia SD bersaing dengan lagu Nostalgia SMA. Dulu sampai sekarang, aku lekas terharu jika mendengar lagu Nostalgia SMA. Aku merasa tak memiliki nostalgia SD, nostalgia SMP, nostalgia SMA. Lirik memberi iri: “Nostalgia SMA kita, indah lucu….”

Aku mesti kembali mengurusi buku lawas. Lihatlah gambar di sampul! Tiga bocah sedang membaca buku di beranda. Dua lelaki, satu perempuan. Lihat rambut dua bocah lelaki: rapi dan klimis. Aku sering diejek di keluarga. Mereka selalu ingat jika aku tak pernah bisa mengurusi rambut. Sebelum berangkat sekolah, aku mencari Mbak Cathis: memberikan sisir. Rambutku pun disisir: sigrak pinggir. Mbak Cathis, orang paling berjasa dalam urusan rambutku. Oh, tiga bocah rajin sinau. Dulu, aku pemalas dan tak mau sinau agar bisa menjadikanku sebagai dokter atau presiden. Begitu.

Sinau 1

Iklan