Tag

, , , ,

Bandung Mawardi

Aku dolan ke Jakarta, 17-19 Oktober 2014. Serrum dan DKJ mengundangku untuk bercakap dan berbagi cerita dengan para kepala sekolah dan pengelola sekolah. Obrolan dilakukan di Taman Ismail Marzuki. Aku datang membawa tubuh dan sekardus buku berisi koleksi bacaan lawas bertema pendidikan dan bahasa Indonesia. Aku diminta pamer buku agar ada panggilan memori saat para pengunjung melihat dan memegang buku. Ah, buku-buku itu membuat orang-orang gemas dan sulit menahan nafsu untuk memotret.

Di meja putih, aku menumpuk buku-buku pelajaran dan bacaan bahasa Indonesia lawas, masa 1940-an sampai 1960-an. Aku berkhotbah sejenak bereferensi ke buku-buku lawas. Obrolan pun mulai menimbulkan penasaran dan perdebatan. Aku meladeni dengan kemauan sinau bersama. Di buku-buku lawas, aku juga tafsirkan pelbagai imajinasi dan pesan melalui sajian gambar atau ilustrasi. Rupa berpengaruh untuk menggoda para bocah menikmati buku pelajaran dan bacaan di masa silam.

Pulang dari Jakarta, teman-teman sudah berkerumun di Bilik Literasi. Aku pulang terlambat. Pukul 9 malam, aku sampai Bilik Literasi membawa sekardus buku   dan sekresek buku. Di tasku juga ada buku. Teman-teman berebutan buku untuk diutang. Hore! Aku saja berutang saat belanja buku di Jakarta. Mereka pun bersukacita: menimang buku sambil menikmati cerita-cerita dari Jakarta. Malam semakin malam. Kami makan mie. Ah, malam romantis. Kami makan di bawah centhelan ratusan buku lawas. Di Bilik Literasi memang ada Pameran Buku Pelajaran dan Bacaan Bahasa Indonesia, 15-31 Oktober 2014.

Lekas 1

Buku-buku memberi panggilan imajinasi ke masa silam. Aku memandangi buku berjudul Lekas dan Gampang susunan Soeria Di Radja dan Mardjana, terbitan J.B. Wolters-Groningen, Batavia, 1948. Nama dua penulis sudah akrab di ingatanku. Buku berukuran saku dan tebal 128 halaman diterbitkan sebagai “Kitab bagi moerid-moerid sekolah Djawa beladjar bahasa Indonesia.” Sejak 2008, aku mulai gandrung dengan buku-buku pelajaran dan bacaan bahasa Indonesia. Aku terlambat untuk mempelajari meski pernah berkuliah di jurusan pendidikan bahasa Indonesia. Di buku-buku lawas, aku jatuh di lembah pesona. Aku selalu girang dan bernafsu mengapresiasi sebagai siasat “pulang” ke masa silam.

Buku ini memang khas bagi bocah-bocah di Jawa. Perintah sederhana muncul di halaman 4: “Salinlah ke bahasa Indonesia!” Bocah diajak menerjemahkan kalimat berbahasa Jawa ke bahasa Indonesia: Asoene Toean Jansen, Gede toer Galak. Kalimat ini membuatku tergoda untuk tertawa. Aku menganggap si penulis buku memiliki keberanian sajikan kalimat berasu. Kini, penulisan asu di buku pelajaran mungkin bakal mendapat protes dari publik. Ah, asu memang penting bagi pendidikan.

Lekas 2

Sebelum kalimat berasu, ada perintah menerjemahkan cerita berbahasa Jawa ke bahasa Indonesia: “Adiku lagi dolanan karo kantja-kantjane ing latar boeri. Kantja-kantjane meh saben dina mrene. Akoe ora wani mlakoe idjen liwat ing alas kae. Ana apa asoene djegoeg bae? Gelis metoeo. Bokmenowo wong ala. Botjah-botjah pada mlajoe, wedi diojak ing asoe edan…” aku malah ingat saat masih SD. Pulang sekolah, aku melintasi rumah … Di sana, ada asu besar. Asu itu sedang berpuisi: guk, guk, guk. Aku berlari. Asu mengejar. Aku menangis saat asu berhasil menjilat kakiku. Asu!

Dulu, bocah-bocah diajak sinau mengerti bahasa Jawa dan bahasa Indonesia. Mereka bergerak di dua bahasa. Kemampuan menerjemahkan atau mengerti bakal membuat bocah memiliki keakraban dengan realitas. Bahasa Indonesia mungkin asing tapi tak terlalu mengasingkan dari realitas bagi keseharian bocah di Jawa. Aku menganggap bahwa bocah-bocah pada masa silam bergembira saat belajar bahasa Indonesia tanpa menepikan atau meremehkan bahasa Jawa. Ah, pendidikan beradab.

Lekas 3

Kini, bocah sering bergerak di dua bahasa: Indonesia dan Inggris. Pilihan menikmati bahasa Jawa digantikan oleh kurikulum berpamrih menjadikan bocah menjadi manusia Indonesia dan manusia global. Bekal paling penting adalah bahasa Indonesia dan bahasa Inggris. Eh, bahasa Inggris semakin penting ketimbang bahasa Indonesia atau bahasa Jawa. Aku saja merasa malu telah kehilangan jalan “pulang” ke bahasa Jawa. Aku malah tak merasa menderita saat tak mau menempuh jalan bahasa Inggris.

Di tiap-tiap halaman, ada perintang sangar: “Apalkanlah!” Aku berhenti sejenak di halaman 27 dan 28. Penulis memberi “informasi” ke bocah mengenai terjemahan istilah dari bahasa Indonesia ke Jawa: baik hati – apik atine, terbawa – katoet, bernafas – ambekan, berdjangkit – noelar… Dulu, bocah bisa menemukan keajaiban terjemahan kata. Barangkali mereka membuat kamus kecil tanpa harus membeli di toko buku. Kini, bocah-bocah tentu tak menggandrungi kamus bahasa Jawa. Aku menduga mereka juga tak terlalu memerlukan kamus bahasa Indonesia. Kamus paling laris pasti kamus bahasa Inggris. Ah!

Buku Lekas dan Gampang menggunakan judul memikat. Isi buku pun tampak merangsang bocah merasakan girang saat sinau. Aku tak pernah sinau dengan buku ini saat bersekolah. Di masa Orde Baru, buku-buku pelajaran bahasa Jawa dan bahasa Indonesia mulai menggunakan judul-judul wagu. Judul malah memberi takut dan menimbulkan rasa sebal. Aduh! Para penulis mungkin mematuhi pemerintah membuat buku-buku demi kecerdasan tanpa mempertimbangan kegirangan. Begitu.

Iklan