Tag

, , , , ,

Bandung Mawardi

Di majalah Intisari edisi 6 Oktober 1967, memuat ajakan: “Kita peringati Hari Kesaktian Pantjasila dengan amalperbuatan Pantjasila. Berlanjut di halaman pengantar redaksi, ada penjelasan singkat berjudul Berdjiarah ke Lobang Buaja. Oh, peringatan dan peziarahan demi Pancasila sudah berlangsung lama, sejak 1967: Orde Baru masih berusia belia. Redaksi tak jemu memberi ajakan: “Sekarang kita suarakan kembali pada UUD ’45 setjara murni dan konsekwen, kita robah mental golongan dan korup. Kita baru sadja melangkah, baru 2 tahun. Dua tahun jang penuh pantjaroba. Pantjaroba kini mereda. Tetapi apakah dengan meredanja pantjaroba, semakin tinggi semangat untuk merobah sikap mental golongan dan korup? Pertanjaan ini sebaiknja didjawab setjara djujur.”

Barangkali Joko Widodo tak membaca Intisari lawas. Ajakan itu sesuai situasi politik mutakhir. Joko Widodo berseru revolusi mental dan pemberantasa korupsi. Joko Widodo juga menghadiri upcara Hari Kesaktian Pancasila bersama SBY, 1 Oktober 2014. Aku tak berambisi menghadiahi Joko Widodo dengan majalah Intisari lawas. Orang-orang sudah sering memberi hadiah ke Joko Widodo. Aku malah ingin mendapat hadiah dari Joko Widodo. Lho! Aku ingin hadiah seribu buku. Orang-orang menulis tentang Joko Widodo, terbit menjadi buku. Puluhan buku bertema Joko Widodo disajikan di toko buku. Aku ingin Joko Widodo memberi hadiah, bukan buku bertema Joko Widodo tapi buku-buku sastra, filsafat, agama, antropologi, agama, pendidikan.. Aku belum mentas dari kemiskinan tapi selalu belanja buku. Utang masih belum lunas saat gairah membaca tak bisa dihentikan. Joko Widodo harus memberi perhatian bagi para pembaca dan penulis bertaraf “kere amoh” alias miskin. Harus!

Di halaman 4-8, kita bisa membaca artikel garapan Siswadi mengenai W.R. Soepratman alias Wage. Ah, panggilan Wage mengesankan ndeso atau kampungan. Wage, nama dari kesadaran kultural orang Jawa. Aku sudah mengoleksi puluhan buku bertema W.R. Soepratman tapi belum mulai menggarap menjadi buku. Eh, apakah penerbitan buku tentang W.R. Soepratman bakal laris? Apakah ada peminat? Bagiku, W.R. Soepratman adalah tokoh tragis berkonteks asmaranisme dan Indonesia.

Intisari 2_1

Aku juga membaca laporan panjang berjudul Tiga Hari Bersama Penjair dan Dramawan W.S. Rendra garapan J. Adisubrata. Deskripsi sosok Rendra: “Tubuhnja langsing semampai. Matanja jang bundar, menjinarkan kesajuan disamping ketadjaman pengamatan. Dibawah hidungnja jang besar, agak melengkung dan memberikan kesan kepribadian penuh enersi, dalam senjum memikat, merekah bibirnja jang sensuil, tipis, seolah-olah siap untuk mentjetjap kemanisan dan kesegaran karunia alam.” Laporan puitis dan genit. Rendra adalah lelaki idaman! Aku pun lelaki idaman! Di mataku ada seribu puisi. Wajahku ibarat tanah subur dan basah. Rambutku ngombak peceren. Aku tak membutuhkan orang untuk memberi pujian. Aku memuji diri sendiri saja. Ha!

Laporan ini bisa menjadi dokumentasi penting jika orang ingin mengenang Rendra. Dulu, aku berjumpa Rendra di Solo: bercakap sejenak. Aku melihat Rendra tua bertubuh besar. Aku takjub melihat Rendra membaca puisi dan bermain dalam pergeleran Kereta Kencana. Aku pun memiliki koleksi buku-buku Rendra. Kematian Rendra aku tanggapi dengan esai kecil berjudul Mempertimbangkan Rendra, dimuat di Suara Merdeka dan dimuat ulang di buku berjudul Rendra Berpulang.

Intisari 3

Di halaman 94, ada iklan sehalaman dari perusahaan Djamu Tjap Portret Njonja Meneer, Semarang, Jawa Tengah. Iklan artistik dan menggoda. Lihatlah, perempuan cantik sedang memegangi daun di pinggir sungai. Oh, bidadari! Iklan jamu bernama Djamu Sorga memberi pesan: Djamu ini membawa kebahagiaan, karena ketjantikan badan njonja selalu tinggal muda, segar dan menarik, berkat tjampuran bahan-bahan pilihan jang terkandung didalamnja.” Njonja? Perempuan dalam iklan sudah bersuami. Apakah pantas aku memberi pujian dan godaan? Ah, aku jadi malu memandangi iklan. Dulu, iklan-iklan jamu ada di pelbagai majalah dan koran. Sekarang, iklan-iklan jamu semakin sering muncul di televisi dengan garapan apik dan kultural. Jamu tentu mengisahkan Jawa dan Indonesia ketimbang obat-obat.

Di Indonesia, siapa sudah menulis buku sejarah jamu? Lelaki gendut bernama Jaya Suprana sudah sering menulis artikel-artikel bertema jamu di koran dan majalah. Aku berharap ada orang Indonesia atau sarjana asing menulis buku bertema jamu. Buku tebal berisi kata, gambar, dan foto. Pemerintah boleh berkontribusi dengan mengeluaran ongkos dan membuat promosi buku jamu. Jamu tak cuma mengingatkan perempuan menggendong tenggok atau depot. Eh, aku ingat depot dan Kirun: acara dagelan di televisi. Di desaku, kaset Kirun sering diputar untuk menghibur para tamu dalam hajatan kelahiran dan pernikahan. Kirun adalah penghibur ampuh meski mulai redup.

Bagiku, Intisari lawas memikat ketimbang Intisari edisi-esidi baru. Majalah dengan usia panjang. Di toko buku, aku rajin memandangi Intisari: membaca sejenak tapi enggan membeli. Aku membeli jika sudah sampai ke pasar loak. Barangkali sudah ada 100-an koleksi majalah Intisari lawas. Sekian edisi aku gunakan untuk menulis esai-esai wagu. Intisari adalah bacaan terlambat. Aku mulai rajin membaca Intisari mulai 1998: terlambat tapi berarti. Begitu.

Iklan