Tag

, , , , , , ,

Bandung Mawardi

Sehari sebelum pelantikan, si lelaki kurus berkata pada para wartawan tentang jamu. Para wartawan mendapat jawaban ganjil: jamu. Mereka menginginkan Joko Widodo memberi jawaban serius dan panjang. Lelaki asal Solo itu memberi jawab jamu sambil memberi tawa dan wajah semringah. Oh, aku mulai mengerti. Jamu menentukan nasib presiden. Lho! Joko Widodo bakal menjalani hari panjang, pagi sampai malam. Upacara di Gedung parlemen sampai menghadiri pesta di Monas. Tubuh harus waras. Jamu tentu mempengaruhi kewarasan. Aku berharap para wartawan menulis bahwa jamu penting bagi presiden dan nasib Indonesia, 2014-2019. Aku belum pernah mendengar berita Joko Widodo tergeletak di rumah sakit. Hari demi hari, tubuh selalu waras. Ampuh!

Aku mesti meniru kebiasaan minum jamu. Di rumah, peristiwa membaca dan menulis bisa menimbulkan kelelahan tubuh dan pikiran. Teh, kopi, air bening tak selalu membuat tubuh trengginas. Aku kadang masih memerlukan minum beras kencur, soda gembira, minuman ringan asal negeri-negeri asing. Tubuh harus waras agar hari demi hari aku menulis esai, resensi, puisi…. Aku memang sediakan Tolak Angin di Bilik Literasi. Apakah jamu menjadi jawaban? Ah, aku masih sulit memikirkan khasiat jamu dan nasibku. Seingatku sejak bocah: jamu itu pahit.

Djampi 1

Ingat jamu, ingat buku lawas. Dulu, Boekhandel Sadoe Boedi menerbitkan buku berjudul Ratjikan Djampi Djawi ingkang Winados (1941) susunan Njonjah van Bloklan di Betawi. Buku tipis, berisi 43 ramuan jamu. Aku mengimajinasikan bahwa buku ini penting bagi orang-orang pada masa 1940-an. Jamu-jamu produksi pabrik memang sudah beredar di pasar tapi orang-orang tetap melanjutkan kebiasaan meracik jamu sendiri. Dulu, aku masih biasa melihat orang-orang di desa meracik jamu untuk ibu-ibu setelah melahirkan. Sekarang, jamu-jamu untuk ibu hamil dan setelah melahirkan sudah berwujud kemasan. Di tokok atau pasar, jamu-jamu mudah didapatkan alias dibeli dengan harga murah.

Aku sajikan kutipan racikan “djampi mewahi mani, moeroegaken kijat dateng dakar, ngindaaken tjahja soemringah”. Aku menduga ini jamu gairah seks. Bahan-bahan: “Djae pandjangipoen kalih ros dridji dipoen ontjeki, brmabang 3 idji, madoe asendok alit, tigan ajam satoenggal kapendet koeningipoen, santen kanil klapa pengaos saksen, lisah klentik sasendok alit, kaoedak roemijin soepados awor, ladjeng kaoedjoek ing wantji endjing ngantos rambah kaping tiga.” Minum jamu membuat diri mencapai kenikmatan dan kepuasaan. Oh! Racikan jamu ini penting bagi kaum lelaki di Indonesia agar tak tergantung dengan obat-obatan aneh dan tergoda iklan di tiang-ting listrik: “… memperpanjang senjata alias alat kelamin.” Konon, sejak masa 1970-an, publik memberi anggapan jamu selalu berurusan seks.

Djampi 2

Aku belum pernah mencoba meracik jamu. Ada racikan “djampi ngeloe oetek garing.” Di Bilik Literasi, aku sering melihat teman-teman “ngeloe” alias “mumet ndhase” alias pusing saat membaca dan menulis. Obrolan saja bisa membuat “ngeloe”. Rosi malah pernah mengatakan “njarem uteke”. Aduh! Mereka miskin dan jelek. Eh, ketambahan “ngeloe”. Aku mesti meracik jamu agar mereka waras. Mereka adalah penentu nasib bangsa dengan tulisan-tulisan wagu. Tubuh mereka tidak boleh lungkrah. Aku bakal sediakan jamu sejimbeng agar peristiwa membaca dan menulis bisa berlangsung setiap hari. Ha! Racikan jamu untuk kaum “ngeloe” alias pusing: “godong samamaki kaboeboek, dipoen wor kalijan gadjih lemboe, kaoedjoeke ing wantji endjing, rambah kaping tiga saras.”

Aku berharap bakal ada terbitan buku berisi racikan jamu untuk sakit goblok, sakit malas, sakit ngantukan, sakit sambat, sakit kere…. Penerbitan buku racikan jamu tentu bersaing dengan iklan-iklan jamu di koran dan majalah. Iklan selalui berisi bujukan agar konsumen mau membeli dan mengonsumsi dengan sukacita. Aku memiliki koleksi iklan-iklan jamu. Sebulan lalu, aku belanja puluhan majalah Intisari edisi 1960-an dan 1970-an. Ada puluhan iklan dari Njonja Meneer dan Djamu Tjap Djago. Aku sengaja mengoleksi iklan-iklan jamu untuk membuat tulisan dan mengenang masa lalu. Sebelum menulis esai jamu, wawancara di Intisari lawas sudah aku kutip untuk tulisan mengenai bendera dan Fatmawati, tampil di Koran Tempo, 15 Oktober 2014. Lega.

Djampi 3

Siapa kolektor buku-buku tentang jamu terlengkap di Indonesia? Apakah bos jamu asal Semarang? Aku mulai mencari dan mengumpulkan pelbagai tulisan dan buku jamu. Bahan-bahan itu tak bakal membuatku mengadakan riset akademik. Aku bukan peneliti. Temanku sering menuduhku sebagai esais sampai mati. Ha! Aku memang memiliki teman-teman peneliti. Aku kagum dan menghormati. Aku cuma ingin menulis esai-esai tentang jamu.

Buku Ratjikan Djampi Djawi ingkang Winados sudah mengalami cetak ulang kelima. Aku menduga buku ini laris. Orang-orang membeli dan membaca. Buku ditaruh di lemari, rak, dan meja. Buku menjadi penting untuk pelbagai keperluan menjaga kewarasan. Jamu pun ada di jagat literasi. Aku masih harus mengumpulkan tulisan-tulisan tentang jamu. Aku pun menulis esai-esai jamu dengan perspektif awam. Jamu tentu tak melulu urusan seks dan iklan. Jamu juga urusan literasi. Eh, jamu juga urusan politik. Joko Widodo saja rajin minum jamu. Aku juga harus minum jamu? Aku berharap Joko Widodo bisa mengingatkan agar orang-orang beralih minum jamu ketimbang minum oplosan. Jamu mempengaruhi kewarasan. Oplosan bisa membuat orang modar. Begitu.

Iklan