Tag

, , , ,

Bandung Mawardi

“… madjalah kita tidak hanja mendukung Pantja Sila, USDEK-MANIPOL dalam arti jang statik, melainkan hendak berusaha untuk setjara positif dan kreatif, kritis dan realistis memberikan sumbangan dalam daja-upaja bangsa kita untuk memperkembangan Pantja Sila, USDEK-MANIPOL..” Kalimat tak utuh dari halaman 2, terbitan majalah bernama Ragi Buana. Majalah dengan slogan mulia: Iman, Ilmu, Revolusi. Edisi pertama terbit 17 Februari 1964. Siapa di Indonesia masih mengoleksi edisi pertama Ragi Buana? Aku membeli dengan harga terjangkau, membaca dengan godaan-godaan mengenang masa lalu.

Dewan Geredja Indonesia (DGI) memberi sambutan untuk kehadiran Ragi Buana: “… ia bermaksud untuk mendjadikan suatu tanda jang berbitjara dari hal tjampur-tangan Tuhan dalam persoalan-persoalan dunia sekarang ini.” Aku disadarkan bahwa Tuhan memiliki peran besar untuk penerbitan majalah, pembuktian misi literasi di dunia. Tafsir naifku: membaca majalah bisa menjadi ibadah. Wah! Komentar lanjutan: “Dengan asuhan menetap dari pihak intelegensia Kristen Indonesia, maka kami jakin bahwa madjalah ini akan disambut oleh dunia Indonesia pada umumnja dengan gembira.” Aku tentu harus memberi saran paling gampang: “Bergembiralah saat membaca majalah! Bergembiralah!”

Ragi 1

Aku jadi ingat kegembiraan membaca majalah-majalah saat SMA. Aku bertemu majalah Indonesia, Sastra, Horison, Tempo, Intisari… Aku membaca edisi-edisi lama. Ambisiku mempelajari sastra, seni, filsafat. Aku tidak memiliki keinginan meningkatkan iman dan takwa dengan membaca majalah-majalah. Sekarang, niatku membaca majalah mengikutkan iman. Lho! Ragi Buana, majalah bermula dan untuk iman. Aku setuju tanpa catatan. Majalah memang berurusan iman. Di halaman 11, aku membaca pengumuman kecil: “Segenap redaksi/tata usaha dan karjawan madjalah Ragi Buana mengutjapkan SELAMAT HARI RAYA IDUL FITRI 1 SJAWAL 1383 H. Semoga tahun ini lebih memberi berkah kepada kita semua.”

Aku kagum dengan tulisan T.B. Simatupang, tentara-intelektual, berjudul Tugas Kristen dalam Revolusi. Aku sudah lama tak menggubris istilah tugas, aku tinggalkan pada masa-masa sekolah dan kuliah. Di majalah Ragi Buana, aku dipertemukan dengan istilah tugas. Penggunaan dalam judul tentu berbeda dengan tugas di sekolah dan kampus. Simatupang menulis: “Siapakah jang memberikan tugas kepada umat Kristen dalam masjarakat kita jang sedang berevolusi ini! Djelaslah bahwa tugas itu diberikan oleh Tuhan.” Aku ingin mengulang kalimat itu berkonteks revolusi mental. Joko Widodo berhak berpidato bahwa Tuhan memberi tugas agar kita melaksanakan revolusi mental. Revolusi bersumber dari firman-firman Tuhan.

Ragi 2

Aku lekas mengerti: iman menentukan revolusi. Redaksi Ragi Buana memerlukan pengutipan pidato Soekarno, sang revolusioner: “Djika engkau dapat menghias sanggul Ibu Pratiwi dengan bunga mawar, engkau dengan bunga teratai, engkau dengan bunga ros, engkau dengan bunga tjempaka, engkau dengan bunga melati, persembahkanlah itu untuk Ibu Pratiwi, sebagai darmabhaktimu terhadap nusa dan bangsa.” Eh, aku diserang ragu dan bimbang. Dulu, Soekarno menamai Ibu Pratiwi. Kini, orang-orang memanggil Ibu Pertiwi. Apakah Pratiwi dan Pertiwi itu satu atau bersaudara?

Ah, aku tak mau mumet memikirkan Pratiwi dan Pertiwi. Aku memilih memikirkan iman. Di halaman 72-75, ada artikel berjudul Iman dan Politik karangan Prof. O. Notohamidjojo, SH. Penjelasan mengesankan: “Kita orang Kristen djanganlah chilaf. Revolusi jang sungguh-sungguh adalah revolusi Kristen. Semua revolusi duniawi adalah reformisme, jang bisa mengubah keadaan sini-sana, tapi tidak mampu mengubah manusia, masjarakat dan dunia setjara radikal dan menjeluruh. Karena apa? Karena revolusi duniawi didasarkan atas manusia lama. Revolusi Kristen didasarkan pada metanonia (tobat, bekering), pada pembaharuan manusia oleh Allah jang Tritunggal.” Majalah Ragi Buana semakin memastikan bahwa revolusi berkaitan dengan iman.

Ragi 3

Dulu, aku masih ragu saat berhadapan tumpukan majalah Ragi Buana. Semula, aku sering membaca dan mengoleksi Intisari lawas. Aku melihat ukuran dan garapan isi Ragi Buana hampir mirip Intisari. Aku memutuskan mulai membaca dan mempelajari Ragi Buana. Di pasar, aku jarang menemukan Ragi Buana. Jumlah koleksi Ragi Buana tentu sulit melebihi koleksi Intisari. Siapa mengoleksi semua edisi Ragi Buana? Aku sengaja ingin mengetahui si kolektor. Aku mengoleksi dengan imbuhan misi: mempelajari “Lembaran Sastra Budaja” di Ragi Buana. Aku berharap kelak bisa membuat tulisan mengenai sastra Kristen: mengikuti jejak Romo Mangun dan Dick Hartoko.

Redaksi majalah Ragi Buana tak ingin melulu dianggap majalah khusus bagi pembaca Kristen. Di halaman “Surat Perkenalan” memuat keterangan: “Revolusi itu jang hendak kita tindjau dalam halaman madjalah ini dengan berpedoman kepada sembojan kerdja kita: Islam, Kristen, Budha-Hindu, Marxisme, Nasionalisme, Marhaenisme, aliran-aliran mistik, adat istiadat, pengaruh dari modernisasi jang bergerak terus ketaraf-taraf jang lebih landjut diseluruh dunia…” Misi ambsius untuk mempertanggungjawabkan majalah sebagai ejawantah revolusi. Aku mengimajinasikan istilah revolusi di masa 1960-an tampak agung dan megah. Kini, kemegahan dan keagungan itu berulang, berpusat ke lelaki kurus asal Solo. Begitu.

Iklan