Tag

, , , ,

Bandung Mawardi

Puluhan tahun silam, aku rajin mengikuti pengajian-pengajian. Aku pun sering menjadi mubaligh untuk pengajian. Sejak bocah, aku mengikuti TPA dan diajukan ke lomba-lomba keagamaan. Aku sering mendapat juara untuk lomba khotbah. Kisah berlanjut dengan permintaan pengurus masjid dan umat agar aku mengisi pengajian-pengajian. Di masjid dan rumah, aku tampil sebagai pengkhotbah meski belum memiliki pengetahuan mendalam tentang agama.

Kebiasaan berkhotbah mengingatkanku dengan ungkapan andalan dalam kalimat-kalimat pembukaan. Ungkapan klise tapi pantas diingat sebagai kenangan: “nikmat sehat dan nikmat sempat”. Wah, dua ungkapan apik! Sehat itu penting. Apakah aku selalu sehat? Sejak bocah, aku sering terkena darah rendah. Aku juga memiliki panu. Boroken dan wudunen adalah kelaziman bocah di desa. Mencret? Harapan untuk sehat selalu ada jika berdoa dan berikhtiar. Aku harus melantunkan lagu lawas: Aku anak sehat, tubuhku kuat/ Karena ibuku rajin dan cermat….

Sehat 1

Kenangan bergerak ke buku berjudul Dari Hal Mentjari Kesehatan (1950) karangan Prof. Dr. Sardjito dan R. Ahmad Wongsosewojo, terbitan Balai Pustaka, Jakarta. Orang-orang biasa mengetahui Sardjito adalah nama rumah sakit. Barangkali impian untuk terkenal adalah menamai rumah sakit dengan nama tokoh: Tjipto Mangoenkoesoemo, Sardjito, Moewardi, Oen… Mengapa nama-nama rumah sakit di Indonesia adalah nama-nama dokter? Ah, aku tak tahu. Apakah pantas rumah sakit bernama Chairil Anwar? Aku ingin usul agar nama rumah sakit menggunakan nama pasien. Chairil Anwar adalah pasien kondang dengan detik-detik akhir dramatis. Aku pernah membaca episode akhir Chairil Anwar dalam buku Nasjah Jamin. Aku sedih dan terharu.

Di halaman 3, dimuat nasihat bijak: “Segala orang jang hidup, tentu tidak dapat dibantah lagi, mentjari kesenangan hidupnja. Kita sendiripun begitu djuga. Adapun pokok jang terutama buat kesenangan hidup itu tidak lain, melainkan kesehatan djugalah. Kalau badan kita sehat, kita dapat bekerja, dan berichtiar ini dan itu, buat mentjapai kemauan kita. Orang jang sehat, kalau ia mempunjai nafsu berdagang, dapat berdagang. Jang pandai menggambar, kalau sehat badannja, dapat menggambar, dan beladjar terus sampai djadi tukang gambar jang masjhur. Setidak-tidaknja kalau orang sehat, dapat bekerdja apa sadja buat mentjari nafkahnja, wang kehidupan, sehari-hari.” Nasihat bisa dituruti atau dibaca sekali saja.

Sehat 2

Aku memang selalu ingin sehat. Konon, kesehatan bisa membuat hidup menjadi terang dan bahagia. Orang miskin berhak sehat. Orang berduit belum tentu sanggup selalu sehat. Di Indonesia, para pejabat dan kaum berduit sering berurusan dengan rumah sakit. Para koruptor di penjara pun bersedih akibat menanggung sakit, berharap dirawat di rumah sakit dan sembuh. Hukuman penjara bertambah dengan siksa sakit. Tuhan, berilah kesehatan agar aku bisa beribadah literasi sepanjang hidupku. Amin.

Buku kesehatan mengikutkan cerita dari Jakarta. Aku pernah ke Jakarta. Kota bersejarah tapi mengandung cerita-cerita sedih mengenai sakit. Sejarah sengsara dan kematian terus berlangsung di Jakarta, sejak ratusan tahun silam. Di buku, ada pengisahan: “Di Djakarta ada djuga perkara jang amat sulit. Kampung-kampung dekat empang-empang itu semua didjangkiti penjakit malaria. Penduduknja banjak jang sakit. Akan tetapi segala empang-empang itu tidak dapat dikeringkan, sebab ongkosnja akan sampai berdjuta-djuta rupiah. Itupun pemerintah tidak kurang ichtiarnja dan dokter-dokter malaria senantiasa berdaja upaja, supaja penjakit itu dapat dilenjapkan.” Ah, aku tak tega untuk menjuluki Jakarta sebagai “kota malaria”. Bagiku, Jakarta adalah kota megah, besar, terkenal, ramai, dan fantastis.

Sehat 3

Sardjito dan R. Ahmad Wongsosewojo memberi uraian tentang pes. Aku lekas teringat novel Albert Camus berjudul Sampar, hasil terjemahan Nh. Dini. Dulu, aku membaca novel dengan imajinasi kengerian. Novel berkisah kematian, detik demi detik. Kota menjadi neraka. Tokoh dokter dalam Sampar mengesankan pertaruhan hidup dan mati. Sampar tentu tak cuma novel. Aku menganggap Camus sedang berfilsafat. Oh, aku mengerti bahwa belajar kesehatan bisa bermula dari novel-novel. Bacalah novel untuk menjadi sehat! Nasihat bijak dan bermutu.

Penjelasan tentang pes: “Sebetulnja penjakit itu penjakit tikus. Dari seekor tikus dapat pindah ke tikus jang lain. Adapun jang memindahkan jaitu kutu tikus itu sendiri. Orang tahu, bahwa dibadan tikus itu ada kutunja. Kutu itu mengisap darah dari badan tikus tadi. Kalau dalam darah itu ada penjakitnja, maka penjakit itu masuk djuga kebadan kutu. Djika kutu itu melompat ke tikus lain, dan ia menggigit dia akan mengisap darahnja, maka penjakit tadi terus masuk kedalam badannja, dan tikus itu turut djadi sakit djuga.” Aduh! Aku merasa takut dengan ungkapan “mengisap darah”. Hi, takut! Tikus itu pes. Aku anggap mengerikan dan mengerikan.

Buku-buku kesehatan pantas menjadi koleksi di Bilik Literasi. Aku sudah mulai membeli dan mempelajari buku-buku mengenai kesehatan, sejak masa kolonial. Aku berharapan bisa membuat tulisan-tulisan untuk “mengimajinasikan” Indonesia saat bergerak bersama nalar-nalar kesehatan modern. Ilmu kedokteran dan kesehatan asal Eropa dan Amerika mempengaruhi perubahan kaum pribumi mengurusi badan. Kemunculan dokter, rumah sakit, dan obat tentu turut mendefinisikan Indonesia, sejak masa penjajahan sampai sekarang. Ah, ikhtiar menulis “sejarah” dari buku-buku kesehatan tentu wagu. Begitu.

Iklan