Tag

, , , , ,

Bandung Mawardi

Di Indonesia, penggunaan istilah “baru” sering mengandung pengertian politis, estetis, dan kultural. Dulu, Sutan Takdir Alisjahbana dan konco-konco mengumumkan Poedjangga Baroe, masa 1930-an. Hari-hari menjelang proklamasi, kaum muda revolusioner membuat Gerakan Angkatan Baroe Indonesia. Setelah kekuasaan Soekarno dirampungkan dengan pelbagai misteri, Soeharto mengumumkan pemberlakuan Orde Baru. Ah, “baru” adalah istilah terlalu berisiko untuk mengerti Indonesia. Siapa berani membunuh istilah “baru”? Aku berharap orang tak terlalu memuja “baru” dan menistakan “lama”.

Aku mengingat buku lama berjudul Batjaan Angkatan Baru susunan M.R. Dajoh, Djajaatmadja, dan konco-konco. Buku diterbitkan oleh Gunung Agung, Jakarta, 1952. Buku ini bacaan bagi murid di sekolah lanjutan tingkat pertama dan atas. Buku lama tapi memiliki judul menggunakan istilah “baru”. Barangkali buku ini memang baru untuk pembaca di masa 1950-an. Sekarang, aku membaca sebagai buku lama. Oh! Aku tetap berkeputusan membaca agar mengerti sensasi baru melalui buku bacaan di sekolah.

Baru 1

Buku memuat puisi, artikel, berita, dan esai bersumber dari pelbagai koran, majalah, dan buku. Di halaman 14, dihadirkan puisi berjudul Bunga Djelita gubahan G.S. Lalanang, diambil dari majalah Poedjangga Baroe, 1936.

Kepak dibabar terbang mengawan

Hilang lenjap dihati terpaku

Sukma bernjanji mendaju-raju

Kalau bersaja ‘kan dituruskan

Mendjadi kawan penawar pilu

Beta ditinggal merindu-sendu

Aku sangsi puisi gubahan Lalanang pantas dianggap puisi “baru” dalam perkembangan kesusastraan Indonesia. Puisi asmara tak elok. Aku malah menganggap puisi itu bisa jadi lirik lagu cengeng. Aku bakal mendengar sambil bersandar di cagak rumah. Lagu dinikmati dengan minum segelas teh dan gorengan. Di luar, hujan rintik-rintik.

Batjaan Angkatan Baru dimaksudkan memberi rangsangan informasi, ide, dan imajinasi bagi murid. Aku tentu mengandaikan diri sebagai murid, berusia belasan tahun. Murid naif tapi mendapat bacaan bermutu dan menggoda. Aku memberi mata untuk membaca artikel berjudul Paberik Korek Api, halaman 38-43. Aku memiliki bundel lembaran dari negara mengenai merek-merek di Indonesia. Aku membaca ada informasi bahwa korek api berwadah warna biru telah terdaftar resmi di Indonesia sejak 1947. Korek api itu terkenal sepanjang masa. Di toko, dapur, kantong, aku masih sering melihat korek api berwadah warna biru.

Baru 2

Kapan korek api datang ke Indonesia? Aku tak bisa menjawab. Aku cuma bisa mengutip informasi: “Dimasa pendudukan Djepang dan kemudian sesudah proklamasi sudah banjak jang mentjoba membuat korek api dengan bahan dan alat-alat jang ada, tapi belum pernah orang berhasil menjamai atau mendekati sekalipun buatan luar negeri. Tjara membuat batang-batang sampai kepada membikin kotak-kotak, apalagi obat-obatnja, sudah berlainan.”

Kapan korek api buatan luar negeri mulai beredar di Indonesia? Aduh, aku tetap tak bisa menjawab. Aku beri kutipan saja: “… pemakaian korek api di Indonesia telah mentjapai puntjaknja pada tahun 1913, kemudia ia merosot mendjelang perang pertama dan kedua.” Wah, korek api penting bagi orang-orang Indonesia. Korek api berkaitan urusan memasak, merokok, membakar sampah… Ada informasi lanjutan: “Adapun menurut ahli-ahli sebab merosotnja pemakaian korek api di Indonesia dulu antara lain karena bertambahnja banjak orang menggunakan geretan batu api dan madjunja industri geretan batu api itu, baik jang memakai bensin sebagai bahan penjala, maupun lawe (benang sumbu).” Geretan itu mengingatkanku dengan bapak, pakde, dan kaum tua di desaku. Korek api dan geretan mengisahkan keluarga, kehidupan desa, usaha perdagangan, pergaulan, dan Indonesia. Sangar!

Baru 3

Aku juga perlu membaca artikel berjudul Semangat Kerja. Sejak 20 Oktober 2014, penggunaan istilah kerja berlimpah di Indonesia. Para wartawan, pejabat, penulis, rektor, tukang becak, sopir, guru…. mulai fasih mengucap istilah kerja. Joko Widodo menjadi pemicu pelipatgandaan mantra kerja. Di koran-koran, aku sering menemukan istilah kerja digunakan di berita dan artikel. Di televisi, para menteri disorot kamera sedang membuat kerja. Kerja telah menimbulkan kecanduan kolosal. Wah! Aku kadang merasa bimbang dengan mantra “kerja, kerja, kerja”.

Aku menemukan kutipan apik di alinea awal: “Kerdja adalah sutji. Demikian selalu dikatakan orang. Kerdja adalah ibadat. Orang jang bekerdja jang mendjalankan sesuatu jang berguna untuk orang lain, untuk masjarakat. Dan gunanja itu sekarang mempunjai arti jang sangat djauh dari pada orang duga.” Indonesia sedang bekerja. Para pejabat jika disorot wartawan menampilkan diri sedang bekerja. Orang-orang mulai menganggap istilah “kerja” mirip slogan. Barangklai para ahli bahasa harus mulai membenahi kamus bahasa untuk menghadirkan pengertian-pengertian baru tentang kerja. Idih, pengertian baru? Aku mulai ditulari istilah “baru”. Malu!

Pengalaman membaca buku-buku lawas bisa menuntun pembaca ke situasi zaman silam. Aku merasa judul buku bisa mengajak murid-murid semakin mengerti Indonesia dan dunia. Di masa 1950-an, mereka sudah mendapat bacaan ampuh. Mereka bisa menjadi “manusia baru”. Buku memang bacaan tapi memungkinkan kemunculan kehendak mengalami zaman dengan pelbagai hal bercap baru. Begitu.

Iklan