Tag

, , , , , ,

Bandung Mawardi

Aku selalu ingin mengengang Soempah Pemoeda dengan esai-esai, dari tahun ke tahun. Barangkali sudah ada 20-an esai bertema Soempah Pemoeda. Aku bakal menerbitkan sebagai buku kecil dan wagu. Peringatan Soempah Pemoeda tahun 2014  masih dengan esai. Aku persembahkan tiga esai di Tempo, Solopos, dan Koran Sindo. Aku merasa lega mendapat ruang untuk mengenang Soempah Pemoeda. Tiga esai digenapi dengan dolan ke kampus IKIP PGRI di Kediri, 28 Oktober 2014. Aku berkhotbah dan berbagi buku dengan 200-an orang. Perjalanan dengan bis Solo- Kediri 6 jam. Jatah untuk khotbah 3 jam. Pulang naik bis, 6 jam. Di bis, aku bisa merampungkan buku Melunasi Janji Kemerdekaan dan hampir selesai novel Dunia Anna.

Aku tak ingin membuat memori sendiri tentang Soempah Pemoeda. Aku merasa berkepentingan memiliki memori bersama Soekarno. 28 Oktober 1959, Soekarno memberi pidato Soempah Pemoeda di Surabaya. Pidato itu diterbitkan oleh Departemen Penerangan Republik Indonesia berjudul Amanat Presiden Soekarno Pada Peringatan Hari Sumpah Pemuda Tanggal 28 Oktober 1959 di Surabaja. Buku Cuma berketebalan 24 halaman. Tampilan sederhana tapi penting sebagai bacaan agar eling sejarah. Eling? Istilah ini mulai klise saat diucapkan menggunakan referensi Ranggawarsita. Aku masih belum mengerti utuh makna eling meski pernah menggarap buku berisi tulisan teman-teman berjudul Eling lan Meling. Buku untuk mendokumentasi Kongres Ki Hadjar Dewantara di Bilik Literasi, dua tahun lalu.

Buku 1

Pembukaan pidato, alinea kedua: “Peringatan Hari Sumpah Pemuda pada ini malam sebagai saudara-saudara sekalian melihat, dihadiri oleh menteri-menteri daripada Kabinet Kerdja, tidak kurang daripada 20 menteri, dihadiri oleh tidak kurang dari 17 anggauta Dewan Pertimbangan Agung, dihadiri oleh wakil-wakil negara sahabat… Tetapi njata Sumpah Pemuda pada ini malam diperingati setjara chidmat dan besar-besaran.” Oh, peringatan tentu heboh. Soekarno berhasil membuat teater bersejarah bernama kejadian peringatan. Kemarin, 29 Oktober 2014, aku tak menemukan ada peringatan kolosal untuk Soempah Pemoeda dengan kehadiran presiden dan para menteri di Kabinet Kerja. Oh, nama kabinet Soekarno dan Joko Widodo sama!

Pidato Soekarno itu heroik, membuat orang-orang takjub. Tubuh dan suara Soekarno memang menjadi penentu Indonesia saat berpidato. Soekarno menceritakan Gadjah Mada agar nuansa sejarah Soempah Pemoeda semakin mengesankan: “Engkau, hai pemuda dan pemudi, mengenal misalnja sumpah Gadjah Mada. Tatakala Sang Maha Patih Gadjah Mada bersumpah tidak akan berhenti, tidak akan mengambil istirahat sebelum seluruh kepulauan Indonesia ini mendjadi satu negara jang kuat. Tidakkah sumpah Gadjah Mada ini pada inti dan heakekatnja adalah satu rupa dengan apa jang diutjapkan oleh pemuda-pemudi Indonesia pada tanggal 28 Oktober 1928?” Aku menduga Soekarno menggampangkan membuat persamaan. Dua sumpah itu pasti berbeda. Aku menghormati Soekarno tapi sulit menerima penjelasan tentang dua sumpah. Apakah Soekarno tergoda mempersamakan berbekal penggunaan istilah sumpah?

Buku 2

Aku mulai terkejut saat Soekarno mengucap nama Semaoen. Selama puluhan tahun, aku tak menemukan esai-esai bertema Soempah Pemoeda menghadirkan nama atau gagasan Semaoen. Apakah orang-orang sudah melupakan Semaoen? Aku menduga orang-orang selalu mengaitkan Semoaen dengan PKI. Di kalangan penulis dan pembaca sastra, aku juga jarang mendapatkan obrolan hangat mengenai Semaoen sebagai pengarang Hikajat Kadiroen. Di sekolah dan universitas, novel Indonesia selalu bermula dari Sitti Nurbaja, Azab dan Sengsara, Salah Asoehan… Sejarah sastra tak diakui bermula dari Mata Gelap, Student Hidjo, atau Hikajat Kadiroen.

Soekarno berkata: “Tatkala Bapak Semaoen dari Partai Komunis Indonesia djuga mengatakan bahwa bangsa Indonesia dari Sabang sampai Merauke adalah satu bangsa, tidakkan apa jang mereka katakan itu sama serupa dengan isi Sumpah Pemuda? Aduh, Soekarno menggampangkan lagi dalam menafsirkan sejarah. Aku tak bisa melihat sambutan orang-orang saat mendengar buaian tafsir sejarah Soekarno. Mereka tentu manut dan mengangguk meski tak bertepuk tangan.

Buku 3

Sumpah Pemuda dijadikan Soekarno memebesarkan gagasan sosialisme, revolusi, Manifesto Politik….  Soekarno berpidato pasti menimbulkan akibat-akibat mencengangkan. Masa 1950-an, Soekarno menjadikan Indonesia mengalamai “zaman pidato”. Hari demi hari berisi pidato. Aku patut menduga bahwa produksi buku dari pidato presiden paling berlimpah pada masa pemerintahan Soekarno. Kini, aku ragu jika ada institusi pemerintah mau mengurusi penerbitan pidato-pidato Joko Widodo. Lelaki kurus asal Solo tak fasih berpidato. Aku masih ingat isi pidato pendek saat di gedung parlemen, 20 Oktober 2014. Isi pidato berisi kutipan dan sambungan pemikiran Soekarno. Dulu, Soekarno menggunakan sebutan “djuru-mudi”. Kini, Joko Widodo menjuluki diri sebagai nakhoda. Aku cuma tahu pidato itu diterbitkan di Media Indonesia dan Suara Merdeka. Aku ingin agar ada penerbitan buku berisi pidato-pidato Joko Widodo agar pulik berhak mempelajari bahasa dan pemikiran sang presiden.

Seruan Soekarno: “Maka dengan peringatan sekarang ini saja menghendaki agar supaja kita sekalian terutama sekali pemimpin-pemimpin kita menanamkan didalam dada kita retooling, agar supaja kita mengikuti desiderata daripada hal-hal ini dengan ketjepatan jang setjepat-tjepatnja. Kenapa kita tidak boleh lenggang-kangkung? Kenapa kita tidak boleh Senen-Kemis? Kenapa kita tidak boleh seenak-enaknja sadja?” Seruan Soekarno mulai diucapkan kembali oleh lelaki dengan kegandrungan berbaju putih dan batik. Begitu.

Iklan