Tag

, , , ,

Bandung Mawardi

10 November 1951, Soekarno menulis dua kalimat bertanda seru: “Djadikanlah Hari Pahlawan ini hari untuk membaharui semangat kepahlawanan dilapangan pembangunan! Pahlawan sedjati berbakti dengan bukti!” Aku mengerti pesan Soekarno. Aku pun mengingat dua kata penting: “bakti” dan “bukti”. Dua kata ini laris digunakan di iklan-iklan. Apakah para pemesan dan pembuat iklan pernah mempelajari tulisan-tulisan Soekarno? Mereka mencomot untuk misi bisnis dan berlagak memberi “santunan” ke publik melalui seni, pendidikan, olahraga, kesehatan… Aku menganggap kata dan kalimat garapan Soekarno adalah pemikiran dan pesan ketimbang “iklan”.

Seingatku, pahlawan juga mulai digunakan dalam iklan-iklan. Kehadiran iklan di koran, majalah, televisi berdalih turut memperingati Hari Pahlawan. Iklan mengajak orang belanja dan memberi pujian untuk …. Ah! Aku tak bisa melarang iklan. Aku cuma bisa menulis esai-esai wagu. 9 dan 10 November 2014, dua esaiku tentang pahlawan tampil di Koran Tempo dan Jawa Pos. Aku tak mengikuti upacara atau ziarah ke makam pahlawan. Aku malah berupacara kata dan menziarahi buku-buku lawas.

Pahlawan 1

Soekarno berpidato di muka corong radio di Surabaya, 10 November 1951. Pidato itu dibukukan dengan judul Dari Pahlawan Revolusi Djadilah Pahlawan Pembangunan, terbitan Kementerian Penerangan Republik Indonesia, 1951. Di bagian awal, Soekarno berkata: “Bangsa jang djiwanja bukan djiwa pahlawan, bangsa jang djiwanja berukuran ketjil, bangsa jang demikian itu tidak dapat mendjadi bangsa jang besar, meski barangkali djumlah rakjatnja adalah besar dan daerah kediamannja adalah luas.” Soekarno ingin Indonesia memiliki pahlawan-pahlawan tangguh, bukti kemauan Indonesia menjadi bangsa besar. Pembuatan hari peringatan, upacara, pemberian gelar pahlawan, pidato sangat dianjurkan oleh Soekarno demi memajukan Indonesia. Peringatan terus berlangsung sampai sekarang. Aku ikut memperingati dengan esai-esai setiap tahun.

Siapa pahlawan? Soekarno memberi jawaban: “Pahlawan adalah orang jang, dengan membelakangkan kepentingan sendiri, membela kepentingan umum. Berdjoang untuk kepentingan umum, bekerdja untuk kepentingan umum, menderita untuk kepentingan umum, kalau perlu mati untuk kepentingan umum. Itulah isi djiwa pahlawan.” Penjelasan ini berbeda dengan kamus-kamus. Aku juga tak mendapat penjelasan ini ada di peraturan-peraturan pengangkatan pahlawan.

Pahlawan 2

Penjelasan-penjelasan awal mengenai pahlawan dan pembuatan hari pahlawan sangat aku perlukan agar aku tak bida dibodohi ocehan para pejabat dan artis. Mereka berlagak paling mengerti tentang pahlawan. Di televisi, mereka membuat komentar-komentar klise dan tak bermakna. Kasihan! Aku membaca buku-buku lawas dengan maksud mengerti dan mengerti meski bukan sejarawan.

Perkataan Soekarno patut direnungkan: “Apa sebab kita menamakan 10 November Hari Pahlawan? Oleh karena 10 November 1945 budi pekerti jang demikian itulah berseri-seri menerangi bumi dan angkasa Indonesia. Kita memuliakan Hari Pahlawan itu tiap-tiap 10 November tiap-tiap tahun agar supaja budi pekerti jang demikian itulah tetap berseri-seri didada kita. Bukan sekadar oleh karena pada 10 November 1945 rakjat Indonesia membuktikan berani bertempur, maka 10 November kita namakan Hari Pahlawan…? Owalah, pahlawan bermula dari budi pekerti, tak cuma cerita tentang perang, darah, kematian, airmata…  Aku berharap tahun depan bisa menggarap esai mengenai pahlawan dan budi pekerti. Aku tentu tak memakai buku pelajaran, berisi kalimat: “ini budi… ini budi pekerti… ini budi pekerti pahlawan.”

Pahlawan 3

Berapa menit Soekarno berpidato? Buku berketebalan 32 halaman. Berapa telinga mendengar pidato Soekarno? Berapa orang mengingat dan mencatat omongan-omongan Soekarno. Eh, aku jadi ingat film Soekarno. Aku menonton saat malam, di samping rumah sedang memutar lagu dangdut dengan suara keras. Aku tetap meonton Soekarno dengan iringan lagu dangdut. Ada adegan-adegan Soekarno berpidato. Orang-orang bertepuk tangan. Aku paling terharu saat melihat Inggit “mengikhlaskan” Soekarno. Di ujung film, aku melihat Inggit mulai menua dan melihat orang-orang mengibarkan bendera merah putih: Indonesia telah merdeka. Inggit sudah mengantar Soekarno meski saat proklamasi Soekarno didampingi Fatmawati.

Pidato radio Soekarno mengandung pesan agar orang-orang tak “mabok-merdeka” dan “mabok-politik”. Soekarno berkata: “Alangkah lebih besarnja hasil kemerdekaan kita itu, kalau umpamanja kita semua radjin bekerdja! Radjin ikut berusaha, radjin ikut memeras keringat, radjin ikut menjumbang. Radjin ikut menjumbang kepada kemerdekaan, dan tidak hanja selalu meminta dan menuntut dari kemerdekaan.” Sekarang, penjelasan Soekarno dilipatgandakan pemaknaan dan bukti oleh Joko Widodo. Berindonesia itu bekerja. Sangar!

Soekarno pandai berpidato. Aku merasa beruntung Soekarno tak menjadi “tukang iklan”, “tukang motivator”, dan “tukang dakwah” seperti orang-orang parlente di televisi, hotel, dan kampus. Bahasa dalam pidato membuktikan Soekarno memiliki kemauan menggerakkan jutaan orang untuk berbuat alias bekerja. Bahasa tak digunakan untuk “pembohongan” dan “menjerumuskan” dengan ketentuan membeli tiket seminar, membeli buku motivasi, atau berseragam saat ikut pengajian. Buku mengenai pahlawan dari Soekarno melegakan diriku saat turut memperingati Hari Pahlawan. Aku tak mau cuma melihat acara-acara hiburan tak keruan dan berita klise di  televisi berdalih menghormati pahlawan. Begitu.

Iklan