Tag

, , , , , , ,

Bandung Mawardi

14 November 2014, aku dan Mil bergerak ke Jogjakarta naik sepeda motor. Sore itu gerimis. Dingin dan puitis. Aku melihat situasi jalan terlalu ramai berbeda dengan langit. Di perjalanan, aku menahan dingin. Gerimis itu memberiku ajakan untuk melamun: diri, buku, lagu, puisi… Aku dan Mil memutuskan mampir dulu ke dua toko buku. Uang di kantong, hasil dari utang, dibelanjakan dengan tatapan mata bernafsu dan tangan memegang mesra. Buku mengenai air mata, laut, Romawi, teologi masuk dalam kresek. Berpindah ke toko berbeda. Mataku lekas memandang rak buku sejarah dan sastra. 7 buku berhasil dibeli.

Penjemput datang. Kami bergerak ke Sleman. Di kantor kelurahan, GMNI Jogjakarta membuat acara sinau. Aku berharap bakal bertemu dengan orang bergairah bicara. Di ruang, kaum lelaki tampk minum kopi dan merokok. Aku diajak masuk ke kamar. Segelas kopi dan sepiring makanan: penebus dingin dan lelah. Jatahku ngoceh pukul 7. Ah, usai gerimis waktu bergerak lambat. Aku pun memutuskan untuk memulai obrolan setengah tujuh. Aku berkata: “Kita tak usuh menunggu pukul tujuh untuk sesuai dengan jadwal di lembaran kertas.

Marhaen 1

Di dinding, kain terbentang memuat logo dan tulisan  GMNI. Aku juga melihat ada gambar Soekarno. Teman-teman memberi pekik merdeka, berlanjut pekik marhaen. Aku diam dan merasa sendu. Lho! Eh, aku tak ingin terus bercerita tentang acara di balai desa berisi 25 orang. Aku tak harus terus mengingat nama, omongan, tempat… Aku mendingan mengingat buku tipis berjudul Nasakom Djiwaku – Singkirkan Nasakom Palsu!, terbitan Departemen Penerangan Republik Indonesia, 1965. Buku berisi amanat Soekarno dalam rapat raksasa “Marhaen Menang”: ulang tahun ke-38 Partai Nasional Indonesia/Marhaen. Acara diselenggarakan di Stadion Utama Gelora Bung Karno, Jakarta, 25 Juli 1965.

Pidato dimulai dengan tanggapan situasi politik: “Bukan main, bukan main gegap-gempitanja rakjat. Orang jang tidak mengerti dikira ini adalah djor-djoran. Mengerti djor-djoran? Lomba-lombaan, antara PKI dan PNI. Orang jang tidak mengerti dikiranja djor-djoran. Tapi, saudara-saudara, umpamapun djor-djoran, umpama pun lomba-lombaan, saja tidak keberatan, asal djor-djoran mendjalankan Manipol/Usdek, djor-djoran mendjalankan Trisakti, djor-djoran mendjalankan azimat-lima daripada Bung Karno.” Aku sudah lama tak mendengar kaum politik mengucap “djor-djoran” untuk menjelaskan ketidakberesan orang-orang di DPR.

Marhaen 2

Soekarno adalah orang sakti dalam urusan bahasa dan memikat jutaan mata-telinga. Aku tak pernah bertemu Soekarno atau memasang foto Soekarno di dinding rumah. Aku mencukupkan dengan membaca dan mengoleksi puluhan buku Soekarno atau buku mengenai Soekarno. Bagiku, Soekarno adalah buku atau bacaan. Soekarno itu ide. Weh! Soekarno juga mitos. Eh, sebutan ini tak perlu penjelasan panjang.

Di kantor kelurahan, aku mulai mendongeng tentang merdeka, Soekarno, marhaen… Orang-orang memandang sambil makan, minum, merokok. Di luar, udara dingin. Aku tak lagi mendapat kopi. Tugasku adalah bicara. Bicara! Aku perlahan mengajak teman-teman mengenang masa silam. Eh, mereka sungkan dan sulit bergerak  mundur. Aku tak ragu. Aku mesti memberi keterangan-keterangan agar hidup mereka atau kesibukan mereka di GMNI tak sia-sia. Oh!

Dulu, Soekarno bergairah mengucap seruan persatuan demi Indonesia. Di buku, aku temukan alinea keren: “Lha, ini saudara-saudara, jang sebenarnja membikin bentjana kepada pergerakan kita, jaitu paham, kepertjaan, bahwa dengan minta-minta kepada pihak Belanda, kita bisa mendapat pemerintahan Indonesia sendiri. Disitulah, saudara-saudara, maka saja lantas memberi penerangan kepada rakjat.” Soekarno mengajak rakjat untuk merebut  kemerdekaan. Rebut! Aku enggan menganggal kalimat itu klise.

Marhaen 3

Metafora Soekarno sering berlebihan tapi memberi penguatan iman gerakan kebangsaan. Soekarno menggunakan metafora-metafora mengacu ke laut. Aku pantas mengutip: “Nah, kalau kita menggabungkan tenaga-tenaga ini mendjadi satu gelombang jang maha sakti, – saja ulangi, ja proletar, ja tani, ja buruh lain-lain, ja nelajan, ja kusir, ja pegawai, ja pedagang, dan lain-lain sebagainja, ketjil-ketjil bukan?  Kalau bisa kita persatukan…”

Indonesia menjadi negeri pidato disebabkan Soekarno. Ratusan pidato Soekarno mencipta “sejarah” di Indonesi. Orang-orang mulai berpedoman pidato. Pelbagai peristiwa disampaikan oleh Soekarno melalui pidato demi martabat Indonesia. Soekarno pernah memberi seruan konfrontasi dengan negeri jiran. Sejarah mencatat episode konfrontasi Indonesia-Malaysia. Soekarno berkata: “He, engkau anggota PNI/Marhaenis, adakah diantara engkau jang masih ragu-ragu didalam perdjoangan konfrontasi ini? Aku bertanja kepada semua anggota PKI, adakah anggota PKI jang ragu-ragu tentang hal ini? Tidak. Umat Katolik, tidak. Protestan, tidak. Muhammadijah, tidak. Nadlatul Ulama, tidak. Seluruh rakjat Indonesia, bertekad bulat untuk meneruskan konfrontasi terhadap Malaysia ini, sampai Malaysia hantjur-lebur daripada muka bumi. E, dikira bangsa Indonesia ini bangsa tempe.”

 Aku selalu kaget dan penasaran dengan tata bahasa Soekarno dalam pidato. Aku ingin ada orang melakukan penelitian tentang pesona dan pengaruh Soekarno, bermula dari tata bahasa ke pengisahan Indonesia. Aku cuma pembaca saja dan pengutip dari pidato-pidato. Begitu.

Iklan